Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 20/02/2020 13:40 WIB

Bullying, Problem Akut Generasi Sekuler

Ilustrasi Stop Bullying (istimewa)
Ilustrasi Stop Bullying (istimewa)
DAKTA.COM - Oleh: Irma Sari Rahayu, S.Pi (Pemerhati Generasi dan Narasumber WAG Mommies Diary)
 
Hati ibu mana yang tak akan sedih melihat puteranya merintih kesakitan. Terlebih lagi harus kehilangan jari tangannya akibat peristiwa yang sepatutnya tidak perlu terjadi. MS (13), siswa SMP 16 Kota Malang Jawa Timur, yang diduga menjadi korban bully teman-temannya, terpaksa harus kehilangan jari tengahnya karena diamputasi. Keputusan ini diambil pihak rumah sakit karena jari tengah MS sudah tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (Kompas.com/5/2/2020).
 
Nasib tragis menjadi korban bully juga dialami oleh CA (14), pelajar SMP salah satu sekolah di Purworejo. Video kekerasan yang dialaminya viral di media sosial. CA terlihat dipukul dan ditendang oleh tiga temannya. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, ketiganya mengaku sakit hati karena perbuatan pemalakan yang mereka lakukan terhadap CA dilaporkan kepada guru (Sindonews.com/16/2/2020).
 
Di Bekasi, dugaan bullying yang mengakibatkan korban tewas dialami oleh bocah laki-laki bernama FA. Peristiwa memilukan itu diunggah di Facebook oleh akun Jubed. Menurut akun tersebut, FA telah dipukuli dan ditendang oleh teman-teman sepermainannya yang lebih tua (Suara.com).
 
Apa Itu Bullying?
 
Bullying berasal dari kata bully, yang dalam kamus Oxford diartikan sebagai "seseorang yang terbiasa berusaha menyakiti atau mengintimidasi seseorang yang dianggap rentan." Dapat diartikan pula sebagai perilaku intimidasi. Dalam Bahasa Indonesia, bullying bisa diartikan tindakan intimidasi, mengusik atau merintangi orang lain.
 
Tindakan bullying bisa berupa fisik (memukul, menendang, mencubit dan lain-lain), verbal (menghina, mencaci, mengejek atau memanggil dengan sebutan yang tidak disukai korban bully), sosial (menyebarkan gosip atau berita hoax, gestur tubuh bertujuan mengancam atau mengintimidasi, menghasut seseeorang untuk mengucilkan korban), dan cyber (menyebar berita bohong,mengancam,menghina atau mengolok-olok melalui media sosial).
 
Akar Masalah Bullying
 
Kasus-kasus bullying atau perundungan terus bermunculan dan terlihat semakin sadis. Mayoritas pelaku adalah usia remaja. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan sepanjang 2011 hingga 2019, KPAI mencatat 37.381 pengaduan mengenai anak. Terkait dengan kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan. 
 
Jasra meyakini pengaduan anak kepada KPAI tersebut bagaikan fenomena gunung es. Artinya, masih sedikit yang terlihat di permukaan karena dilaporkan, sementara di bawahnya masih tersimpan kasus-kasus lain yang besar namun tidak dilaporkan (Republika.co.id/10/2/2020).
 
Banyak faktor yang menyebabkan tindakan bullying, diantaranya: pernah menjadi korban bully, tidak mampu mengontrol emosi, rasa iri, mencari perhatian atau kurang empati.  
 
Saat ini, media elektronik, baik TV maupun gadget adalah penyumbang terbesar penyebab tindakan bullying.  Lihatlah program-program televisi baik acara komedi ataupun sinetron yang terlihat lugas mengumbar perilaku bullying
 
Saling ejek, mengancam, berkelahi ataupun menghasut, tersaji dengan jelas. Orang tua kadang lalai dalam mendampingi putra-putrinya saat menonton TV. Alhasil, perilaku bullying menancap kuat dalam memori anak.
 
Game pun tak kalah hebat dalam menyumbang inspirasi perilaku bullying. Aksi-aksi kekerasan dalam game yang biasa dimainkan anak-anak, tanpa sadar telah mempengaruhi perilaku mereka saat bersama teman-temannya.
 
Virus sekulerisme yang mengakar kuat dalam kehidupan saat ini terutama di bidang pendidikan adalah biang keladi maraknya tindak bullying yang dilakukan pelajar. Pendidikan karakter yang digagas sekolah, ternyata belum mampu membendung bergulirnya kasus ini.
 
Pendidikan agama hanya diletakkan saat pelajaran agama saja, untuk pelajaran lain tak perlu dikaitkan dengan agama. Alhasil, siswa gagal mengkaitkan keberadaan dirinya sebagai makhluk dari Sang Pencipta yang akan dimintai tanggungjawab atas setiap perilakunya di dunia.
 
Solusi Tuntas Kasus Bullying
 
Islam memandang semua manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah SWT. Islam pun melarang satu kelompok mengolok-olok kelompok yang lain atau memanggil dengan sebutan yang buruk. 
 
Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri. Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11).
 
Kewajiban orang tua lah untuk mendidik anak-anaknya agar senantiasa berperilaku baik, memiliki empati dan menghargai orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada suatu pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (akhlak) yang baik.” (HR Tirmidzi).
 
Masyarakat juga memiliki kewajiban untuk mengakhiri kasus bullying ini. Saling menasehati dalam kebaikan dan kebenaran harus senantiasa ditampakkan, tentunya disampaikan dengan cara yang ahsan.
 
Yang paling penting adalah peran negara dalam memberantas kasus bullying dengan tuntas. Pemerintah harus melarang stasiun-stasiun TV  menayangkan acara-acara yang menampilkan kekerasan. Jika melanggar, maka pemerintah wajib menindak tegas. Pemerintah juga harus serius dalam penghapusan game-game atau konten-konten online yang mengajarkan kekerasan. 
 
Dan di atas semua itu, pemerintah harus menghilangkan virus sekulerisme yang selama ini mencengkram kehidupan rakyat terutama di bidang pendidikan. Jadikanlah kurikulum pendidikan yang sesuai dengan akidah Islam, agar dihasilkan output peserta didik yang memiliki kepribadian cemerlang, jauh dari perilaku bullying. **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Irma Sari Rahayu, S.Pi
- Dilihat 1036 Kali
Berita Terkait

0 Comments