Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 21/08/2017 08:45 WIB

Pemasaran: Cerita Baik tentang Merek Dagang hingga Merek Diri

merek
merek
Oleh: Eka Yuda Gunawibawa, Pegiat Komunitas Nuun
 
“Kacang, kacang. Tahu, tahu.” suara pedagang asongan memenuhi ruang di dalam bus antarprovinsi. Bunyi-bunyian semacam itu sering kali kita dengar setiap bus kelas ekonomi berhenti mengangkut penumpang di terminal. Para pedagang itu membujuk, merayu, dan menawarkan barang jualannya kepada para penumpang.
 
Kadang kala, para pengasong ini langsung membagikan barang jualannya kepada penumpang, memberi kesempatan calon pembeli untuk melihat dan memegang langsung barang dagangannya. Penawaran semacam ini ialah salah satu contoh strategi pemasaran tradisional yang sering kita temukan di sekitar kita.
 
Di tempat lain seperti mall, pasar, dan stasiun, kita dapat menemukan strategi pemasaran yang berbeda. Setiap produsen berupaya mengepung konsumen dengan berbagai strategi pemasaran. Nyaris di setiap sudut jalan, iklan-iklan bergelantungan, orang-orang dibujuk dan dirayu agar mereka membeli segala macam barang dan jasa. Ke mana mata memandang, tatapan kita akan menumbuk iklan-iklan yang beredar di berbagai media. Segala macam pesan dikarang untuk mempengaruhi perilaku pembelian masyarakat.
 
Para pembuat iklan selalu membuat cerita yang menarik tentang produk yang mereka iklankan. Barang atau jasa yang ditawarkan digambarkan sesempurna mungkin, bahkan melampaui kesempurnaan yang dibayangkan orang-orang, seolah semua kebutuhan dan keinginan konsumen dapat tercapai dengan membeli produk tersebut. Tentu saja kenyataan yang ada seringkali jauh di luar gambaran dalam iklan. 
 
Anak-anak tidak serta-merta menjadi macan setelah memakan biskuit tertentu. Baju putih yang telah berusia puluhan tahun tidak tiba-tiba menjadi seperti baru setalah direndam dalam deterjen tertentu. Iklan yang memang sering membuat citra-citra yang jauh dari kenyataan tidak jarang menghasilkan kekecewaan pada diri konsumen. Seperti kisah warga apartemen yang kecewa karena pengelola tidak memenuhi janjinya sebagaimana yang tertera pada iklan produknya.
 
Para produsen sering lupa bahwa yang terpenting bukan hanya menjual sebuah produk, lebih penting lagi tentang menjual sebuah merek. Pada tulisan sebelumnya, telah dijelaskan perbedaan antara produk dengan merek (brand) (baca: Panduan Ringkas Memahami Merek untuk Pemula). 
 
Menjajakan merek tidak sama seperti menjual sebuah produk. Merek memiliki nilai tersendiri. Bukan hanya nilai tentang kebutuhan dan keinginan terhadap produk, melainkan juga merek memiliki nilai harapan dan kecemasan terhadap sebuah produk.  
 
Ketika harapan seorang konsumen terpenuhi dengan membeli sebuah produk, ia akan bercerita yang sebenar-benarnya melalui media. Pun sebaliknya, konsumen yang merasa kecewa akan bercerita apa adanya. Hal ini sering diistilahkan sebagai advocacy (mengajukan). Dengan kehadiran media sosial, cerita-cerita semacam itu akan sangat mudah tersebar luas di masyarakat.
 
Saat ini, konsumen tidak dapat lagi dihantam secara sembarangan, dijejali iklan, diarahkan fikirannya, atau dibujuk rayu dengan ungkapan konsumen adalah raja. Menurut Hermawan Kartajaya dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun tv swasta, saat ini, konsumen tidak bisa lagi dianggap sebagai raja. Konsumen telah sadar dengan istilah itu. 
 
Mereka telah memiliki posisi yang lebih horizontal. Alih-alih merasa nyaman ditempatkan sebagai raja, para pembeli ini lebih senang bila dijadikan teman oleh para produsen. Konsumen lebih menginginkan posisi yang lebih setara.
 
Konsumen tidak mudah lagi dirayu dengan cerita yang "baik" tentang sebuah merek yang sifatnya hanya membujuk. Referensi tentang sebuah merek telah banyak beredar di media. Konsumen akan memilih merek dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Konsumen akan selalu memilih merek yang dapat memenuhi harapan dirinya.
 
