Opini /
Follow daktacom Like Like
Sabtu, 08/04/2017 16:00 WIB

Seminar Peduli Generasi Mewujudkan dan Menghidupkan Kembali Masa Keemasan

Kegiatan MHTI 4
Kegiatan MHTI 4
BEKASI_DAKTACOM: Muslimah Hizbut Tahrir  DPD II Kota Bekasi sukses menyelenggarakan Seminar Peduli Generasi, Mewujudkan dan Menghidupkan kembali Masa Keemasan, di Ruang Multazam Islamic Center KH. Ali Noor Bekasi, 1 April 2017.
 
Sebanyak 100 lebih  tokoh pendidikan seperti guru, dosen, mubalighoh, ketua-ketua MT , se Bekasi antusias menyimak  paparan pembicara yang mengangkat tema Mewujudkan dan Menghidupkan kembali Masa Keemasan. 
Ir.  Sri Maryani menyampaikan bahwa dunia Muslim saat ini menderita ‘Krisis Pendidikan’ dalam kadar yang signifikan. 
 
Sulitnya mendidik generasi saat ini menjadi tantangan yang luar biasa bagi para pendidik. Paparan tayangan yang tidak mendidik, lingkungan pergaulan sosial yang bebas, gaya hidup hedonis, ditambah lagi dengan kurikulum yang jauh dari penanaman Aqidah Islam bagi anak didik. 
 
Mata pelajaran agama yang hanya 2 jam pelajaran (1 jam 30 menit) akan kah mampu menjadikan anak didik memahami tuntunan agamanya? Tsaqofah Islam yang dihapuskan dari pendidikan, menenggelamkan umat sekaligus menghapus identitas umat. Padahal tsaqafah Islam adalah ruh bagi tegaknya peradaban mulia. 
 
Kenyataan membuktikan, tanpa bimbingan wahyu, kegelapan peradaban kita rasakan demikian menyesakkan.
 
Hari ini, ilmu pengetahuan yang diajarkan di bangku sekolah jauh dari penerapan praktis, sekedar pelajaran akademis yang menyalahi metodologi pengajaran Islam yang benar. 
 
Kapitalisasi atau komersialisasi dan pendidikan yang gagal fokus pada kesuksesan individual semata, adalah fakta tak terbantahkan yang juga melingkupi dunia pendidikan kita kini. Kondisi ini juga terjadi di Indonesia pun Bekasi.  Kondisi pendidikan yang suram di dunia Muslim ini berada pada kutub yang berlawanan dengan keunggulan pendidikan yang dinikmati negeri-negeri Muslim di bawah pemerintahan Islam oleh Khilafah. 
 
Negara ini memberikan kedudukan yang sangat penting dan dukungan terhadap aktivitas menuntut ilmu dan menyebarkannya, mengantarkannya menjadi pusat pembelajaran bagi 
dunia. Negara ini juga melahirkan para ulama dan ilmuwan dalam jumlah yang melimpah, serta melahirkan sebuah era inovasi dan penemuan besar, menciptakan peradaban yang mulia yang menjadi adidaya dunia. 
 
Upaya mengembalikan pendidikan ideal ini membutuhkan setidaknya dua kunci yang harus dimiliki dan dibangun. 
 
Pertama ialah sumber daya manusia yang sholeh yang mempelajari ilmu semata-mata mencari ridho Allah Swt. Kedua, sumber daya alam dan sistem pemerintahan Khilafah yang mewujudkan Islam rahmatan lil alamin.
 
Karenanya, diperlukan sistem pendidikan Islam dan sistem pemerintahan Islam yang menjadi satu paket penerapan yang meniscayakan terwujudnya generasi emas peradaban. 
 
Nara sumber kedua yani Ustdzah Ummu Azkia Fachrina menyampaikan  bagaimana mewujudkan sistem Khilafah yang bukan saja memfasilitasi namun juga mengharuskan tertegakkannya sistem pendidikan Islam.
 
Terwujudnya sistem pendidikan  yang melahirkan generasi bertaqwa yang berkepribadian  Islam dan pemikiran Islaem Islam yang kaffah.  Rosululloh sebagai uswatun Khasanah meberikan suri tauladan bagaiamana mewujudkannya. Ketika Hijrah ke Madinah Rasulllah saw. adalah kepala negara Daulah Islamiyyah yang pertama kali. Beliau saw., selain sebagai rasulullah pembawa dan penyampai risalah, juga sebagai penguasa (hakim) yang melaksanakan hukum-hukum Islam yang beliau bawa sebagai bagian dari risalah Islam. 
 
Hukum-hukum Islam sebagian besar diturunkan di Madinah setelah Rasulullah saw. menempuh perjuangan selama sekitar 13 tahun di kota Mekkah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Quraisy dan seluruh kabilah Arab yang setiap tahun berkunjung ke kota Mekkah. Di Madinah itulah Rasulullah saw. mendapatkan kekuasaan dari para kepala suku di kota Madinah, khususnya Aus dan Khazraj yang paling dominan dan berkuasa di Madinah. Dan syariat Islam telah diturunkan seluruhnya hingga akhir masa kehidupan beliau saw. di kota Madinah dimana wilayah kekuasaan beliau saw. telah meliputi seluruh jazirah Arab (kurang lebih 2,95 juta km persegi, lebih besar dari 3 kali luas gabungan wilayah Jerman dan Perancis ). 
 
