Nasional /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 19/11/2023 18:00 WIB

Negeri Muslim Konsern Pada Konflik Palestina-Israel, Solusi Pasti Segera Terbukti

gaza
gaza

Sabda Rasulullah ﷺ , “Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim lainnya, janganlah ia menganiaya saudaranya itu, jangan pula menyerahkannya – kepada musuh. Barang siapa memberikan pertolongan pada hajat saudaranya, Allah selalu memberikan pertolongan pada hajat orang itu. Dan barang siapa melapangkan kepada seseorang muslim akan satu kesusahannya, Allah akan melapangkan untuknya satu kesusahan dari sekian banyak kesusahan pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menutupi cela seseorang muslim, Allah akan menutupi celanya pada hari kiamat.” (Muttafaq‘alaih).

 

Palestina masih membara. Serangan udara Israel yang menghantam sebuah rumah sakit yang dipenuhi pasien dan pengungsi di kota Gaza, Selasa (17/10/2023), menewaskan sedikitnya 500 warga Palestina. Gempuran ini merupakan insiden tunggal yang menelan korban paling banyak di Gaza sejak perang Hamas-Israel meletus, menyusul serangan Hamas ke Israel selatan, 7 Oktober 2023.

 

Benar, serangan Israel telah membunuh ribuan nyawa tak berdosa. Seakan kalap, bagai teroris kriminal radikal biadab, Israel membabi buta menghabisi banyak raga tanpa punya rasa iba. Israel telah menghancurkan rumah penduduk, masjid, hingga rumah sakit. Mereka  memblokade total aliran listrik, makanan, dan kebutuhan obat-obatan sampai tidak ada lagi tempat aman bagi rakyat Palestina untuk melindungi hidupnya.

 

Seganas itu perilaku Israel, tetaplah tuduhan keji bergulir waktu demi waktu. Pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tentang negaranya yang sedang  melawan militan Hamas yang menguasai jalur Gaza, didukung pula oleh  media Barat  dengan tuduhan kotor dan kecaman atas serangan Hamas ke Israel yang dianggap tidak manusiawi. Padahal secara faktual, serangan Palestina ke Israel adalah balasan atas pendudukan Israel yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Semua diputarbalikkan. Kemunafikan Barat demikian nyata dengan memperlihatkan perilaku busuknya, di mana Barat mengecam segala bentuk penjajahan dan penindasan, namun  membiarkan penjajahan Israel terus berlanjut terhadap Palestina melalui legitimasi PBB terkait Israel sebagai “Negara Yahudi” di tanah Palestina.

 

Sangat tidak fair, menuduh para militan Palestina sebagai teroris, karena perilaku teror sesungguhnya adalah bagian besar yang telah dilakukan Israel sampai saat ini yang diputarbalikkan oleh media Barat diikuti media lokal yang menjadi antek Barat. Terlalu Kotor bahkan keji tuduhan yang telah mereka lakukan.

 

Namun dengan semua ini, apakah negeri Muslim tergerak?

Memang benar, kaum Muslimin seluruh dunia sudah sangat aware dengan kondisi konflik ini. Perhatian besar muslim dunia sudah sangat menggema. Sayangnya, penguasa negeri muslim lebih memilih berdiam, demi  menghindari konfrontasi dengan AS yang menjadi sekutu abadi Israel. Bahkan, beberapa negeri muslim  menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, seperti Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi, Sudan, Bahrain, dan lainnya.Menyedihkan!

 

Kurangkah Pemahaman Tentang Imperialis Sesungguhnya?

Pertanyaan ini seharusnya tidak muncul, jika negeri muslim konsern pada konflik Palestina-Israel kemudian bergerak bersama mewujudkan solusi hakiki sampai tuntas. Karena, mendeteksi pelaku Imperialis seharusnya tidak sulit jika berpikir jernih. Kekotoran pemikiran yang diracuni Barat telah mengakibatkan pro kontra pada pihak yang salah. Pro Israel kontra Palestina atau sebaliknya telah membumbui berbagai komentar publik maupun jagat media. Tak pelak lagi, harus ada pelurusan pemahaman terkait ini untuk melihat secara objektif siapa penjahat yang sesungguhnya.

 

Jika kita jernih menilai, maka selayaknya ada tiga poin utama untuk menentukan siapa penjajah sebenar-benarnya penjajah.

 

Pertama, Palestina adalah tanah kharajiyah yang didapatkan kaum muslim dengan jiwa dan darah mereka. Syam–termasuk Palestina–pertama kali dibebaskan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab. Pada 637, pasukan jihad kaum muslim yang dikomandoi Khalid bin Walid membebaskan Palestina dan menjadikannya bagian dari wilayah Daulah Khilafah dengan pusat pemerintahannya kala itu berada di Madinah. Jadi, secara mutlak, Palestina adalah tanah yang sepenuhnya milik kaum muslim.

 

Kedua,  bagai benalu Israel menumpang tanpa diundang. Sifat serakah dan kurangajarnya Israel mengisap tanah  Palestina mendudukinya bagai pemilik tanah.  Tentunya sudah sewajarnya Palestina tidak berdiam diri untuk mempertahankan hak tanah mereka yang dirampas paksa dengan jihad melawan Israel. Semua bermula saat tokoh Zionis Theodor Herzl pada tahun 1896 menemui Sultan Abdul Hamid II, Khalifah Turki Utsmani, meminta kepada Sultan untuk mendirikan gedung di Al-Quds. Dan permohonan tersebut ditolak dengan tegas. Tak cukup dengan penolakan tersebut,  tahun 1902, Theodor Herzl menemui kembali sang Khalifah dengan iming-iming pelunasan utang Khilafah Utsmani. Sultan Abdul Hamid II kembali menolak dengan tegas sambik berkata, “Selama aku masih hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke tubuhku daripada melihat tanah Palestina dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah Islamiah.”

