Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 10/07/2017 09:30 WIB

300 Tahun Freemasonry

logo freemason 1
logo freemason 1
Oleh: Ismail Al-'Alam, Jurnalis
 
Istilah Freemasonry dalam media massa kita amat lekat dengan teori kospirasi yang menyebabkan pelbagai kejadian besar di dunia. Mereka seakan adalah kumpulan manusia yang dengan piciknya merencankan dan menyelenggarakan sesuatu di beberapa tempat tak terjamah, dengan kemampuan tak tertandingi dalam mempengaruhi tokoh dan lembaga politik, ekonomi, budaya, teknologi, dan agama. 
 
Di kalangan muslim, nama itu bersambung jauh ke umat Yahudi yang selalu membangkang para nabi di masa lalu sebagaimana dikabarkan Al-Qur'an, dan dajjal yang dinubuwatkan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam di masa depan. 
 
Di masa ini, menurut penalaran tersebut, mereka tengah melancarkan perang pemikiran (ghazwul fikri) tanpa henti kepada umat Islam. Dalam beberapa bacaan, perang pemikiran yang dimaksud sering dirumuskan dengan 4F: Food, Fashion, Fun, dan Film.
 
Penggunaan bahasa-bahasa seperti "waspada", "bahaya", "terbongkar", dan sebagainya oleh media untuk menggambarkan lembaga ini kerap membentuk perasaan terancam di benak pembacanya. Jika tidak mengiringinya dengan penelusuran lebih lanjut, kita bisa terbawa pada pola pikir abduksi yang lemah secara ilmiah, yakni menghubung-hubungkan kejadian apapun di sekitar kita dengan ulah kaum Freemason berdasarkan temuan-temuan kecil bersifat satuan dan sebagian yang tidak bisa dijadikan penjelasan bagi keseluruhan. Tepat di sinilah penalaran dalam teori konspirasi bekerja.
 
Bagi penikmat dongeng dan cerita-cerita detektif, hal ini tentu mengasyikkan. Karya-karya fiksi yang memasukkan kaum Freemason ke dalam cerita utamanya selalu laris. Filsuf kontemporer, Umberto Eco bahkan tak pernah ketinggalan memasukkan "bumbu ini" ke dalam karya-karya fiksinya. 
 
Namun kepentingan Eco sebenarnya hanya untuk memudahkan pembaca untuk memahami konsepsi semiotika filosofisnya saja, bukan untuk membongkar kerja-kerja kaum Freemason di dunia nyata, sebagaimana diharapkan beberapa kalangan. 
 
Kalaupun ada fakta sejarah yang dirujuk olehnya, itu sekadar bukti keseriusan dalam menulis fiksi, sebab perlakuan yang benar terhadap fakta sejarah adalah dengan menelitinya berdasarkan metodologi ilmu sejarah yang benar.
 
***
 
Jika menelusuriya secara fenomenologis, yakni kembali ke sesuatu itu sendiri dengan melucuti segala prasangka tentang Freemason, kita akan menemukan bahwa mereka hanyalah sekumpulan kalangan sekuler di masa awal Renaisans Eropa yang hendak membentuk sebuah tatanan. 
 
Tatanan yang dimaksud adalah ikatan persaudaraan tanpa sekat primordial seperti agama dan suku bangsa. Hal ini adalah konsekuensi logis dari penemuan kesadaran diri baru masyarakat Barat yang sekuler dan percaya pada gagasan kemajuan bernama modernitas, setelah lepas dari belenggu teologi Kristianitas selama beberapa abad. 
 
Di saat yang bersamaan, upaya reformasi di tubuh Kristianitas sendiri, untuk menuju kepada doktrin yang lebih menghargai akal sehat dan martabat manusia juga terjadi, seperti pada Protestanisme di abad 17 dan (meski amat terlambat) Katolikisme di abad 20. 
 
Kita dapat melihat dan menilai sendiri semangat itu di beberapa laman resmi mereka, yang secara terbuka mengabarkan kegiatan dan menawarkan rektrutmen anggota baru. Tawaran seperti itu tentu menarik minat besar kaum elit di dunia birokrasi dan teknokrasi sekular.
 
Dengan pembacaan yang lebih fenomenologis, meski tentu masih amat sederhana karena keterbatasan tulisan di atas, kita akan memahami bahwa pokok utamanya bukan terletak pada konsiprasi keji yang selalu mereka lakukan di balik layar tanpa sepengetahuan kita, melainkan pada (1) sekularisme dan (2) rasa panik kita sendiri. 
 
