Opini /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 22/08/2021 12:00 WIB

Tahlilan Atas Kematian Massal Nurani Wakil Rakyat

Praktisi Hukum Dr Salahudin Gaffar
Praktisi Hukum Dr Salahudin Gaffar

 

Tahlilan atas kematian massal nurani wakil rakyat saat bersamaan kebenaran harus sesuai kehendak penguasa (muhasabah para cendekia, pledoi untuk rakyat).

 

Adalah fakta yang tak bisa di pungkiri bahwa saat ini kita memasuki puncak kelelahan secara fisik dan psikis menghadapi situasi saat ini, demokrasi lumpuh dengan double impact. Regenerasi  kepempimpinan nasional berbasis kompetensi hilang, kebebasan berpendapat terpasung, yang paling menghawatirkan terpuruk pada area ekonomi sehingga menimbulkan potensi "perkelahian masal" diluar medsos.
 

Era Orba, ancaman paling menakutkan hanya satu, yakni undang2 subversi, saat ini luar biasa, seorang bercerita tentang mimpinya saja bisa berurusan dengan negara. Mengutip Dr. Indra Perwira, Ahli Hukum Tata Negara UNPAD bahwa kondisi kita saat ini lebih mencekam" demikian kata beliau dalam sebuah bincang2 santai di teras rumahnya.

 

Sisi lain, musibah covid adalah keberkahan sendiri bagi sebagian kelompok sehingga menjadi alat peredam potensi ledakan gerakan naluri masa untuk bergerak dan berkumpul berteriak merespon melawan keadaan sekarang.

 

Isu covid menjadi sempurna ketika style intelijen berperan sebagai "leading sektor" penanganan dan pengendaliannya, maka tidak heran muncul meme,  kewajiban mengenakan masker itu antara ikhtiar agar tidak tertular atau pembungkaman terselubung.

 

Dalam teori negera kekuasaan, adalah hal wajar penguasa bertindak seperti singa ( Nicolo Machiaveli 1469-1527)

 

Muncul saling tuding siapa yang salah dan benar  antara penguasa dengan pihak yang dikuasai. Terlalu obscuur membuat hipotesis tentang siapa yang patut dipersalahkan.

 

Saya sebagai rakyat hanya kembali pada kitab suci agar tidak terjebak pada fanatisme kelompok  bahwa semua kebenaran versi manusia adalah nisbi. Kebenaran mutlak itu milik Allah Rabb Semesta Alam.

 

Perdebatan, adu hujjah tentang benar salah antara penguasa dan rakyat jelata terkait perkara prinsip benar dan salah,  diceritakan dengan baik oleh Kitab Suci, hakikatnya adalah untuk pembelajaran maha penting bagi umat pada generasi berikutnya.

 

Pada puncaknya, perbedaan pendapat itu jika sudah masuk pada ranah sangat prinsip yang qodi' maka Tuhan Semesta Alam, Rabb seluruh makhluk, biasanya melakukan  intervensi.

 

Cara yang lazim intervensi ditunjukkan oleh Allah SWT adalah melalui mukjizat, tujuannya pasti untuk memusnahkan kedzoliman. Mukzijat hanya di berikan kepada para Nabi dan Rasul. Nabi Musa alaihissalam, karena "sayangnya pada Sang Ayah" Firaun, menyampaikan pesan agar mawas diri, bahwa dia adalah manusia biasa bukan Tuhan, ada Tuhan Yang Menciptakan dirinya.

 

Setelah perdebatan dan adu "konsep ketuhanan" buntu dengan kalimat firaun merasa paling benar, maka turun perintah agar mendatangi Firaun untuk mengingatkannya, hanya Allah SWT yang berhak disembah. QS 20 : 24

اذ"هَب" إِلَى فِر"عَو"نَ إِن"َهُ طَغَى

 

Tapi ajakan Nabi Musa dianggap songong, mukjizat dianggap sihir, kebenaran yang dibawanya dianggap dusta karena satu hal, dia tidak ingin ajakan itu mengganggu kekuasaanya.
 

 

"Wahai Haman buatkan aku tangga menuju langit ( semacam tol langit istilah saat ini) biar aku dapat melihat Tuhannya Musa, demikian ambisinya.

 

QS Al-Qaşaş :38 - Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta".

 

Hamanlah yang menjadi pemicu Fir'aun mengikrarkan dirinya menjadi Tuhan dengan cara membohonginya. Ketidak sanggupannya membuat tangga menuju langit, lalu berkata kepada Fir"aun, musa itu pembohong, tidak ada Tuhan di langit, Engkaulah Tuhan. Maka muncullah kalimat akulah Tuhan Yang Maha Tinggi )

QS Annaziat : 24

فَقَالَ أَنَا۠ رَب"ُكُمُ ٱل"أَع"لَىٰ

 

Lalu,  janji Allah pun ditepati bahwa kebenaran dan kebatilan itu di adu dan dipertemukan. Tempat yang menenggelamkan kesombongan dan kebenaran atas nama kekuasaan adalah laut.

