Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 06/05/2019 14:08 WIB

Pendidikan Islam, Pendidikan Karakter Sejati

Ilustrasi pendidikan islami
Ilustrasi pendidikan islami
DAKTA.COM - Oleh: Sri Herawati, S.P (Pegiat Dakwah)
 
Tujuan Pendidikan Berkarakter
 
Pendidikan berkarakter telah dicanangkan sejak tahun ajaran 2011/2012 yang diberlakukan di semua jenjang pendidikan. Melalui pendidikan berbasis karakter ini, pemerintah berharap bisa menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab. (Kompas, 13 Juli 2011) 
 
Dalam Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah ditegaskan bahwa: "Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab."
 
Pemerintah berharap dengan sistem pendidikan berkarakter, tujuan pendidikan nasional dapat terwujud seperti yang diharapkan. Namun apa kabar peserta didik kita hari ini ??
 
Kriminalitas Pelajar
 
Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencatat kasus tawuran di Indonesia meningkat 1,1 persen sepanjang 2018. Pada tahun 2017 hanya 12, 9 persen, naik menjadi 14 persen. Demikian diungkapkan oleh Komisioner Bidang Pendidikan KPAI  Retno Listyarti. (Tempo.co. Rabu, 12/9/2018)
 
KPAI menangani 1.885 kasus pada semester pertama 2018. Dari angka itu, Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) seperti jadi pelaku narkoba, mencuri, hingga asusila menjadi kasus yang paling banyak. Data KPAI menyebut ada 504 kasus ABH. Kemudian di posisi kedua ada kasus keluarga dan pengasuhan alternatif atau anak yang orangtuanya bercerai dengan 325 kasus. Posisi ketiga, pornografi dan cyber crime dengan 255 kasus. 
 
Dari tahun 2011 hingga 2018, ABH menempati posisi paling tinggi. Kemudian keluarga dan pengasuhan alternatif, demikian diungkapkan Ketua KPAI Susanto. Dalam kasus ABH, kebanyakan anak masuk Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) karena mencuri sebanyak 23,9 persen. Selanjutnya, kasus narkoba 17,8 persen, kasus asusila 13,2 persen dan lainnya. (detikNews. Senin, 23/7/2018).
 
Kapolres Metro Jakarta Barat, Komisaris Besar Hengki Haryadi mengatakan, tingkat kriminalitas di kalangan remaja memiliki hubungan kuat dengan penggunaan narkoba. Sebab dalam berbagai kasus, remaja-remaja yang terlibat kriminalitas itu hampir semuanya menggunakan narkoba.
 
Kasus kriminalitas yang melibatkan remaja itu antara lain pengeroyokan, pencurian, penganiayaan dan tawuran. “Para tersangka menggunakan narkoba dan obat daftar G --seperti tramadol-- sebelum beraksi,” kata Hengki dalam silaturahmi Forum Koordinasi Pimpinan Kota di Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Kamis, 14 Maret 2019.
 
Menurut Hengki, sepanjang 2018 hingga Februari 2019 telah terjadi 141 kaus kejahatan jalanan. Dari semua tersangka yang ditangkap, sebanyak 122 di antaranya adalah remaja yang masih berstatus pelajar SD, SMP dan SMA. ( Tempo.co. Jumat, 15/3/2019).
 
Pendidikan Berkarakter Gagal Membentuk Karakter
 
Data kriminalitas diatas menunjukkan bahwa setelah kurang lebih delapan tahun berjalannya program pendidikan berkarakter, tak membuahkan hasil yang signifikan atau gagal membentuk generasi berkarakter seperti yang dicita-citakan. Mengapa demikian ? 
 
Karena sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini bersandar pada sistem pendidikan sekuler sejalan dengan ideologi yang diemban negeri ini.  Hal yang menonjol adalah dikotomi pendidikan umum dan agama.
 
Ilmu pengetahuan dipelajari hanya sebatas ilmu pengetahuan semata tanpa ada nilai agama di dalamnya. Sementara pelajaran agama mendapat porsi yang sangat minim. Pembuatan kurikulum hanya menitikberatkan pada penyiapan kerja dan bukan pada pembentukan kepribadian siswa.
 
Alhasil sistem pendidikan sekuler materialistik ini telah gagal mewujudkan manusia yang sholeh dan bertaqwa, gagal membentuk manusia berkarakter yang sesungguhnya. 
 
Pendidikan Islam, Pendidikan Karakter Sejati
 
Berawal dari pendidikan dalam keluarga, Islam telah  menanamkan konsep pendidikan dengan bekal aqidah yang kokoh seperti apa yang diajarkan Lukman pada putranya yang tertera dalam Al Qur an  yang mulia. Allah Ta’ala berfirman,
 
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Lukman: 13)
 
Orang tua juga mengajarkan sejak dini putra putrinya untuk berbakti pada orang tua ( QS Lukman : 14-15), mengajarkan bahwa setiap keburukan dan perbuatan dosa, Allah akan membalasnya ( QS Lukman : 16 ), mengajarkan untuk mendirikan sholat, beramar ma'ruf nahi mungkar dan bersabar terhadap setiap cobaan (QS Lukman : 17 ). Tak luput orang tua juga mengajarkan adab ketika berbicara dan bersikap tawadhu ( QS Lukman : 18 dan 19 ).
 
Berbekal semua itu anak akan memiliki aqidah yang kuat, pribadi yang santun dan berakhlak mulia. Modal yang sangat penting untuk berinteraksi dalam kehidupan di luar rumahnya. 
 
Ketika sudah cukup usia anak untuk memasuki jenjang pendidikan formal di sekolah, tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena sekolah akan menerapkan sistem pendidikan berbasis ideologi Islam. Dimana semua materi pelajaran terintegrasi dengan aqidah Islam. Anak didik selain memiliki bekal pengetahuan yang cukup, juga memiliki kepribadian yang kokoh.
 
Tak kalah penting peran masyarakat dalam Islam. Masyarakat berperan mengontrol kehidupan di sekitarnya dengan amar ma'ruf nahy mungkar. Hal ini memungkinkan untuk selalu saling menasehati dalam kebaikan, iman dan taqwa.
 
Hal terpenting adalah peran negara. Negara dengan ideologi Islam yang diembannya, akan menerapkan sistem pendidikan Islam berbasis ideologi Islam, dimana bahan ajar merujuk pada ideologi islam, pengajarnya berkepribadian Islam, dan juga semua sarana dan prasarana pendidikan disediakan oleh negara dengan taraf termaju di zamannya. Pembiayaan pendidikan pun ditanggung oleh negara dan masyarakat bisa mengenyam pendidikan dengan cuma-cuma.
 
Bayangkan bila hal ini terwujud dalam kehidupan,  tak bisa kita pungkiri bahwa pelajar dengan kepribadian yang kokoh dan berkarakter Islam yang kuat akan benar-benar terwujud dan akan menjadi generasi-generasi cemerlang pengukir peradaban. 
 
Tak hanya itu kehidupan pun akan terasa menentramkan karena tindak kriminalitas di kalangan pelajar ditekan seminimal mungkin bahkan bisa tak terjadi kasus kriminalis sama sekali. Demikianlah bila sistem Islam diterapkan, akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
 
Wallahua'lam.
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Sri Herawati
- Dilihat 360 Kali
Berita Terkait

0 Comments