 

Ketiga, Palestina  milik kaum muslimin di seluruh dunia, bukan hanya milik bangsa Palestina. Di tanah yang diberkahi tersebut,  terdapat kiblat pertama kaum muslim, makam para sahabat dan syuhada, dan singgahan atau tempat tinggal para nabi yang menjadikan Palestina disebut  bumi para nabi.

 

Masih ragukah kita menyatakan siapa imperialis sesungguhnya dan siapa yang mendukungnya? Bukankah telah jelas secara faktual Barat dan juga PBB telah jelas-jelas menunjukkan keberpihakkannya kepada siapa. Tidak ada satu pun negara Barat yang berani menyebut Israel sebagai negara teroris atau menyeret mereka ke pengadilan internasional. Mereka hanya mengecam dan mengutuk, sebelas duabelas dengan PBB, hingga menghadapi bangsa semacam zionis radikal imperialis tidaklah cukup dengan bahasa diplomasi atau kecaman. Mereka hanya mengerti bahasa perang hingga bisa ditaklukkan. Artinya, harus ada kekuasaan Islam yang menyerukan jihad fi sabilillah. Dan inilah  solusi pasti  bagi Palestina yaitu ada kekuatan sistematis strategis yang berada dalam kekuatan sistemik yang telah real dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW, sebuah institusi tanpa sekat bangsa, persatuan kaum muslimin  terwujud, disertai aqidah Islam sebagai fondasi kekuatan Islam, yaitu adanya Institusi Khilafah Islamiah.

 

Butuh Gerak yang Pasti

Sejauh ini, para penguasa muslim hanya bisa mengecam, mengutuk, dan menyerukan penghentian perang. Ditambah lagi sebagiam  muslim ada yang berdiri sebagai pendukung Israel, diperparah dengan tuduhan hina, celaan yang menyakitkan ditujukan pada para pejuang pembela Palestina. Sepertinya mereka mati jiwa rasa dan raga, terlena dengan tawaran  dunia yang menggiurkan. Lebih memilukan lagi, saat  kita melihat penguasa negeri-negeri muslim yang  memiliki kekuatan militer, mereka diam saja di atas genosida yang Israel lakukan terhadap Palestina. Para penguasa muslim hanya  mengecam, mengutuk, dan menyerukan penghentian perang, namun tidak mengulurkan bala bantuan. Tidak takutkah  mereka sebagai penguasa jika di akhirat kelak muslim Palestina menuntut balik atas diamnya mereka terhadap penyiksaan dan pembunuhan saudara seimannya  yang terjadi nyata  di hadapan mereka?

 

Harus Konsern Pada Konkretisasi Solusi Hakiki

Sudah menjadi keharusan, umat dan negeri negeri muslim konsern pada pemyelesaian konflik ini. Konkretisasi solusi hakiki tidaklah main-main lagi, namun harus benar-benar dilakukan secara pasti. Umat dan negeri-negeri Islam harus bersatu dalam satu kekuatan, satu ikatan, dan satu kepemimpinan dalam sistem terakreditadi oleh Ilahi Rabbi yaitu sistem Islam yang lahir dari Allah melalui RasulNya.

 

Lalu bagaimana dengan saat ini. Ketiadaan sistem tentunya meniadakan solusi yang dinanti. Oleh karena itu butuh Gerak yang Pasti. Konkretkan dengan masif tanpa nanti.

 

Pertama, lakukan dakwah masif untuk meraih kesadaran umat agar menjauhkan diri dari pemikiran sekuler  yang saat ini telah meluluhlantakkan predikat umat terbaik, agar kembali sesuai fithrah yang telah Allah berikan pada Umat Islam.

 

Kedua, menggencarkan dakwah tentang keniscayaan sistem Islam Kaffah dengan membongkar akar masalah Palestina pun adalah karena ketiadaan sistem Islam Kaffah.

 

Ketiga, menyeru para penguasa agar tidak berharap dan mengarahkan loyalitas pada pertolongan PBB dan perjanjian International yang hanya memberi solusi semu dan minim keberpihakan pada Islam, dengan membongkar kepalsuan janji PBB dan juga perjanjian Internasional. Dorong penguasa agar berpihsk pada Islam dan kaum muslimin.

 

Palestina adalah negeri kaum Muslimin sedunia, negeri para syuhada, bumi para nabi, Maka sudah seharusnya pergerakan untuk membelanya tidak terhenti. Haram berdiam atas konflik ini. Haram berdiam tanpa pembelaan apa pun. Dakwahkan Islam Kaffah sebagaimana Rasulullah mencontohkannya, tegakkan tanpa nanti, karena tanpanya Palestina semakin berdarah-darah.

 

Wallaahu a'laam bisshawaab.

Ir. Ummu Azkia Fachrina, MA

Aktifis Muslimah Peduli Generasi

 

Reporter : Warso Sunaryo
- Dilihat 541 Kali
Berita Terkait

0 Comments