Nasional / Kesehatan /
Follow daktacom Like Like
Senin, 22/08/2022 19:00 WIB

Penularan Cacar Monyet Antarmanusia tidak Mudah, Tetap Waspada tanpa Panik

ilustrasi cacar monyet 7 169 1
ilustrasi cacar monyet 7 169 1

JAKARTA, DAKTA.COM -- Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk tenang dan tidak panik dengan adanya temuan temuan kasus konfirmasi cacar monyet (monkeypox) pertama di Indonesia. Kasus pertama itu diungkap oleh Kementerian Kesehatan pada 20 Agustus 2022.

 

"Masyarakat diimbau tidak panik, tetapi tetap waspada. Upaya mencegah penularan cacar monyet dapat dilakukan dengan menerapkan PHBS (pola hidup bersih dan sehat)," kata Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti di Jakarta, Senin (22/8/2022).

 

Widyastuti menjelaskan PHBS mencakup:

- Sering mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun;

 

- Tidak menggunakan handuk atau peralatan pribadi bersama-sama;

 

- Hindari melakukan kontak dengan siapa pun yang memiliki gejala, termasuk tidak melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan;

 

- Bagi penderita, perlu melakukan isolasi diri dengan baik untuk menghindari penularan ke orang lain.

 

Selain dapat menular melalui kontak langsung dari hewan yang sakit ke manusia, cacar monyet juga dapat ditularkan antarmanusia. Benda yang terkontaminasi oleh virus monkeypox pun dapat menjadi media penularan.

 

"Kendati demikian, penularan cacar monyet antarmanusia tidaklah mudah," kata Widyastuti.

 

Untuk penularan dari manusia ke manusia, lanjut Widyastuti, dapat melalui kontak erat dengan droplet, cairan tubuh, atau kontak langsung kulit ke kulit yang terdapat ruam, termasuk melalui kontak seksual. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak tidak langsung pada benda yang terkontaminasi, seperti pakaian, tempat tidur, handuk atau peralatan makan/piring yang belum dicuci.

 

Widyastuti menjelaskan bahwa gejala cacar monyet umumnya diawali dengan demam, sakit kepala dan pembengkakan kelenjar getah bening yang ditemukan di leher, ketiak, atau lipat paha (selangkangan). Selain itu, gejala umum ini dapat disertai keluhan nyeri otot, sakit punggung, dan rasa lelah yang berkepanjangan.

 

Setelah satu sampai tiga hari sejak demam, gejala akan disusul dengan munculnya ruam pada kulit di beberapa bagian tubuh, berbentuk bintik merah seperti cacar, melepuh kecil berisi cairan bening atau berisi nanah. Bintik-bintik itu kemudian menjadi keropeng dan rontok.

 

"Jumlah lesi (luka atau lenting gelembung berisi cairan di kulit) dapat sedikit maupun beberapa buah yang tersebar," ucapnya.

 

Sementara itu, profesor dan spesialis penyakit menular dari University of California di Amerika Serikat, Peter Chin-Hong menjelaskan kemungkinan penularan cacar monyet melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi atau paparan droplet di kendaraan umum sangat kecil. Kemungkinan penularan tetap kecil meski cacar monyet menjadi lebih banyak ditemukan di populasi umum.

 

"Bergesekan dengan orang lain dengan bagian tubuh yang tak tertutup pakaian sepenuhnya selama beberapa jam dapat meningkatkan risiko, namun risiko tertular cacar monyet saat menghadiri konser cukup rendah untuk saat ini," jelas Prof Chin-Hong, dikutip dari laman The Sun.

 

Aids Healthcare Foundation (AHF) di AS mengatakan cacar monyet seharusnya diperlakukan sebagai penyakit menular seksual (PMS).

 

Para ahli di kelompok itu mengatakan bahwa pola transmisi strain atau clade baru dari virus cacar monyet lebih pas masuk klasifikasi PMS.

 

 

"Mengikuti tanggapan global, federal, negara bagian, dan lokal, kita betul-betul tidak punya waktu untuk disia-siakan, kita harus mempertimbangkan dan menanggapi cacar monyet sebagai penyakit menular seksual jika kita ingin menangani virus ini," kata Presiden AHF Michael Weinstein.

Sumber : REPUBLIKA
- Dilihat 594 Kali
Berita Terkait

0 Comments