Nasional / Teknologi /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 13/10/2022 06:00 WIB

Reels TikTok Pengaruhi Krisis Literasi Media di Kalangan Anak Muda

TIKTOK
TIKTOK

JAKARTA, DAKTA.COM  -- Bukan hal aneh jika akhir-akhir ini beberapa orang mengaku telah membaca suatu artikel padahal dia hanya melihatnya sebagian kecil dari TikTok. Bahkan, tidak jarang juga dari mereka yang hanya membaca judul artikel tanpa membaca seluruh isinya.

 

Seiring berjalannya waktu, TikTok bukan lagi platform hiburan saja. TikTok berubah menjadi platform yang berisi konten edukasi. Selain itu, TikTok juga menjadi mesin pencari alternatif dan sumber informasi bagi anak muda.

 

Namun, sebuah studi terbaru dari Newsguard mengklasifikasikan lebih dari 20 persen video yang muncul dari pencarian berita populer di aplikasi sebagai informasi yang salah. Sementara itu, menurut studi oleh Stanford dan British Journal of Developmental Psychology, anak muda sangat berisiko untuk mempercayai informasi yang salah dan konspirasi yang tidak terbukti.

 

TikTok mempunyai algoritma yang membuat pengguna tidak bisa berhenti menggulir video pendek. Ini berpengaruh pada sedikit waktu yang dimiliki pengguna untuk memeriksa fakta terhadap informasi yang mereka dapatkan.

 

TikTok bukanlah platform yang dirancang untuk pendidikan, tetapi anak muda lebih sering mendapatkan informasi berita di For Your Page (FYP) mereka. Menurut sebuah studi Pew Research 2022, 16 persen remaja yang disurvei mengatakan mereka hampir tidak bisa berhenti menggulir konten di TikTok.

 

Wakil Presiden Penelitian News Literacy Project Peter Adams mengatakan remaja sangat rentan terhadap anti-institusionalisme dan nihilisme dalam hal sumber informasi.

 

“Banyak dari mereka menganut gagasan bahwa semua sumber informasi keluar untuk memanipulasi mereka dalam beberapa cara, semua sumber informasi memiliki motif rahasia. Mereka rentan terhadap manipulasi yang dilakukan oleh aktor jahat dan teori konspirasi,” kata Adams, dilansir Mashable, Ahad (9/10/2022).

 

Di sisi lain, aplikasi lain, seperti Twitter, YouTube, dan Pinterest bekerja untuk memadamkan informasi yang salah yang merajalela pada pengguna mereka. Namun, itu sangat sulit diatasi pada aplikasi TikTok. Kombinasi gulir tak terbatas dan kurangnya tautan langsung telah berpengaruh pada krisis literasi.

 

Kreator membahas mengenai berita atau budaya populer memilih untuk mengambil cuplikan layar, meringkas artikel, dan menawarkan pendapat mereka. Namun, tidak diketahui pasti apakah mereka telah membaca artikel tersebut dengan benar.

 

Kecanduan pengguna dalam menggulir konten di TikTok ada hubungannya dengan visualisasi konten. Adams mengatakan konten video jauh lebih menarik. “Bukannya orang tidak menemukan video di platform lain, tetapi itu hanya terasa lebih langsung dan nyata dan kredibel karena Anda melihat dan mendengarnya,” ujarnya.

 

TikTok telah melakukan upaya untuk mengatasi penyebaran misinformasi algoritmik. Pada 2020 dan 2021, perusahaan bermitra dengan National Association for Media Literacy Education (NAMLE) untuk membuat konten pendidikan bagi kreator dan orang tua tentang keamanan daring dan kesalahan informasi. Di seluruh platform, TikTok mencoba mengarahkan pengguna ke otoritas luar tentang topik yang sedang tren, seperti Covid-19 dan pusat informasi pemilu.

 

Proses pengecekan fakta TikTok membahas jenis informasi yang salah dan tidak akurat. "Kami akan menghapus informasi yang salah yang menyebabkan kerugian signifikan bagi individu, komunitas kami, atau publik yang lebih luas terlepas dari niatnya," kata seorang juru bicara TikTok.

 

Namun, aplikasi membuat pengecualian untuk konten pendidikan, dokumenter, ilmiah, artistik, atau satir, konten dalam latar fiksi atau profesional, dan counterspeech. Ini memberikan ruang bagi beberapa pakar misalnya untuk mematahkan mitos dan mendidik pengguna.

Sumber : REPUBLIKA
- Dilihat 450 Kali
Berita Terkait

0 Comments