Harokah Islamiyah /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 04/07/2017 09:00 WIB

Ketika Ilmu Takluk oleh Hawa Nafsu

kitab hadits
kitab hadits

Oleh: Ahmad Kholili Hasib, Peneliti InPAS

Beberapa kali diberitakan, penceramah dan cendekia bicara di depan publik dengan terang-terangan membela pemikiran-pemikiran menyimpang. Ada yang berbicara bahwa orang baik apa pun agamanya akan dijamin mendapatkan tempat baik di sisi Allah. Ketika para ulama mengecam adanya film yang menghina Islam, tiba-tiba saja mereka yang berlatar belakang pendidikan Islam membela penghina Islam.

Banyak yang bertanya-tanya, apakah ilmunya di pesantren sudah dibuang? Kalau dibuang, dibuang dimana. Jika hilang, ‘menguap’ ke mana?

Inilah yang disebut kejahilan. Menolak sesuatu yang sudah benar itu adalah kejahilan. Sebab, jahil bukan sekedar kurang ilmu, tetapi salah informasi. Yang benar disalahkan, yang salah dibenarkan. Biasanya mereka mengingingkan pujian. Atau kedudukan orang yang memiliki kuasa.

Ilmu itu cahaya (al-ilmu nur) yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Maka, llmu yang benar tidak bersekutu dengan hawa nafsu yang menarik kepada maksiat. Karena itu, menaklukkan hawa nafsu harus dengan ilmu. Bila ada seseorang yang justru takluk oleh hawa nafsunya, maka selebar apapun ilmunya akan berubah menjadi jahil, bahkan menyesatkan.

Ia akan menjadi hamba yang maghrur (tertipu). Hawa nafsu menipu dirinya. Sehingga ilmu tidak memiliki daya. Karena dikendalikan oleh nafsu.

Ibnu Mas’ud mengingatkan: “Kalian saat ini berada dalam suatu zaman, yaitu hawa nafsu mengikuti ilmu. Pada saatnya nanti akan datang kepada kalian suatu zaman dimana ilmu mengikuti nafsu” (Imam al-Ghazali, Ihya Ulumuddin 1, hal. 124).

Jadi pengamalan ilmu yang semestinya karena Allah, menjadi terdorong karena nafsu. Baju lahirnya berupa ilmu. Tetapi batinnya adalah nafsu. Dia bisa dijuluki orang ahli ilmu, tetapi hakikatnya orang jahil. Orang jahil berbaju ilmu.

Mereka pandai berdalil, tetapi keliru. Hebat menyebut ayat-ayat al-Qur’an dan hadis Nabi Saw dalam berargumentasi, namun salah tempat. Mereka berdalil, menyebut ayat-ayat Allah Swt atas dasar nafsu. Statemen, pendapat, sikap dan fatwanya mengandung kepentingan dunia.

Orang membangun masjid mendapat pahala. Dalam hadis Nabi Saw, mereka dijanjikan surga. Akan tetapi, jika membangun masjid dengan uang riba, maka bukan berpahala tetapi berdosa. Semangat membangun masjid nya ini didorong oleh hawa nafsu yang tidak dikenalinya sendiri.

Seseorang yang mengotak-atik ayat al-Qur’an dan hadis untuk mencari dalil dibolehkannya mengangkat pemimpin non-Muslim demi menyenangkan penguasa adalah contoh termasuk ilmu yang ditaklukkan oleh nafsu.

Berceramah dengan merendahkan agamanya dan saudara sesama Islamnya, sambil mempromosikan pluralisme agamanya, demi mendapatkan puja-puji dari penguasa adalah juga contoh yang lain.

Syekh Ibnu Athoillah al-Sakandari mengingatkan, nafsu itu bukan hanya bermain-main di ‘wilayah’ maksiat. Tetapi, nafsu  juga bermain dalam ibadah seorang Muslim. Bahkan, nafsu yang menyusup ke dalam ibadah itu lebih sulit dikenali, daripada nafsu yang mendorong maksiat. Sehingga, menghilangkannya pun lebih susah.

