Opini /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 12/04/2019 16:07 WIB

Krisis Generasi: Sumbangsih Demokrasi

Ilustrasi belajar mengajar di kelas
Ilustrasi belajar mengajar di kelas

DAKTA.COM - Oleh: Rizki Sahana (Pemerhati Perempuan, Keluarga, dan Generasi)

 

Demokrasi kembali ditelanjangi. Kebobrokannya semakin tegas tanpa bisa disangkal. Penganiayaan 12 siswi SMA terhadap Audrey (14th) adalah bukti nyata yang demikian terang. Sungguh demokrasi tidak memproduksi kecuali kerusakan tiada henti.

 

Berbagai kebijakan politik yang lahir dari rahim demokrasi telah gagal menyelesaikan problem masyarakat, termasuk problem generasi. Sistem pendidikan tidak mampu menjawab tantangan besar mewujudkan generasi tangguh dan berkualitas.

 

Sistem sosial gagal menghasilkan interaksi sosial yang sehat lagi produktif, sekaligus gagal membendung gaya hidup Barat yang merusak. Sistem hukum dan politik pun kandas menampilkan kepemimpinan yang adil, amanah, dan bertanggung jawab.

 

Sistem pendidikan kita hari ini jauh dari ideal. Kurikulum yang berorientasi pada nilai di atas kertas, bukan pada perubahan pemikiran dan perilaku, menghasilkan anak-anak yang hanya pintar menjawab soal namun tak mampu berpikir kritis apalagi ideologis.

 

Mereka juga berperilaku serba bebas hingga terlibat tindak kriminal. Anggaran pendidikan yang tidak memadai mengantarkan kepada penyelenggaraan pendidikan yang ala kadarnya: fasilitas, sarana dan prasarana, kegiatan belajar mengajar, juga kuantitas, kualitas, dan kesejahteraan untuk tenaga pendidik yang minim.

 

Pendidikan dalam keluarga pun tak memberi bekas berarti. Terlebih ketika keluarga diseret keluar dari zona amanah pengasuhan dan pendidikan yang menjadi kewajibannya.

 

Ayah dan ibu melepaskan tanggung jawab membersamai anak karena terjebak ritme kehidupan yang serba materialistis dan hedonis. Padahal peran dan tanggung jawab ayah-ibu terhadap anak sangat menentukan bagi lahirnya generasi berkualitas.

 

Sistem sosial didominasi oleh berlakunya liberalisme, termasuk melalui tontonan juga pergaulan di media sosial. Anak-anak yang seharusnya sudah terbiasa memelihara interaksinya dengan lawan jenis, menghormati teman, berbahasa santun, dan bersikap lembut, justru menjadi pribadi yang kasar, beringas, juga sadis. Hilang fitrah kebaikan yang tertanam dalam dirinya, karunia Allah sejak manusia dilahirkan ke dunia.

 

Sementara itu, sistem hukum dan politik tak henti menampilkan kezaliman, keberpihakan kepada orang-orang 'kuat', persekusi dan tindakan represif, penuh permainan kotor dan korup, serta ketundukan terhadap kekuatan kepentingan (bisnis kapitalis).

 

Semua ini menggerus kebaikan di tengah masyarakat. Bahkan yang mengerikan, justru mendorong dan menjerumuskan masyarakat juga anak-anak kita ke dalam tatanan kehidupan yang kacau lagi menghinakan. Subhanallah.

 

Berbanding terbalik dengan demokrasi, Islam sebagai sistem terbaik yang pernah ada untuk manusia karena berasal dari Sang Pencipta yang maha sempurna, sepanjang sejarah penerapannya, mampu menyelesaikan berbagai problem masyarakat hingga tuntas. Belasan abad lamanya Islam memimpin, Islam mampu menghasilkan generasi cemerlang (ilmuan-ilmuan polymath) dan membangun peradaban gemilang yang bahkan diakui oleh Barat.

 

Bloom dan Blair menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi (kemampuan melek huruf membaca dan menulis Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa. Karya tulis ditemukan di setiap tempat dalam peradaban ini.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, Islam – A Thousand Years of Faith and Power, Yale University Press, London, 2002, p-105).

 

Sementara itu, Montgomery Watt, menyatakan, ”Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.” (alwaie.id/afkar/barat-mengakui-keagungan-peradaban-di-era-khilafah/amp/).

 

Jacques C. Reister juga berkomen-tar, ”Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.” (alwaie.id/afkar/barat-mengakui-keagungan-peradaban-di-era-khilafah/amp/).

 

Bahkan yang menarik sekaligus mengejutkan, pengakuan tersebut juga muncul dari mantan Presiden AS, Barack Obama, saat berpidato 5 Juli 2009. Obama mengatakan, “Peradaban berhutang besar pada Islam. Islamlah di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar—yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad serta membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa.” (http://jakarta.usembassy.gov, alwaie.id/afkar/barat-mengakui-keagungan-peradaban-di-era-khilafah/amp/).

 

Lalu, bagaimana mungkin kita terus berharap pada demokrasi untuk menuntaskan problem generasi juga problem multidimensi yang membelit negeri sementara dari demokrasilah segala problem itu muncul? Bagaimana mungkin kita hendak mempertahankan demokrasi padahal masa kecemerlangan generasi itu terjadi di bawah naungan sistem Islam? Mari berpikir jernih dengan akal sehat dan hati bersih, demi generasi yang lebih baik. Wallahu a'lam.

Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Rizki Sahana
- Dilihat 276 Kali
Berita Terkait

0 Comments