Opini /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 16/11/2018 10:56 WIB

Metamorfosa Blunder-blunder Politik Kyai Ma’ruf Amin

Calon Wakil Presiden, Ma'ruf Amin
Calon Wakil Presiden, Ma'ruf Amin
DAKTA.COM - Oleh: Hersubeno Arief
 
Hanya butuh waktu kurang dari empat bulan bagi Kyai Ma’ruf Amin untuk bermetamorfosa (berubah bentuk) kembali dari seorang ulama menjadi seorang politisi sejati. Mantan anggota legislatif PPP dan PKB itu terkesan sudah sangat luwes dan piawai, memainkan perannya seperti “politisi” pada umumnya.
 
Dalam pernyataan terbarunya, Ma’ruf mengatakan bahwa sebenarnya dia tidak pernah berniat menjadi cawapres. Karena didorong banyak pihak seperti ulama, akhirnya dia bersedia maju sebagai cawapres Jokowi.
 
“Saya sebenarnya tidak mau jadi cawapres, saya lebih nyaman jadi Rais Aam PBNU dan Ketua Majelis Ulama Indonesia,” kata Ma’ruf saat menghadiri launching buku ‘Arus Baru Ekonomi Indonesia’ di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (13/11).
 
Apa yang dikatakan oleh Ma’ruf mengingatkan kita kepada ucapan Ben Okri, salah seorang  penulis paling terkenal Afrika asal Nigeria. “The magician and the politician have much in common: they both have to draw our attention away from what they are really doing,” ujarnya.
 
Politisi  dan pesulap  itu  memiliki banyak kesamaan. Keduanya menarik perhatian kita menjauh dari apa yang sesungguhnya mereka lakukan. Dengan kata lain mereka mengecoh publik. Bedanya pesulap melakukannya sekedar untuk hiburan. Politisi punya tujuan yang lebih besar, yakni memanipulasi pikiran publik untuk sebuah kekuasaan.
 
Kita pasti belum lupa dengan drama tragedi Mahfud MD yang gagal menjadi cawapres Jokowi di menit-menit akhir pendaftaran pasangan capres-cawapres ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).  Dalam tayangan program Indonesian Lawyer Club (ILC) TV One Selasa (14/8) Mahfud secara gamblang menjelaskan bagaimana Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj dan Ma’ruf Amin menjegal pencalonannya dengan mengancam Jokowi.
 
Saat itu Said Agil mengingatkan bahwa NU akan meninggalkan Jokowi bila tidak menggandeng cawapres dari NU. Mahfud yang hampir pasti menjadi pendamping Jokowi, dalam penilaian keduanya bukanlah representasi dari NU.
 
“Mahfud MD bukan kader NU. Kedekatannya dengan NU hanya sebatas kultural, karena latar belakangnya NU,” kata Said Agil pada waktu itu.
 
Rekam jejak Mahfud yang sangat dekat dengan Gus Dur,  pernah menjadi Penasehat Pengurus Wilayah GP Anshor DI Yogyakarta, dan Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana NU, tidak diakui, demi sebuah posisi cawapres.
 
Dari pengakuan Mahfud juga terungkap ancaman keras PBNU menolak dirinya seperti disampaikan salah satu pengurus PBNU Robikin Emhas, didiktekan oleh Ma’ruf Amin.
 
Penjelasan Mahfud ini sejalan dengan pernyataan Ma’ruf kepada media setelah bertemu Jokowi di Istana, Rabu (8/8). Bila Jokowi tidak mengambil wakil dari NU “ya wabilahit taufik walhidayah,” ujarnya menjawab pertanyaan media. Kosa kata ini merupakan isyarat tegas NU akan meninggalkan Jokowi bila tetap memilih Mahfud MD.
 
Sejarah mencatat Ma’ruf akhirnya yang ditunjuk menjadi pendamping Jokowi. Ma’ruf adalah calon kompromi yang disepakati PBNU, dan partai-partai koalisi. Selain representasi NU, Ma’ruf bisa diterima karena faktor usianya.
 
Dengan usia sudah lanjut (75 th), Ma’ruf bukanlah ancaman bagi para kandidat dari parpol yang akan berlaga pada Pilpres 2024. Kecil kemungkinan dia akan kembali mencalonkan diri sebagai capres. Beda dengan Mahfud, bila dia yang dipilih menjadi cawapres Jokowi, maka peluangnya untuk maju pada Pilpres 2024 sangat besar. Mahfud bisa menutup peluang Puan Maharani “putri mahkota,”  PDIP, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PPP Romahurmuziy, maupun peluang tokoh-tokoh partai lain pasca lengsernya Jokowi yang sudah akan memasuki periode kedua.
 
