Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 23/03/2020 11:33 WIB

Mendadak 'Homeschooling'

Homeschooling
Homeschooling

DAKTA.COM - Oleh: Rizki Sahana (Homeschool Offender, Pegiat Media, Pemerhati Persoalan Perempuan, Keluarga, dan Generasi)

 

Untuk menghindari penyebaran Covid-19, sekolah-sekolah diliburkan sejak 16 Maret 2020 hingga 14 hari berikutnya. Namun demikian, anak-anak tetap diwajibkan belajar secara online dengan pendampingan orang tua di rumah.

 

Keputusan yang sangat cepat dalam rangka merespon perkembangan kasus Covid-19 ini membuat sebagian guru dan orang tua gagap menghadapi situasi yang belum pernah mereka temui sebelumnya.

 

Guru tiba-tiba dituntut kreatif menyajikan bahan ajar, sementara orang tua dituntut siap sedia membersamai anak menyelesaikan tugas-tugas sekolah melalui internet. Akhirnya, mendadak homeschooling tak bisa dihindari.

 

Homeschooling yang tak biasa dialami ini jelas mengalami banyak kendala di lapangan. Baru 3 hari berjalan misalnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengaku menerima sejumlah aduan dari orang tua siswa di Jakarta bahwa anak-anak dan orang tua stres menghadapi tugas-tugas sekolah yang dinilai memberatkan.

 

Fakta orang tua bekerja juga menyulitkan mereka mengontrol dan melakukan pendampingan terhadap anak. Sementara anak-anak yang lainnya terkendala belajar karena tak memiliki gadget, yang menggemaskan sebagian anak malah memanfaatkan libur untuk nongkrong di mal dan kafe.

 

Guru pun tak kalah kewalahan karena checking dan pelaporan tugas belajar siswa secara online cukup melelahkan. Bahkan sebagiannya masih belum memahami mekanisme pembelajaran secara online.

 

Pemerhati pendidikan, Indra Charismiadji mengatakan, belum semua guru siap menjalankan pembelajaran daring. Saat ini, banyak guru yang kebingungan bagaimana pembelajaran daring tersebut.

 

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo, juga mengungkap hal senada. Menurutnya, pembelajaran dari rumah sudah tepat, setidaknya dari sisi kesehatan. Namun untuk efektivitas pembelajaran, ia menilai perlu ada yang dipersiapkan sekolah dan guru. Selain itu, kebijakan negara untuk mensupport infrastruktur internet dan teknologi harus dioptimalkan hingga ke desa-desa.

 

"Sekolah-sekolah yang tidak memiliki fasilitas pembelajaran online ini akan mengalami kesulitan dalam mengejar ketertinggalan materi pembelajaran," kata peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza Azzahra.

 

Semua ini menunjukkan betapa negara ini belum siap menghadapi bencana (wabah). Sistem pendidikan beserta segala pirantinya belum didesain untuk tanggap menghadapi kebutuhan perubahan situasi dan kondisi yang  cepat dan mendesak. Ditambah, persoalan yang lebih mendasar, yakni mindset pendidikan untuk melahirkan generasi cemerlang dalam hal pemikiran maupun attitude belum dipahami secara integral oleh struktur sistem pendidikan yang ada.

 

Akhirnya, homeschooling alias home learning dimaknai sekadar memindahkan sekolah ke rumah, yakni memindahkan tugas-tugas dan segala tetek bengek urusan administratif sekolah ke rumah.

 

Bagaimana pun juga, kita sudah terlanjur basah harus menghadapi kondisi mendadak homeschooling ini. Maka mau tidak mau ya tidakbisa lari. Harus menyambutnya dengan senang hati atau jutek hati. Itu pilihan ya. Terserah kitanya. Yang jelas, setiap pilihan mengandung konsekuensi, jangan salahkan anak kalau kemudian jadi malas belajar karena kita, orang tua, mempersepsi belajar sebagai beban, bukan hal yang menyenangkan.

 

Saran saya, sambutlah kondisi ini dengan hati lapang. Toh,  tidak selamanya anak akan kita handle. 14 hari itu waktu yang teramat singkat dibandingkan dengan ratusan hingga mungkin ribuan hari yang sudah anak habiskan di sekolah bersama guru-guru mereka. Ini waktunya kita bisa lebih dekat dengan anak loh, mengokohkan bonding yang mungkin selama ini agak retak atau malah nyaris putus.

 

Bersabarlah melakulan pendampingan, ciptakan suasana yang menyenangkan jangan sebaliknya memarahi anak setiap kali melakukan kesalahan, saat mereka ga paham penjelasan kita, saat mereka merajuk mengeluh bosan atau capek, dan seterusnya dan seterusnya.

 

Yang paling penting, masa-masa homeschooling ini bisa digunakan unt melakukan upaya enrichment terhadap konten-konten pelajaran agar menjadi lebih powerfull. Mengintegrasikannya dengan aqidah, sehingga tidak kering, justru semakin bergizi dengan konsep hidup sebagai seorang Muslim.

 

Matematika, sains, biologi, fisika, kimia, geografi, semuanya bisa dipadukan dengan tsaqafah Islam sehingga muatannya lebih berbobot.

 

Maka, persiapkan mulai besok saat ini, yaitu mengintegrasikan konten pelajaran ananda dengan Islam. Sebab kita ingin anak mendapat asupan yang berpengaruh terhadap jiwanya, yakni yang mengandung pengokohan iman sekaligus nilai-nilai agama, yang akan menjaganya dari kerusakan.

 

On top of that, tidak cukup, homeschooling yang hanya 14 hari ini melahirkan generasi bersyakhsiyah Islam (berkepribadian Islam). Maka bagi ortu, ini adalah awal yang baik. Harapannya, ortu akan terus melakukan pendampingan dengan menambahkan kekayaan konten yang lebih ideologis pada beragam pelajaran anak setelah libur usai.

 

Lebih jauh, kita bukan hanya butuh kesiapan dan kematangan dalam transformasi proses belajar dari konvensional menuju model belajar online, tapi lebih dari itu, kita juga butuh sistem pendidikan yang terpadu sekaligus punya integritas, yang melahirkan output yang matang secara pemikiran dan perilaku, serta generasi yang punya orientasi dalam memperjuangkan kepentingan umat serta kemaslahatan manusia.

 

Itulah sistem pendidikan Islam yang pernah berjaya hingga kurang lebih 13 abad lamanya dalam kepemimpinan Khilafah. Sistem yang mampu melahirkan ilmuan polymath yang takut pada Rabbnya serta berdedikasi pada masyarakatnya. Tak ada yang bisa menyangkal itu. Ketika Eropa berada dalam abad kegelapan (dark ages), peradaban Islam justru melahirkan banyak sekali ilmuan di berbagai bidang kehidupan.

 

Smart phone dengan segala kebisaannya, juga GPS yang sangat membantu perjalanan kita, tidak akan pernah tercipta jika Al-Khawarizmi tak menemukan angka 0 dan Mariam Al-Astrulabi tak membuat astrolab yang kompleks. So, tidakkah kita merindukannya? Wallahu a'lam. 

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Rizki Sahana
- Dilihat 683 Kali
Berita Terkait

0 Comments