Allah SWT berfirman:
 
  ุงู„ู"ูŠูŽูˆู"ู…ูŽ ุฃูŽูƒู"ู…ูŽู„ู"ุชู ู„ูŽูƒูู…ู" ุฏููŠู†ูŽูƒูู…ู" ูˆูŽุฃูŽุชู"ู…ูŽู…ู"ุชู ุนูŽู„ูŽูŠู"ูƒูู…ู" ู†ูุนู"ู…ูŽุชููŠ ูˆูŽุฑูŽุถููŠุชู ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู"ุฅูุณู"ู„ูŽุงู…ูŽ ุฏููŠู†ู‹ุง 
 
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah [5]: 3).
 
Rasulullah saw. wafat dalam keadaan umat dan negara Islam yang baru sangat kuat dan siap untuk memikul beban risalah menyebarkan Islam ke seluruh dunia sebagai wujud risalah yang rahmatan lil ‘alamin. 
 
Para sahabat yang jumlahnya paling tidak sekitar 60 ribu orang adalah kader-kader unggulan yang siap untuk menaklukkan dunia, membebaskan bangsa-bangsa dari belenggu penguasa yang zalim dan cara hidup jahiliyah. 
 
Sejarah pun membuktikan bahwa berbagai penaklukan Islam yang meliputi hampir 2/3 dunia lama adalah terjadi di masa sahabat rasulullah saw.
 
Oleh karena itu, di masa kerinduan akan kejayaan Islam dan kaum muslimin ini telah kembali mengusik pikiran dan perasaan umat, maka tidak ada metode (thariqah) perjuangan yang harus ditempuh untuk mewujudkan hal itu, kecuali mengikuti metode (thariqah) perjuangan Rasulullah saw. 
 
Sebab, secara syar’i, Allah SWT telah memerintahkan kaum muslimin untuk meneladani beliau saw. 
 
Dia SWT berfirman
 
 ู„ูŽู‚ูŽุฏู" ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽูƒูู…ู" ูููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู"ูŽู‡ู ุฃูุณู"ูˆูŽุฉูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉูŒ
 
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (QS Al-Ahzab [33]: 21)
 
Secara faktual, satu-satunya gerakan islam yang berhasil menegakkan pemerintahan yang dalam tempo singkat mencapai capaian yang luar biasa adalah gerakan yang ditempuh oleh rasulullah saw. beserta para sahabatnya. 
 
Ingat, Rasulullah saw. tidak berawal sebagai kepala negara. Beliau adalah berawal dari seorang diri, bagian kecil dari masyarakat Mekkah, lalu menjadi sebuah kelompok (kutlah), dan kemudian menjadi penguasa dengan bai’at yang diberikan oleh para pemimpin suku Aus dan Khazraj dan hijrah ke Madinah.
 
Apa benar Rasulullah saw. membentuk kelompok politik (kutlah siyasi)? Bukankah belum ada parlemen dan pemilu pada waktu itu? Kalau kelompok atau partai politik dimaknai sebagai peserta pemilu yang kemudian masuk parlemen dan membuat undang-undang dan mengangkat kepala pemerintahan, maka Rasulullah saw. tidak melakukan itu. 
 
Tapi kalau kelompok atau partai politik dipahami sebagai kumpulan ide (afkar) dan orang-orang yang mengimani ide-ide itu serta berjuang untuk mewujudkan ide-ide itu di tengah-tengah masyarakat, Rasulullah saw. dan para sahabat melakukan hal itu. 
 
Ketika turun firman Allah SWT :
 
 ููŽุงุตู"ุฏูŽุนู" ุจูู…ูŽุง ุชูุคู"ู…ูŽุฑู
 
"Sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu….” (QS Al Hijr [15]: 94)
 
Rasulullah saw. bersama para sahabat bersama-sama menuju ke Ka’bah dengan formasi yang belum pernah dikenal oleh orang Arab sebelumnya. 
 
Mereka berbaris dalam dua barisan yang dikepalai oleh Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka ber-thawaf mengelilingi Ka’bah (lihat An Nabhani, Ad Daulah al Islamiyyah hlm 15)
 
Dari uraian singkat di atas, bisa dipahami bahwa ada tiga tahap perjuangan dalam dakwah yang ditempuh Rasulullah saw. bersama para sahabatnya. Pertama, tahap pembinaan dan pengkaderan (marhalah tatsqif); kedua, tahap interaksi dan perjuangan (marhalah tafaul wal kifah); ketiga, tahap penerimaan kekuasaan (marhalah istilamul hukm) untuk menerapkan Islam secara praktis dan menyeluruh, sekaligus menyebarkan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia. 
 
Kedua nara sumber  menyeru  umat Islam Bekasi untuk mengajak saudari muslim yang lain  untuk menghidupkan kembali masa keemasan dalam pendidikan, keilmuan, dan kemajuan ilmiah ini, melalui penegakan kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian, yang akan mengembalikan dan melanjutkan kembali peradaban gemilang
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Rilis MHTI
- Dilihat 1679 Kali
Berita Terkait

0 Comments