Opini /
Follow daktacom Like Like
Sabtu, 13/03/2021 11:03 WIB

Nasehat Kematian Di Masa Pandemi Covid-19

Rosandi Ardi Noegraha
Rosandi Ardi Noegraha
Oleh : Rosandi Ardi Noegraha
Dosen & owner Asinan Betawi Ibu Nur.
 
 
ู†ูŽุญู"ู†ู ู‚ูŽุฏู"ูŽุฑู"ู†ูŽุง ุจูŽูŠู"ู†ูŽูƒูู…ู ุงู„ู"ู…ูŽูˆู"ุชูŽ ูˆูŽู…ูŽุง ู†ูŽุญู"ู†ู ุจูู…ูŽุณู"ุจููˆู‚ููŠู†ูŽ
 
"Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan" [Al Waqi’ah:60]
 
Di masa pandemi covid-19, berita kematian seseorang seakan menjadi informasi rutin ditelinga kita semua, ada saja kabar kematian yang diperoleh dari media sosial, mulai dari penjabat negara, tokoh politik, ulama, kalangan cendikia, dosen,guru sampai dengan masyarakat biasa. 
 
Dilingkungan penulis sendiri bahkan hampir setiap pekannya ada saja satu, dua orang yang di informasikan oleh pihak Masjid yang meninggal dunia, terlepas apakah penyebabnya karena benar positive covid, atau yang lainnya, seperti sakit jantung, kecelakaan dan lainnya. 
 
Kematian adalah nasehat bagi kita yang masih hidup, dan dia adalah nasehat yang bisa menghancurkan kelezatan dunia, yang sering melenakan manusia, seperti yang disabdakan Rasulullaah SAW,  
ุฃูƒุซุฑูˆุง ุฐูƒุฑ ู‡ุงุฐู… ุงู„ู„ุฐุงุช ูŠุนู†ูŠ ุงู„ู…ูˆุช
 
“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur segala kelezatan, yaitu Kematian”  (Hadits Hasan Shahih Riwayat At-Tirmidzi, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu)
 
Ada beberapa manfaat kematian menjadi nasehat buat manusia, diantaranya adalah yang pertama kematian mengingatkan kita bahwa waktu adalah nikmat yang sangat berharga, dengan berita kematian kita disadarkan bahwa waktu perkara yang sangat bernilai dan mahal, ada informasi yang Allah swt jelaskan dalam Al-Quran tentang orang yang sudah mati,minta kepada Allah untuk dihidupkan kembali, 
 
ูˆูŽุฃูŽู†ู"ููู‚ููˆุง ู…ูู†ู" ู…ูŽุง ุฑูŽุฒูŽู‚ู"ู†ูŽุงูƒูู…ู" ู…ูู†ู" ู‚ูŽุจู"ู„ู ุฃูŽู†ู" ูŠูŽุฃู"ุชููŠูŽ ุฃูŽุญูŽุฏูŽูƒูู…ู ุงู„ู"ู…ูŽูˆู"ุชู ููŽูŠูŽู‚ููˆู„ูŽ ุฑูŽุจู"ู ู„ูŽูˆู"ู„ูŽุง ุฃูŽุฎู"ูŽุฑู"ุชูŽู†ููŠ ุฅูู„ูŽู‰ ุฃูŽุฌูŽู„ู ู‚ูŽุฑููŠุจู ููŽุฃูŽุตู"ูŽุฏู"ูŽู‚ูŽ ูˆูŽุฃูŽูƒูู†ู" ู…ูู†ูŽ ุงู„ุตู"ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ
 
"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
 
Permintaannya seakan menjadi angan-angan belaka, tidak mungkin waktu jarum jam diputar, semua itu akan menjadi penyesalan, kehidupan dunia sudah berakhir dan akan menjadi penyesalan abadi. 
 
Kemudian manfaat berikutnya kematian menjadi nasehat adalah menyadarkan kita untuk berusaha melakukan amal shalih yang terbaik, sebagaimana Allah swt mengingatkan dalam firmannya
 
ุงู„ูŽู"ุฐููŠ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ู"ู…ูŽูˆู"ุชูŽ ูˆูŽุงู„ู"ุญูŽูŠูŽุงุฉูŽ ู„ููŠูŽุจู"ู„ููˆูŽูƒูู…ู" ุฃูŽูŠูู"ูƒูู…ู" ุฃูŽุญู"ุณูŽู†ู ุนูŽู…ูŽู„ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ู"ุนูŽุฒููŠุฒู ุงู„ู"ุบูŽูููˆุฑู
 
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)
 
Manfaatkan kesempatan hidup didunia untuk fastabiqul khoirot atau berlomba-lomba beramal shalih dengan kualitas amalan yang terbaik karena kita tidak pernah bisa memastikan apakah seluruh amal shalih kita diterima Allah swt. 
 
