Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 10/05/2018 10:03 WIB

KaDENSUS 88 Sebaiknya Undur Diri

Mustofa Nahrawardaya
Mustofa Nahrawardaya
JAKARTA, DAKTA.COM - Innalillahi wainnailaihi raaji'uun. Sedih, mencekam, dan mengerikan. Itulah ungkapan kata-kata yang dapat saya ucapkan dalam dua hari ini. Bagaimana tidak. Ada lima anggota Polisi yang rata-rata dari Satuan Elit Densus 88, meninggal mengenaskan di tangan para narapidana terorisme, pada aksi ngamuk mereka sejak Selasa (8/5/208) hingga satu hari berikutnya. 
 
Bahkan untuk menunjukkan kegeraman para pelaku, para narapidana itu bisa memamerkan jenazah korban melalui video yang mereka rekam, lalu disebarkan melalui media sosial ke seluruh dunia. Lebih memalukan lagi, lokasi pembantaian, berada di Mako Brimob, dimana tempat ini dikenal publik sebagai area paling aman dan paling ketat bagi narapidana, bahkan boleh dibilang tidak ada sistem keamanan yang lebih canggih lagi dari Markas Densus 88 ini. Perlu dipertegas, ini jelas telah menampar wajah Kepolisian Republik Indonesia, karena di saat yang bersamaan, Kapolri Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D, sedang di luar negeri mengisahkan keberhasilan Indonesia memberantas teroris. 
 
Tanpa mengurangi rasa duka yang mendalam terhadap para korban dalam tragedi Mako Brimob, gugurnya lima anggota Polri sudah seharusnya dijadikan momen penting dalam rangka upaya membangun kepercayaan publik terhadap lembaga Kepolisian Republik Indonesia. Khususnya Densus 88.  Apalagi, ini bukanlah yang pertama kali. 
 
Tahun 2010, belasan orang (yang belakangan diketahui dijebak menjadi terduga teroris), terbukti  juga dilatih menembak sebulan penuh di tempat yang sama oleh seorang disertir Polisi bernama Sofyan Tsauri. Latihan ini bisa berlangsung dengan aman di Mako Brimob, dan Sofyan Tsauri juga diketahui melakukan transaksi jual beli senjata secara gelap di tempat yang sama, senilai hampir setengah Milyar rupiah. Meski para pelaku telah mendapatkan hukuman, namun tetaplah ini menjadi noda hitam.
 
Kini, tampaknya kejadian berulang. Bedanya, kini para terpidana teroris yang memang sudah lama ditahan di sana, dengan mudahnya bisa membobol gudang senjata dan melumpuhkan dengan mudah para  personil Densus 88, bahkan membunuh para aparat tersebut dengan cara sadis. Jika tidak ada masalah serius di Mako Brimob, tentu peristiwa mengerikan ini tidak bakal terjadi. 
 
Memang unsur dendam pasti ada, karena memang bagi para napi terorisme, anggota Densus 88 dianggap sebagai musuh bebuyutan mereka. Hanya saja, dengan adanya tragedi yang terjadi di Mako Brimob baru-baru ini, tampaknya bakal menimbulkan tandatanya besar bagi masyarakat. Karena selama ini, Densus 88 dikenal publik sebagai Pasukan Anti Teror milik Indonesia yang paling ditakuti di dunia, serta memiliki keahlian yang seolah tidak mungkin dapat dikalahlah oleh korps lain yang serupa. Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Oleh kawanan napi yang telah diringkus dan dipenjarakannya, ternyata personil Densus 88 dapat ditumbangkan begitu saja. 
 
Untuk itu, perlu ada tradisi baru. Dalam rangka bentuk nyata pertanggungjawaban moral dan profesi, sangat penting bagi pejabat terkait melakukan bentuk pertanggungjawaban publik secara kasatmata, secara lelaki, bahkan dengan cara progresif. Bagaimana caranya?  Jika memungkinkan, Mako Brimob dan Densus 88 secepatnya diaudit agar dapat ditemukan dimana letak penyakit di dalamnya sehingga masyarakat Indonesia kembali memiliki harapan. Karena dalam benak Mustofa, dan mungkin juga dalam benak masyarakat, barangkali punya pikiran yang sama: sangatlah kecil kemungkinan Densus 88 dapat semudah itu dilumpuhkan. Karena itulah, Mustofa mengusulkan agar Kepala Densus 88 saat ini pula, menyatakan undur diri. **
 
Jakarta, 10 Mei 2018
Editor : Asiyah Afifah
Sumber : Mustofa B. Nahrawardaya
- Dilihat 756 Kali
Berita Terkait

0 Comments