Terkait butir pertama, kita bisa mengkaji sekularisme secara ilmiah sebab sedari awal memang tidak ada yang ditutup-tutupi oleh para pemikir dan pengusungnya. Sebagai sebuah pemikiran filosofis, hal itu dapat ditelusuri akar-akarnya sampai ke Aristoteles, dan mendapatkan kemantapannya pada para filsuf modern terutama Descartes dan Immanuel Kant, yang berlanjut terus baik ke para filsuf modernis dan pascamodernis dengan pelbagai paradigmanya. 
 
Turunan dari itu semua adalah ilmu-ilmu pengetahuan kontemporer yang sekular dan membuat kita membaca realitas (alam dan manusia) secara sekular pula.
 
Untuk bisa bertahan dari sekularisme itu, beberapa teolog dari beberapa agama mulai merumuskan suatu teologi sekular yang menggunakan pembacaan hermeneutis terhadap kitab suci dan tradisinya. Keadaan ini adalah suatu kepasrahan klaim kebenaran agama yang sejauh ini mereka pahami di hadapan hukum sejarah.
 
Dengan begitu, apa yang tersisa dari agama adalah manfaat fungsionalnya saja (meminjam istilah sosiolog Emile Durkheim), sebab hanya dengan kesamaan identitas itu para teolog meyakinkan umatnya untuk tidak menjadi ateis-nihilis dan meninggalkan agama mereka sehingga tidak susut secara kuantitas.
 
Cara yang sama seperti di atas sedang diusahakan oleh beberapa filsuf dan teolog muslim yang silau dengan modernitas dan pascamodernitas. Tepat terhadap keadaan inilah, filsuf muslim terbesar abad ini, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, menyebutkan bahwa persoalan terbesar umat Islam adalah ilmu, sebab ilmu-ilmu yang dipelajari mereka di ruang akademik adalah ilmu yang tidak netral atau, lebih tepatnya, ilmu yang sekular. 
 
Beliau dengan tepat menguraikan persoalan-persoalan asasi sekularisme dan memperbandingkannya dengan Islam. Kesungguhan mempelajari ketinggian Islam di tingkat filosofis yang menghasilkan suatu epistemologi dan peradaban luhur di satu sisi, dan mempelajari sekularisme -yang sekali lagi, dapat dipelajari secara ilmiah- di sisi lain, akan membuat kita perlahan mampu mengatasi butir kedua di atas, yakni rasa panik kita sendiri. 
 
Dalam Risalah untuk Kaum Muslimin, beliau menyebutkan bahwa mengenali pokok persoalan adalah setengah dari penyelesaian itu sendiri.
 
Dengan kebiasaan berpikir mendalam seperti itu, kita tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk berpikir konspiratif. Jika pun ternyata ada kekuatan rahasia yang keji di luar sana tengah merencanakan kehancuran bagi kita, mereka pasti punya cara sedemikian rupa yang membuat rencananya tidak mudah dibocori oleh artikel di blog gratisan yang mendulang Dollar tiap kali kita membaca dan membagikannya. 
 
Tugas kita adalah berikhtiar, yakni melakukan yang terbaik semampu mungkin, dan meningkatkan pemahaman kita tentang apa yang terbaik melalui ilmu yang benar. Dalam perkara ini, pemahaman terhadap pandangan Islam terhadap kebenaran dan hakikat menjadi wajib bagi setiap muslim, dan menerapkannya dalam pelbagai bidang ilmu dan kehidupan menjadi wajib bagi sebagian muslim yang terlibat di dalamnya. 
 
Hal ini menyangkut persoalan ekonomi, politik, teknologi, dan agama itu sendiri, supaya pengaruh sekularisme di dalamnya dapat dihadapi dan diatasi, bukan supaya konspirasi keji kaum Freemason dan antek-anteknya dapat dibongkar.
 
Lantas bagaimana dengan rumusan ghazwul fikri menjadi 4F di atas, yang juga dilekatkan dengan Freemasonry? 
 
Baik kesukaan pada makanan (food) pakaian (fashion), dan hiburan (fun dan film) adalah kecenderungan manusiawi. Kalangan hedonis menjadikan pemenuhan atas semua itu sebagai puncak kenikmatan yang harus dicapai, dan praktik ekonomi kapitalistik menjadikan itu sebagai kesempatan menarik bagi akumulasi modal.
 
Hal itu, saat ini, bahkan sering dilakukan oleh umat Islam sendiri yang bahkan belum pernah bersentuhan dengan satu pun anggota Freemason. Lagi-lagi, persoalannya terletak pada ekonomi kapitalisme dan budaya pop yang sekular dan membelenggu pikiran kita.
 
Wallahu a'lam.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : akun linimasa Ismail Al Alam
- Dilihat 738 Kali
Berita Terkait

0 Comments