 

Laut terbelah lalu dirapatkan kembali, baru dia berkata : Aku juga percaya pada Tuahnya Bani Israel (Allah Subhanahuwataala Yang Esa)

 

Sehingga ketika Fir'aun hampir tenggelam dia berkata: "Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku Termasuk orang-orang muslim (berserah diri)" (QS. Yunus:90).

 

Nabi Yang Mulia, Baginda Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam melalui fase perjuangan berat dan panjang menghadapi

penguasa / regym jahiliyah. Kebenaran yang disampaikannya di atas kalimat mulia La Ilaha Illallah Muhammad Rasuulullah, dihadang dengan cara keji. Mulai dari fitnah hingga upaya pembunuhan.

 

Fitnah yang lazim dilakukan oleh penguasa jahiliyah dimulai dengan pembunuhan karakter seperti meragukan integritasnya, siapa sih Muhammad, kenapa wahyu kebenaran itu tidak melalui  golongan kita yang lebih terhornat,  yang disampaikan Muhamad itu sa'ir bukan wahyu, sihir, dia sakit jiwa, gila, kenapa Qur'an harus berbahasa Arab, dia hendak merubah kebiasan kita, demikian tuduhan dan fitnahnya.

 

Salah satu yang paling agresif menentang adalah  pebisnis berhala karena mereka merasa terancam.

 

Di era regym "fir'aun modern" juga terjadi pola yang sama,  yang menarik dialami Dr Judy Mokovits, seorang scientist di Amerika membongkar "kejahatan medis" dunia secara apik melalui hasil penelitiannya, lalu membongkar grand design bisnis kaum globalis dan menunjuk hidung para pelakunya.

 

Nasibnya akibat menyuarakan kebenaran yang diugkapnya diperlakukan sama seperti para Nabi.

 

Kasus yang dialami Dr. Judy Makovits, terbaru kasus yang sedang dihadapi dokter Lois, menjadi perhatian dan ibroh yang menarik dan seharusnya mendapat dukungan moral jika ummat manusia masih memiki nurani. Manusia tanpa nurani adalah mayat berjalan, saya menyebut demikian dalam salah satu quote buku saya.

 

Maka saya menyebut intelektuallitas jika menghamba pada kepentingan lalu menafikan kebenaran maka adalah semisal dengan melacur dia adalah Haman modern.

 

Dr. Judy, (semisal Dr Luis) adalah suara kebenaran untuk menyelamatkan ummat manusia dari kejahatan kolektif atas nama medis dicetus Antony Fauci, dkk., sebagaimana diungkapkan Dr. Judy Mokovits dalam sebuah wawancara ekslusif investigasi tertutup.

 

Dalam webminar beberapa waktu lalu kekhawatiran saya atas  "nasib" Dr Lois akan sama dengan Dr. Judy Mikovits terjadi, dibilang gila bahkan di "amputasi" nalarnya.

 

Sumbangan keilmuan yang disampaikan Dr Judy Mokovits, tidak dikehendaki jika tak sejalan dengan para penguasa bermental Fir'aun di Amerika.

 

Orang orang yang masih waras di Amerika saat itu berpikir seharusnya Dr Judy ( semisal dengan dokter Lois)  itu dijadikan narasumber untuk menjelaskan secara terbuka berdasarkan "kadar" kompetensinya, kekurangannya di berikan kepada dokter atau ahli lainnya yang banyak juga sependapat dengan dokter Judy.

 

Senada walau tersirat keinginan publik atas kasus dokter Lois sehingga publik tidak terus berkelahi soal masker, agar para polisi dan tentara kita tidak letih mengamankan sesuatu yang mereka sudah paham hakikatnya atas persoalan ini di balik persoalan utama (mengutip Mantan Menkes Dr. Terawan, covid ini persoalan biasa, hoax nya yang luar biasa)

 

Kita sedang dan ingin menggugah tanggung jawab, nurani dan tanggungjawab akhirat  mereka yang mengaku pakar di bidang kesehatan, apabila mengacu pada tradisi ilmiah,  harusnya adakan seminar, workshop, kajian ilmiah di kampus2, media hadir, hasilnya di publikasikan ke seluruh rakyat. Ini adalah tradisi akademis sehingga ada cara murah mengobati sakit psychis rakyat atas isu pandemi saat ini.

 

Regym2 dzolim di kolong langit saat ini kenapa tidak belajar pada penguasa seperti di era Archimides.

 

Sikap otoriter dan arogansi penguasa terhadap ilmuwan Archimides semata mata untuk menghamba pada nilai kebenaran.

