Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 17/07/2017 07:15 WIB

Selera Penonton Televisi: Membentuk atau Dibentuk

Ilustrasi televisi
Ilustrasi televisi

Oleh: Azeza Ibrahim, Pegiat Komunitas Kultura

Keprihatinan kita akan maraknya tayangan yang kurang bahkan tidak mendidik di layar kaca seolah tidak pernah menemukan jalan keluar. Belum tuntas serbuan sinetron-sinetron kejar tayang, FTV, acara-acara musik dengan konsep yang jauh dari kreatif dan lebih dekat pada pembodohan, muncul tayangan import dan ceramah agama yang masih mementingkan tawa penonton daripada ilmu.

Kreativitas program televisi kita seolah makin hari makin dipertanyakan. Dari sisi hiburannya kita lihat belum ada terobosan ke arah yang lebih baik, sementara dari sisi pemberitaan, ruang informasi di televisi kita lebih banyak terkooptasi oleh kepentingan politik. Seiring banyaknya tetua partai yang menunggangi mesin medianya atau pemilik media yang masuk kedalam partai politik.

Pemirsa dan penonton televisi yang mayoritas pasif ini tidak dapat berbuat banyak. Sebab utamanya mungkin dikarenakan minimnya kesadaran bahwa sebagai konsumen, pemirsa wajib untuk menuntut tayangan yang lebih baik. Minimnya kesadaran akan kewajiban ini tampaknya dimanfaatkan betul oleh pihak media untuk melanggengkan hegemoninya.

Lihat saja, pada dasarnya komunikasi yang dilakukan media massa adalah komunikasi satu arah, tapi dengan sedikit modal acara dengan konsep interaktif, televisi kita lantas melakukan justifikasi bahwa hasil dari survey interaktif itu menyatakan bahwa masyarakat umum sepakat dengan program-program yang diusung oleh mereka.

Selera Pemirsa, Siapa Mempengaruhi Siapa

Alasan klasik media televisi kita dalam mempertahankan acara serta program yang kurang bahkan tidak mendidik adalah alasan klise, “kita hanya mengikuti selera pemirsa”. Kalau alasan ini sudah dikemukakan, maka giliran rating share memainkan peranannya sebagai justifikasi alias tameng.

Rating menjadi alasan utama televisi mempertahankan sebuah program acara. Karena konon, rating adalah “dalil sahih” tentang seberapa banyak pemirsa yang menyaksikan acara tersebut. Dengan gamblangnya diambil kesimpulan bahwa makin banyak yang menyaksikan berarti banyak yang menyukai acara tersebut.

Jika penjelasannya berhenti sampai disini, maka jelas terlihat seolah argument pengelola televisi bahwa mereka hanya mengikuti selera masyarakat dapat diterima secara logis. Padahal kenyataannya tidak pernah sesederhana itu.

Herbert Blumer, seorang sosiolog dari Amerika membuat konsepsi menarik tentang kumpulan massa. Sebagai kumpulan sosial terbesar yang bersifat cair dan anonym satu sama lain, kumpulan massa tidak merespon isu, perintah, atau fenomena yang ada didalamnya, ini dikarenakan didalam kelompok massa itu sendiri sudah terlalu banyak muncul dinamika.

Walau terlihat tidak memiliki kontrol khusus dalam kelompok massa, uniknya kelompok massa sangat responsive terhadap  isu yang datangnya dari luar. Kesimpulannya, massa dengan jumlah yang banyak ini sifat sosialnya adalah bersikap reaktif dan tidak antisipatif.

Jika dikaitkan dengan teori komunikasi massa yang dikemukakakn seorang profesor pakar komunikasi, Denis Mcquail, yang menyatakan bahwa media massa dengan kekuatan jaringan dan informasinya yang luas memiliki kekuatan untuk memanipulasi massa yang bersifat reaktif terhadap “sesuatu” diluar mereka, maka terbantahlah alasan-alasan klise dari awak media, bahwa ini adalah kemauan masyarakat.

Alasan atau Pembodohan?

Alasan yang dikemukakan bahwa “ini adalah selera pemirsa” atau semisalnya, jika kita renungi baik-baik akan terasa ada kejanggalan didalamnya. Pertama, sebagai institusi yang berkecimpung dalam dunia komunikasi massa, mengemukakan alasan seperti alasan diatas seolah menunjukkan bahwa mereka tidak memahami dasar-dasar teori komunikasi massa.

Apa betul mereka tidak paham?

Akal sehat kita dengan mudah mengatakan bahwa alasan semacam itu tiada lebih dari akal-akalan yang penuh dengan pembodohan. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa lembaga media bonafit macam televisi bisa dengan mudahnya mengeluarkan alasan yang sedemikian?.

Jawaban sederhananya “ini bisnis bung”.

Sejatinya tidak ada yang salah dari konsep bisnis media itu sendiri, tapi masalah besar muncul ketika televisi sebagai media yang bersentuhan langsung dengan public domain mengabaikan tanggung jawabnya dan lebih terfokus pada semangat kapitalisme.

Kalau sudah hitung-hitungan capital alias modal, maka hanya dua perkara yang akan jadi pertimbangan, selain dari dua perkara itu pasti dipinggirkan jauh-jauh, “ini soal untung atau rugi”.

Program acara dengan rating tinggi walau buruk isinya sesungguhnya dipertahankan bukan karena semata-mata itu “selera pemirsa”. Dibalik itu ada kepentingan para pengiklan yang sangat mungkin tidak peduli atas baik atau buruknya sebuah program televisi, asal rating tinggi, produknya banyak dilihat orang, selesai perkara.

Adakah Solusinya?

Seringkali ketika masuk kepada sesi mencari solusi, kita terjebak pada hasrat ingin praktis dan cepat selesai, walau bisa jadi itu hasrat manusiawi, tapi sesungguhnya itu adalah hasrat bermasalah yang merusak. Pertama dan yang paling penting yang harus diingat adalah tidak ada solusi sehari jadi, sejam selesai, atau bisa ditunggu, untuk mengatasi permasalah kompleks macam ini.

Kalau boleh jujur, solusi tentang buruknya acara-acara televisi kita tidak dimiliki oleh generasi ini. Walau tidak mungkin, pastinya tetap sulit untuk menasihati kaum ibu-ibu yang kebanyakan sudah terlanjur kerajingan nonton sinetron, berat untuk menghimbau para pemuda dan pemudi baik di kota dan daerah untuk tidak mengikuti trend palsu dari para artis, aktor, atau penyanyi favorit mereka.

Walau berat, tetap harus ada yang memberikan himbauan dan pemahaman terhadap mereka yang sudah terpapar cukup parah dari efek negative televisi. Tapi harapan terbesar kita ada pada generasi selanjutnya. Yakni pada bibit baru umat ini, tanggung jawab kita bersama sebagai orang yang memiliki kesadaran akan bahaya untuk melindungi dan membimbing mereka. Jangan biarkan generasi harapan ini turut menjadi korban buasnya kontrol opini dan pemikiran di luar sana.

Sementara untuk kita sendiri, mulailah dengan mematikan televisi, karena Kominfo atau KPI belum mau memblokir sinetron kejar tayang.

Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Komunitas Kultura
- Dilihat 161 Kali
Berita Terkait

0 Comments