Dan yang terakhir adalah kita bakal mengalami hal yang sama akan menemui kematian, apakah mati dalam situasi pandemik atau selepasnya, pastinya kita akan mengalami kematian, seperti yang Allah swt firmankan 
 
ุฃูŽูŠู"ู†ูŽู…ูŽุง ุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ูŠูุฏู"ุฑููƒููƒูู…ู ุงู„ู"ู…ูŽูˆู"ุชู ูˆูŽู„ูŽูˆู" ูƒูู†ู"ุชูู…ู" ูููŠ ุจูุฑููˆุฌู ู…ูุดูŽูŠู"ูŽุฏูŽุฉู
 
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78).
 
Yang terbaik bagi manusia adalah mempersiapkan bertemu dengan kematian dengan memperbanyak amal shalih, perbanyak taubat, berdzikir dan do'a kepada Allah, sehingga kematian kelak di temui,kita dalam kondisi mati yang husnul khotimah.
 
ูƒูู„ู"ู ู†ูŽูู"ุณู ุฐูŽุงุฆูู‚ูŽุฉู ุงู„ู"ู…ูŽูˆู"ุชู
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185).
 
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ayat-ayat di atas adalah setiap orang pasti akan merasakan kematian. Tidak ada seseorang yang bisa selamat dari kematian, baik ia berusaha lari darinya ataukah tidak. Karena setiap orang sudah punya ajal yang pasti.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 3: 163).
 
Jadikan berita kematian di musim pandemi covid-19, sebagai nasehat terbaik, seperti yang di sampaikan oleh Sahabat Nabi SAW, 
Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu ia berkata:
 
ูƒูŽููŽู‰ ุจูุงู„ู"ู…ูŽูˆู"ุชู ูˆูŽุงุนูุธู‹ุง ูˆูŽูƒูŽููŽู‰ ุจูุงู„ุฏู"ูŽู‡ู"ุฑู ู…ูููŽุฑู"ูู‚ู‹ุงุŒ ุงู„ู"ูŠูŽูˆู"ู…ูŽ ูููŠ ุงู„ุฏู"ููˆู"ุฑู ูˆูŽุบูŽุฏู‹ุง ูููŠ ุงู„ู"ู‚ูุจููˆู"ุฑู
 
“Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat (peringatan), dan masa sebagai pemisah. Hari ini masih di rumah, dan besok bisa jadi di kuburan”.
 
(As Suyuthi dalam Syarhus Shuduur bi Syarhil Mautaa wal Qubuur (1/28)
 
Jadilah mukmin yang cerdas, yang banyak mengingat mati dan mengambilnya sebagai nasehat dalam kehidupannya
 
ุนูŽู†ู ุงุจู"ู†ู ุนูู…ูŽุฑูŽ ุฃูŽู†ู"ูŽู‡ู ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูู†ู"ุชู ู…ูŽุนูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู"ูŽู‡ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ููŽุฌูŽุงุกูŽู‡ู ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฃูŽู†ู"ุตูŽุงุฑู ููŽุณูŽู„ู"ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู"ูŽุจูู‰ู"ู -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุซูู…ู"ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู"ูŽู‡ู ุฃูŽู‰ู"ู ุงู„ู"ู…ูุคู"ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฃูŽูู"ุถูŽู„ู ู‚ูŽุงู„ูŽ : « ุฃูŽุญู"ุณูŽู†ูู‡ูู…ู" ุฎูู„ูู‚ู‹ุง ». ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽุฃูŽู‰ู"ู ุงู„ู"ู…ูุคู"ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุฃูŽูƒู"ูŠูŽุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ : « ุฃูŽูƒู"ุซูŽุฑูู‡ูู…ู" ู„ูู„ู"ู…ูŽูˆู"ุชู ุฐููƒู"ุฑู‹ุง ูˆูŽุฃูŽุญู"ุณูŽู†ูู‡ูู…ู" ู„ูู…ูŽุง ุจูŽุนู"ุฏูŽู‡ู ุงุณู"ุชูุนู"ุฏูŽุงุฏู‹ุง ุฃููˆู„ูŽุฆููƒูŽ ุงู„ุฃูŽูƒู"ูŠูŽุงุณู ».
 
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).
 
ุงูŽู„ู„ู"ู‡ูู…ูŽู" ุงุฎู"ุชูู…ู" ู„ูŽู†ูŽุง ุจูุงู"ู„ุงูุณู"ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุงุฎู"ุชูู…ู" ู„ูŽู†ูŽุง ุจูุงู"ู„ุงููŠู"ู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุงุฎู"ุชูู…ู" ู„ูŽู†ูŽุง ุจูุญูุณู"ู†ู ุงู„ู"ุฎูŽุงุชูู…ูŽุฉู
 
“Ya Alloh, akhirilah hidup kami dengan Islam, akhirilah hidup kami dengan membawa iman dan akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”.***
Editor : Dakta Administrator
Sumber : Opini Rosandi Ardi Noegraha
- Dilihat 1242 Kali
Berita Terkait

0 Comments