Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 15/07/2019 14:03 WIB

Keluarga dalam Terpaan Isu Gender Equality

Ilustrasi keluarga
Ilustrasi keluarga
DAKTA.COM - Oleh: Rizki Sahana (Pemerhati Anak, Perempuan dan Keluarga)
 
Laporan UN Women berjudul “Progress of the World’s Women 2019-2020: Families in a Changing World” menyebutkan bahwa hak-hak perempuan telah meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir, tetapi ketidaksetaraan dan kekerasan gender dalam keluarga masih saja ada.
 
UN Women, yang dikenal sebagai "Entitas PBB Bagi Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan," mengidentifikasi keluarga sebagai institusi dengan dua sisi.
 
Keluarga bisa menjadi tempat merawat dan melindungi, tetapi sekaligus bisa membawa konflik, ketidaksetaraan dan yang juga sering terjadi, kekerasan. Alasannya, tiga juta perempuan tinggal di tempat-tempat di mana perkosaan dalam perkawinan tidak dianggap sebagai kejahatan, satu dari lima negara memiliki hukum waris yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan, sementara di 19 negara, perempuan diharuskan patuh pada suami tanpa bisa memberikan suara atau pendapat.
 
Di ruang publik, laporan ini menyebutkan perempuan yang sudah menikah kurang berpartisipasi secara signifikan dalam angkatan kerja. Penyebabnya karena perempuan harus melakukan pekerjaan rumah tangga dan layanan tidak berbayar lainnya tiga kali lebih besar dibanding laki-laki.
 
UN Women juga menyampaikan delapan agenda kebijakan yang mencakup hukum non-diskriminatif, layanan publik yang dapat diakses, dan jalur bagi perempuan untuk dapat memiliki penghasilan sendiri. Melalui laporan ini, UN Women menyerukan kepada para pembuat kebijakan, aktivis, dan semua lapisan masyarakat untuk merombak keluarga menjadi tempat kesetaraan dan keadilan.
 
Setali tiga uang, seruan tersebut sejalan dengan isu pemberdayaan perempuan yang diangkat Presiden Joko Widodo saat berbicara pada Sesi III KTT G20 Osaka dengan tema "Addressing Inequalities & Realizing an Inclusive and Sustainable World", Sabtu, 29 Juni 2019. 
 
Menurut Presiden Jokowi, perempuan lebih rajin, lebih tekun, lebih detail, lebih sabar, dan lebih team-work dibanding laki-laki, sementara e-Commerce dan teknologi membutuhkan karakter seperti itu. Menurutnya, meningkatkan partisipasi perempuan dalam bisnis, ekonomi dan politik otomatis akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan daya saing nasional di era digital.
 
Pertanyaannya, benarkah ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender di ranah keluarga menjadi sebab bagi berbagai persoalan perempuan, seperti kekerasan dan kemiskinan? Lalu benarkah pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi menjadi jalan bagi tercapainya gender equality dan keluarnya perempuan dari berbagai masalah?
 
Memang benar, perempuan dan laki-laki harus setara di mata hukum juga diperlakukan secara adil tanpa kecuali. Namun, menggeneralisir kesetaraan antara laki-laki dan perempuan harus ada di segala kondisi, situasi, juga posisi, sangat tidak realistis, bahkan melawan kodrat alami yang telah ditetapkan Pencipta Yang Maha Tinggi.
 
Di ranah domestik, yakni keluarga, Allah membebankan kewajiban pengasuhan dan pendidikan utama berada di tangan perempuan, yakni ibu karena perempuan dengan kelebihan fisik dan kasih sayangnya memang paling layak melakukannya. Allah mewajibkan laki-laki menanggung nafkah anak dan istri, karena Allah melebihkan laki-laki atas kaum perempuan dalam hal tanggung jawab dan kepemimpinan rumah tangga.
 
Posisi atau peran yang telah Allah gariskan bagi laki-laki dan perempuan bukan tanpa tujuan. Tapi untuk menjaga keluarga senantiasa harmonis, sakinah, mawaddah wa rahmah, serta mampu melahirkan generasi cemerlang. Lebih jauh, keluarga-keluarga yang kokoh dan tangguh ini akan men-support negara dalam mewujudkan ketahanan masyarakat.
 
Justru kenyataannya, keluarga-keluarga yang menerapkan kesetaraan gender (gender equality), yakni yang masing-masing anggotanya keluar dari porsi peran yang telah Allah tetapkan dengan menyamaratakan peran antara laki-laki dan perempuan, menuai beragam konflik internal seperti ketidakharmonisan keluarga yang memicu perceraian, serta melahirkan anak-anak generasi yang miskin orientasi karena ditinggalkannya fungsi pengasuhan dan pendidikan oleh ibu. 
 
Dalam jangka panjang, keluarga-keluarga yang rapuh ini akan berkontribusi negatif pada ketahanan masyarakat dan negara.
 
Perlu kita pahami, gender equality dan pemberdayaan perempuan yang sedang digalakkan dewasa ini, khususnya di tataran keluarga, sejatinya membawa visi liberalisasi yang merusak. Sehingga bukan hanya perlu dicermati bahkan harus ditolak. Kenapa? Sebab, gender equality bertentangan dengan prinsip membangun keluarga bermartabat perspektif Islam. 
 
Lebih jauh, pemberdayaan semacam ini tidak pernah terbukti mengeluarkan perempuan dari berbagai persoalan yang membelitnya, justru semakin menjerumuskan perempuan dalam jurang kesengsaraan tiada batas.
 
Perempuan tetap dalam kemiskinannya, dan ditimpa kekerasan sepanjang hidupnya, sebagaimana potret para perempuan dalam kungkungan sistem Kapitalisme Sekular yang dipertontonkan dengan gamblang di Barat.
 
Sementara di lain sisi, Islam sangat memuliakan perempuan. Peran perempuan di ranah domestik sebagai al Umm wa Rabbatul bayt, bukan mendiskriminasinya, malah memperhitungkannya sebagai peletak dasar kebangkitan generasi dengan potensi besar yang Allah tetapkan untuknya.
 
Islam melindungi jiwanya sekaligus menjaga kehormatannya dengan seperangkat aturan yang lengkap, bukan hanya di level keluarga tapi hingga level negara. Bahkan seorang Khalifah pernah menurunkan ribuan tentara hanya untuk menyelamatkan seorang muslimah. Sungguh hidmat yang tak pernah dilakukan oleh penguasa manapun kecuali yang menegakkan Islam.
 
Maka, isu gender equality dalam keluarga diikuti pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi, harus dilihat sebagai upaya menyeret keluarga-keluarga muslim ke dalam pusaran liberalisasi dan menjauhkan mereka dari berpegang teguh pada ajaran Islam. Gender equality bukan hanya tak pernah dikenal dalam Islam, tapi sesungguhnya ide yang absurd, mustahil direalisasikan dalam kenyataan.
 
Karena itu, tidak layak kita membebek agenda Barat yang jelas hendak melenyapkan institusi keluarga muslim. Satu-satunya solusi menyelamatkan perempuan adalah dengan menerapkan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah, kekuatan politik yang terbukti selama berabad-abad menjaga kemuliaan dan kehormatan para perempuan, melindunginya, juga menjaganya dari berbagai ancaman. **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Rizki Sahana
- Dilihat 411 Kali
Berita Terkait

0 Comments