Semangat ibadah karena dorongan nafsu ini bahayanya melebihi nafsu dalam maksiat. Mereka yang menjadi pengikut hawa nafsu, bahkan intensitas ibadahnya melebihi ibadah orang pada umumnya.

Ketika  semangat ibadah seseorang sedang naik, maka ada dua kemungkinan; bila dia orang baik, berarti dorongan itu semata karena Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi, jika dia penderita penyakit hati, maka dipastikan dorongan itu karena hawa nafsu.

Mereka ini penyembah hawa nafsu, bukan penyembah Allah Subhanahu Wata’ala. Amalaiyah keagamaannya diletup oleh nafsu, bukan ilmu. Karena itu, biasanya keliru.

Ibnu Athoillah al-Sakandari memberi contoh penyembah nafsu yaitu; seseorang yang semangat beribadah sunnah tetapi malas beribadah wajib. Beliau mengatakan: “Salah satu tanda seseorang itu mengikuti hawa nafsu adalah, bersegera dalam menjalankan ibadah sunnah, tetapi malas menunaikan kewajiban” (Ibnu Athoillah al-Sakandari,Al-Hikam,hal.23).

Beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala itu baik, akan tetapi bila niatnya karena nafsu, maka ibadah itu bisa berubah menjadi maksiat. Sedekah itu ibadah sosial yang baik. Namun bila sedekahnya dipamerkan, menjadi riya. Sedangkan pamer amal sholih dilarang agama.

Seharusnya, marah, bertindak dan diam itu karena Allah Subhanahu Wata’ala. Imam al-Ghazali mengatakan: ‘Ikhlas itu bila kamu diam atau bergerak, hanya karena Allah’. Beribadah karena Allah, meninggalkan maksiat juga karena-Nya. Begitu pula mendukung tokoh fulan semestinya karena Allah, menolak dukungan kepada tokoh fulan, juga semata-mata atas alasan agama.

Sebuah fatwa agama  harus kita terima jika dari ulama yang alim. Jika, hati kita menolak sebuah fatwa ulama disebabkan gara-gara muftinya itu berasal dari lembaga lain, maka ini namanya nafsu. Menolak dan menerima karena dorongan hawa nafsu.

Syekh Ibnu Athoillah al-Sakandari mengingatkan, nafsu itu bukan hanya bermain-main di ‘wilayah’ maksiat. Tetapi, nafsu  juga bermain dalam ibadah seorang Muslim. Bahkan, nafsu yang menyusup ke dalam ibadah itu lebih sulit dikenali, daripada nafsu yang mendorong maksiat. Sehingga, menghilangkannya pun lebih susah.

Semangat ibadah karena dorongan nafsu ini bahayanya melebihi nafsu dalam maksiat. Mereka yang menjadi pengikut hawa nafsu, bahkan intensitas ibadahnya melebihi ibadah orang pada umumnya.

Ketika  semangat ibadah seseorang sedang naik, maka ada dua kemungkinan; bila dia orang baik, berarti dorongan itu semata karena Allah Subhanahu Wata’ala. Akan tetapi, jika dia penderita penyakit hati, maka dipastikan dorongan itu karena hawa nafsu.

Mereka ini penyembah hawa nafsu, bukan penyembah Allah Subhanahu Wata’ala. Amalaiyah keagamaannya diletup oleh nafsu, bukan ilmu. Karena itu, biasanya keliru.

Karena itu, Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan:“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?.” (QS:  Al-Furqan: 43).

Ibadah karena nafsu seperti tersebut di atas adalah menjadikan nafsu sebagai tuan dan tuhannya. Jika segalanya karena hawa nafsu, maka dia menjadikan nafsu sebagai tuhannya.

Karena itu, ber-ilmu haru semata-mata karena Allah Swt. Bukan karena manusia. Atau apapun selain-Nya. Ilmu bisa mengangkat derajat manusia ke level tinggi di akhirat. Tetapi ilmu juga bisa menenggelamkan manusia di dasar neraka. Kuncinya karena Allah atau karena hawa nafsu.

Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : InPas Online
- Dilihat 213 Kali
Berita Terkait

0 Comments