Pada akhirnya, cerita tentang merek ialah cerita tentang sebuah reputasi dan integritas. Sebuah merek dagang tak dapat lagi membangun citra-citra di luar kenyataan yang membodohi masyarakat mengenai produknya. Saat ini, telah banyak orang yang faham, bahwa Zinedine Zidan pandai bermain sepak bola bukan karena (merek) sepatunya, melainkan karena kemampuan yang diasah penuh integritas selama bertahun-tahun. Seseorang yang memakai sepatu dengan jenis, merek, bahkan nomor yang sama dengan yang dipakai Zidan belum tentu memiliki kemampuan mengolah bola seperti legenda Prancis itu.  
 
Menariknya, saat ini, tak hanya merek dagang saja yang membutuhkan reputasi. Karakter seseorang pun membutuhkan reputasi yang baik dan benar demi mendapatkan perhatian masyarakat. Hal ini sering diistilahkan sebagai personal branding.
 
Apakah reputasi diri (personal branding) hadir dalam dirinya atau dibentuk?
 
Citra atau reputasi sebuah merek dagang tidak hadir dengan sendirinya. Ia dibentuk sesuai dengan karakter merek dan target pasar yang hendak dijangkau. Pengelola merek dagang akan membuat warna, logo, tawaran pelayanan, kemasan, dan perangkat promosi lain agar mereka lebih dikenal dan mudah dibedakan dengan produk lain oleh konsumen.
 
Tak jauh berbeda dengan merek dagang, personal branding ialah cerita tentang pengemas-tampilan reputasi diri seseorang, pembangunan citra seseorang melalui berbagai perangkat pengiklanan. Personal branding berkaitan dengan karakter, keahlian profesi, bahkan passion seorang individu. Personal branding dilakukan untuk membentuk karakter yang berbeda dan spesial yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tepatnya, karakter menentukan pola komunikasi dan interaksi sosial.
 
Secara umum, semua manusia akan mempunyai citra di lingkungan sosialnya. Akan tetapi, hal itu berbeda dengan personal branding yang akhir-akhir ini berkembang. Pencitraan akan mendorong seseorang untuk menjadi lebih ekspresif sehingga karakter individu ditampilkan dengan lebih dramatik. Kita dapat melihat beragam manipulasi diri dari banyak orang, khususnya di depan kamera dan di media sosial. Lebih jauh lagi, para politisi dan pesohor seringkali menampilkan tindakan-tindakan yang diusahakan tampak sealami mungkin.
 
Banyak tindakan-tindakan yang secara sengaja dilakukan di depan kamera dengan tujuan  akan dipublikasi secara luas. Tindakan-tindakan seseorang telah dikelola menjadi pesan-pesan tertentu dengan cara-cara tertentu. Harapannya individu ini mendapatkan simpati maupun dukungan dari orang lain secara luas. Kita sering kali melihat seseorang yang seperti sedang melakukan pertunjukkan bagi orang lain di atas panggung. Hidup dan kesehariannya telah menjadi pertunjukan bagi orang lain. Celakanya, banyak orang yang menyukai pertunjukan semacam ini dan menganggapnya hiburan yang menarik.
 
Sebagaimana sebuah barang yang di-branding memerlukan merek, manusia yang mem-branding dirinya pun memerlukan hal ini. Merek dagang dan merek diri sama-sama bercerita tentang nilai dari simbol yang akan melekat pada karakter produk/diri yang diberi merek. Merek akan selalu disampaikan secara baik, dan yang lebih utama (seharusnya) disampaikan secara benar. Harapan dari konsumen maupun masyarakat seharusnya tercapai ketika membeli/memilih merek tertentu. Kita tahu sebuah merek mampu bercerita baik tentang dirinya, namun sulit kita menemukan sebuah merek yang bercerita benar tentang dirinya.
 
Perkembangan teknologi telah mengantarkan berbagai merek ke genggaman kita. Merek-merek barang akan merayu kita untuk membelinya. Sementara merek-merek diri seseorang akan membujuk kita untuk mengulurkan simpati dan dukungan. Boleh jadi, kita diincar saat pemilu berlangsung kelak, atau sekadar “dipaksa” mengagumi seseorang agar segala merek yang diiklankan orang itu kita beli juga.
 
Makin hari, kita harus makin pandai merawat nalar dan kewarasan kita agar merek-merek dan beragam jenis pencitraan tak menghanyutkan kita dari kenyataan, dari kebenaran. 
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 343 Kali
Berita Terkait

0 Comments