Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 07/11/2019 15:37 WIB

Dicari, Pemuda Kahfi Era Kini

Ilustrasi gua Ashabul Kahfi
Ilustrasi gua Ashabul Kahfi

DAKTA.COM - Oleh: Ayin Harlis (Narasumber Kajian Muslimah MQ Lovers Bekasi)

 

Kisah pemuda kahfi sudah kita kenal. Para pemuda yang beriman, yang keyakinannya menyelisihi para tetua, para pembesar, dan masyarakat di zamannya. Karena keteguhan mereka, Allah memberikan pertolongan yang tak disangka-sangka.

 

Ditidurkan 309 tahun lamanya di sebuah gua. Tak seorang pun yang bisa mencelakai mereka di sana. Hingga tiba saatnya mereka menerima kabar gembira bahwa keimanan mereka telah diterima oleh sekian generasi setelahnya.

 

Allâh berfirman: (Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. [Al-Kahfi/18:10]

 

Menjadi pemuda yang mendapat keistimewaan dan pertolongan Allah tentu bukan pemuda sembarangan. Pemuda yang hanya mengikuti arus zaman. Apalagi bersenang-senang berkubang kemaksiatan, mengonsumsi obat-obatan terlarang, berkecimpung dalam penyimpangan seksual, bergulat dalam anarkisme tawuran, berbangga diri dengan pemikiran liberal, tentu bukan seperti ini gambaran pemuda Kahfi.

 

"Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.” [Al-Kahfi/18:13]

 

Pemuda Kahfi adalah pemuda yang gigih atas iman yang telah terpatri. Mempertahankannya apapun yang terjadi. Tak terbeli oleh emas berpeti-peti. Teguh berprinsip di tengah budaya maksiat yang menggoda.

 

Pemuda Kahfi adalah pecinta ilmu dan penebar dakwah. Mereka pencari petunjuk dari Tuhannya. Maka Allah mengaruniakan petunjuk yang berharga. Allah tambah-tambah nikmatnya dengan petunjuk yang lurus tanpa cela. Mereka tebarkan petunjuk itu kepada siapa saja mereka jumpa. Berharap semakin banyak manusia yang dapat diajak bersama ke surga.

 

Allâh Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka berkata, “Rabb kami adalah Rabb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyeru ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. [Al-Kahfi/18:14]

 

Pemuda Kahfi adalah pemuda pejuang. Berani berhadapan dengan pembesar negeri yang kezalimannya tak terperi. Mereka bahu membahu menyuarakan kesalahan masyarakat yang telah membudaya padahal jumlah mereka tak seberapa.

 

Hingga titik penghabisan ketika harapan hanya bisa digantungkan kepada pemilik Semesta. Tak menyerah meski akhirnya perjuangan hanya bisa dihidupkan dengan lisan yang basah dengan doa.

 

“Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai ilah-ilah (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka). Siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-ada kebohongan terhadap Allâh. [Al-Kahfi/18:15]

 

Pemuda Kahfi tak lahir di era yang penuh kemudahan. Kebanyakan orang saat itu mengadakan kebohongan terhadap Allah, menyekutukan-Nya dengan makhluk-makhluk lain yang tak patut disembah dan dipertuhankan. Penguasa dan orang-orang kebanyakan saat itu berbuat zhalim.

 

“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allâh, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Rabbmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” [Al-Kahfi/18:16]

 

Persembunyian pemuda Kahfi bukan pelarian. Bukan menyerah dengan keadaan. Justru bersembunyi adalah perintah Tuhan, itulah yang mereka tunaikan. Allah kondisikan agar mereka ada dalam kondisi tawakal tak berkesudahan bahkan di saat situasi penuh kesempitan. Dengan itu Allah tampakkan senyatanya pertolongan. Bahwa pertolongan semata-mata hak Allah, bukan ada karena skenario hamba.

 

Kiranya pemuda hijrah era milenial seharusnya menjadi pemuda kahfi masa kini. Saat kebanyakan masyarakat bersikap diam sebagai pembiaran atas berbagai kemaksiatan yang merajalela, pemuda Kahfi lah yang menyuarakan kebenaran ajaran Tuhan, Islam. Saat aturan-aturan tunduk pada kepentingan manusia, pemuda Kahfi menguak keadilan yang tak merata. Saat ajaran Ilahiah digugat dan dipertanyakan, sosok pemuda Kahfi takkan tinggal diam.

 

Bagaimana menciptakan sosok pemuda Kahfi di era milenial ini :

  1. Tanamkan aqidah yang kokoh. Meneguhkan bahwa Allah, Rasul-Nya, dan risalah Islam adalah al-Haq, kebenaran. Yang menyelisihi adalah kebatilan.
  2. Menyucikan ketawakalan. Hanya Allah satu-satunya dzat bergantung. Allah pemberi rizki dan keselamatan di tengah fitnah terhadap agama dan para pengembannya.
  3. Memahamkan kemuliaan terletak pada keridhoan Allah. Meski kesempitan hidup dirasakan, terkucilkan, tak ada jabatan dan kekuasaan, ketaatan pada Allah dan ketaqwaan adalah harta yang paling berharga di sisi Allah hingga hari pembalasan kelak.
  4. Menyampaikan kebenaran adalah tanda-tanda iman. Apapun caranya yang semakin beragam di era digital dan media sosial. Yang kita ucapkan, yang kita tulis, semua karya kita adalah cermin keyakinan hidup kita.
  5. Membiasakan jiwa pejuang. Tak mudah menyerah. Kesulitan sebesar apapun ada pemecahannya. Selama berpegang teguh pada iman dan syariatnya, pertolongan Allah itu dekat. Sangat dekat, dan sangat mudah bagi-Nya.

 

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Ayin Harlis
- Dilihat 692 Kali
Berita Terkait

0 Comments