Godaan kekuasaan
 
Metamorfosa Ma’ruf Amin dari seorang ulama yang sangat dihormati, kembali menjadi seorang politisi “sejati” (real politician), menjelaskan kepada kita betapa besarnya godaan atas kekuasaan. Bahkan seorang ulama yang posisi sangat tinggi seperti Ma’ruf tak kuasa untuk  menghindarinya.
 
Selain Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma’ruf juga Rais Aam PBNU atau Ketua Umum Syuriah PBNU. Jabatan itu sangat tinggi di bidang keagamaan. Namun nampaknya “jabatan akhirat” itu jauh kalah menarik dibandingkan “jabatan duniawi”  di depan mata. Dari kelas “dewa-dewa,” turun kelas menjadi kesatria, yang harus bertempur di medan perang politik.
 
Posisi seorang ulama jelas berbeda dengan pesulap, atau politisi. Ulama jelas harus memegang teguh prinsip ”katakan sebenarnya, walau itu pahit.”Sebaliknya politisi harus bisa mengatakan “Bahwa yang pahit itu manis. Atau setidaknya walaupun pahit, namun ada sedikit manis-manisnya.”
 
Ma’ruf harus bisa mengkompromikan yang “pahit” dengan yang “manis.” Menjelang pendaftaran ke KPU Ma’ruf mengundang kontroversi, karena terlihat sedikit “bergoyang” dan bertepuk tangan,  ketika seorang penyanyi dangdut yang sexy bernyanyi sambil meliuk-liuk menghibur pendukung Jokowi -Ma’ruf.
 
Ma’ruf juga harus berdamai dengan para pendukung Ahok. Sebagai Ketua Umum MUI dia banyak disalahkan karena telah mengeluarkan fatwa Ahok menista Al Quran dan ulama. Karena fatwa inilah jutaan umat Islam berunjuk rasa dalam Aksi Bela Islam 212, dan Ahok dipenjara.
 
Sejak menjadi cawapres media juga mencatat beberapa kali Ma’ruf menyampaikan pernyataan yang kebenarannya perlu dipertanyakan. Dia misalkan pernah menyatakan bahwa pada bulan Oktober 2018 mobil Esemka akan diproduksi besar-besaran. Bulan Oktober sudah berlalu, tetapi mobil yang dibuat sejak Jokowi masih menjadi Walikota Solo itu belum juga terlihat di pasaran.
 
Ketika ribut-ribut soal Habib Rizieq Shihab diperiksa polisi karena adanya “pemasangan” bendera tauhid, Ma’ruf menyatakan Konsulat RI di Jeddah, Arab Saudi membebaskannya dengan jaminan. Penjelasan ini sama dengan klaim Dubes RI di Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel. Belakangan informasi tersebut dibantah oleh Kemenlu dan Habib Rizieq.
 
Ma’ruf juga memicu kontroversi ketika mengklaim hasil pembangunan dengan menyatakan bahwa itu merupakan “dana” milik Jokowi. Bukan hanya itu, dia menyatakan hanya orang budeg dan tuli yang tidak bisa menghargai kinerja Jokowi. Pernyataan ini memancing protes karena dinilai menghina kaum difabel.
 
Sejumlah penyandang tuna netra melakukan unjuk rasa di kantor MUI dan menuntut Ma’ruf minta maaf. Namun dia menolak, dengan alasan ucapannya itu mengutip Al Quran dan tiak bermaksud menghina.
 
Paling baru adalah klaim Ma’ruf bahwa Jokowi adalah santri dari pesantren di Situbondo, Jawa Timur. Di medsos kata Situbondo ini diplesetkan menjadi “Situbohong.”
 
Begitulah godaan kekuasaan, membuat banyak orang bersedia menggadaikan apapun, termasuk prinsip dan idealismenya. Bahkan JK Rowling yang sangat sukses dan super tajir karena buku-buku serial Harry Potter sangat laris di dunia,  dengan rendah hati mengakui “Power was my weakness and my temptation.”  Kekuasaan adalah kelemahan dan godaan terberat baginya. **
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Hersubeno Arief
- Dilihat 703 Kali
Berita Terkait

0 Comments