 

Lalu Arhimides menemukan rumus Archimides itu. Rumus yang memecahkan ketidak jujuran atas mahkota emas sang raja. Kreatifitas, ide lahir di bawah  ancaman hukuman pancung jika tak mampu mengeluarkan temuan sesuai keilmuanya atas masa darurat yang memerlukan solusi atas ilmunya.

 

Bagaimana dengan kasus saat ini terkait persoalan sejenis?

 

Mentadaburi era Fir'aun dan Nabi Musa sebagai area muhasabah maka tidak salah rakyat berasumsi,  perusak yang dahsyat adalah para ilmuwan yang gila jabatan, popularitas, kekayaan, mereka adalah Haman di akhir zaman ini.

 

Membaca suasana kebatinan sebagian besar publik saat ini seolah menunjukan  kebingungan massal, mana racun mana madu tentang isu covid, karena media mainstream berkolaborasi dengan pemilik kepentingan berteriak dengan suara yang sama dan searah. Saya mengkritisi pada sebuah webminar yang lalu,  strategi komunikasi publiknya yang perlu diperbaiki agar publik paham dan tenang.

 

Informasi yang beredar saat ini bertendensi ibarat racun yang terus membunuh ketahanan psikologis, bahkan berpotensi menjelma menjadi informasi teror. Statistik kematian, yang terpapar, penentuan zona aktivitas, dll.  Kenapa tidak ada data statistik yang berbasis medis tentang kedudukan virus ini seperti yang di sampaikan Dr Fadila, bagaimana derajat resikonya, seperti apa metode penyembuhannya, lalu tentukan secara definitif jenis vaksinnya, lalu kenapa dana yang trilunan itu misalnya dipakai saja membelanjakan vitamin dan makan bergizi buat rakyat sehingga virus ini tak mempan?

 

Ini pernyataan2 yang mudah didengar di warung2 kopi, pedagang kaki 5 dan pasar pasar tradisional hingga kaum intelektual waras.

 

Ditengah kondisi seperti ini kita dan mungkin saya dan anda bertanya, apakah masih ada anggota DPR2 kita sehingga rakyat merasa di bela?

Atau pertanyaan skeptis saya dan anda :  apakah mereka masih hidup?

 

Dimana nurani mereka ditengah rakyat lelah secara psikologis atas isu ini, lelah fisik karena mereka berkelahi gara2 pakai pasker, lelah aqidah karena mereka ke masjid dan gereja di batasi (oknum tertentu), lelah kekuatan dapurnya karena tak sanggup lagi mencari nafkah atas pembatasan dengan berjibun istilah yang mulai bergeser pada aroma ancaman. Kalian masih hidup?

 

Anda tidak perlu bela Dr Lois, Dr. Terawan, dan dokter siapapun, anda tidak perlu bela pedagang KQ5, karena mereka terbiasa menderita, tapi anda bela lah nilai kebenaran dan keadilan yang tersurat dan tersirat dari wajah lelah mereka,  kami menduga kalian membisu dengan kemewahan yang sedang kalian nikmati secara diam2 diatas kepayahan rakyat.

 

Pertanyaan dan pernyataan ini agar kita bisa menempatkan sikap adil, bahwa rakyat tidak terus menghakimi pemerintah semata, kemana wakil rakyat?

 

Lewat catatan ini kami ingin kirimkan do'a agar kalian sadar tapi rasanya lantunan tahlilan lebih baik dan lebih layak kami kirimkan untuk kalian dimana pun kalian berada karena kalian hakikatnya "telah mati", mati nurani karena kalian wakil rakyat seolah sedang bersekutu dengan kekuasaan yang tak berbelas kasih di atas kesulitan kemanusiaan sebagai mana pesan konstitusi.

 

Kami juga bertanya kepada para aktivis yang suaranya lantang dan nyaris itu, kemana kalian? Kami menduga kalian  tengah mati ditimpa kekenyangan, kenyang disuapi fasilitas dari mereka yang rakus kekuasaan. Kami khawatir kalian sedang mengalami gangguan jiwa.

 

Wahai tuan2 kalian semakin sibuk memikirkan perpanjangan masa jabatan, perpanjangan fasilitas, perpanjangan #pembatasan, dan perpanjangan2 lainnya, kami berdoa semoga tuan tuan dipanjangkan umur agar kelak bisa merenung untuk bertobat sebelum kematian sesungguhnya, ajal menjemput, ini salah satu pesan penting coretan ini.

 

Salam Hangat NKRI, Panjang Umur #Negeriku.

Salam Fastabiqul Khairaat

 

**DR Salahudin Gaffar SH., M.H - Praktisi Hukum di Bekasi

Sumber : DR Salahudin Gaffar SH., M.H - Praktisi Hukum di Bekasi
- Dilihat 1246 Kali
Berita Terkait

0 Comments