Catatan Akhir Pekan /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 07/06/2017 09:30 WIB

Teliti Ekonomi Pribumi, Mudir PRISTAC Raih Gelar Doktor Sejarah

Syed Alwi Alatas
Syed Alwi Alatas
Oleh: Adian Husaini, Peneliti INSISTS
 
Pada hari Selasa, 30 Mei 2017, bertepatan dengan 4 Ramadhan 1438, Mudir PRISTAC Ponpes at-Taqwa Depok, Alwi Alatas meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu  Sejarah di International Islamic University Malaysia (IIUM). Alwi berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul: ECONOMY OF THE PRIBUMI IN LATE COLONIAL JAVA 1900-1942: CONTINUITY AND CHANGE IN PRIANGAN. 
 
Selama ini, Alwi Alatas dikenal sebagai guru, sejarawan, penulis buku, dan juga Mudir/Direktur PRISTAC (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization). PRISTAC adalah lembaga pendidikan non-formal pesantren setaraf SMA yang berada dalam naungan Pesantren at-Taqwa Depok. (http://www.ponpes-attaqwa.com) 
 
Ada pun tentang disertasinya, menurut Alwi Alatas, isinya berkenaan dengan aktivitas ekonomi masyarakat pribumi di kawasan Priangan di Jawa Barat yang meliputi daerah Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, dan juga Sukabumi serta Cianjur pada akhir era kolonial Belanda. Pada periode yang diteliti ini, yaitu tahun 1900 hingga 1942, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan satu kebijakan baru, yaitu Politik Etis, yang bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat pribumi yang pada masa-masa sebelumnya telah mengalami kemerosotan yang hebat disebabkan kebijakan kolonial yang eksploitatif. 
 
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk  “mengkaji kebijakan ekonomi pemerintah kolonial di Priangan antara tahun 1900-1942 serta dampaknya bagi masyarakat pribumi”. Selain itu, studi ini juga “menjelaskan aktivitas ekonomi masyarakat pribumi di Priangan dalam bidang pertanian dan di luar pertanian serta pola perubahannya selama periode tersebut”.
 
Disertasi setebal 311 halaman ini dibagi dalam tujuh bab dengan proposal penelitian pada bab pertama, diikuti dengan ekonomi Pribumi di Priangan sebelum abad ke-20 pada bab kedua, dan pemaparan tentang kebijakan Politik Etis tahun 1900-1942 pada bab ketiga. Tiga bab berikutnya menjelaskan tentang ekonomi Pribumi di Priangan masing-masing di bidang pertanian, industri, dan kewirausahaan. Bab penutup merupakan kesimpulan dari penelitian ini.
 
Yang bertindak sebagai penguji (examiner) atas disertasi ini adalah Prof. Dr. Wan Kamal Mujani dari Department of Arabic Studies and Islamic Civilization, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof. dr. Saiyid Zaheer Husain Jafri dari Department of History, University of Delhi, India. Keduanya merupakan external examiners, serta seorang internal examiner, yaitu Prof. Dr. Arshad Islam dari Department of History and Civilization, IIUM. Pada sidang disertasi, hanya internal examiner yang dapat hadir, sementara dua orang external examiners tidak dapat hadir, tetapi masing-masing memberikan evaluasinya secara tertulis.
 
Sidang disertasi alwi Alatas dipimpin oleh Prof. Dr. Ismaiel Hassanein Ahmed Mohamed dari Kulliyah of Education, IIUM, dan dihadiri oleh Dr. Elmira Akhmetova dari Department History and Civilization, Asst. Prof. Dr. Wan Suhana Wan Sulong selaku pembimbing (supervisor), seorang sekretaris akademik, serta Prof. Arshad Islam sebagai internal examiner. Sidang dimulai pukul 14.30 waktu Malaysia dan berjalan selama kurang lebih satu jam.
 
Penelitian ini memaparkan bahwa pada era kolonial, khususnya di abad ke-19, telah terjadi eksploitasi ekonomi yang menyebabkan kemunduran serius pada tingkat kemakmuran masyarakat. Hal ini mendorong pemerintah kolonial untuk mengeluarkan kebijakan baru, yaitu Politik Etis, untuk memperbaiki tingkat ekonomi masyarakat pribumi. 
 
Kebijakan ini secara umum memang membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di negeri jajahan, termasuk di Priangan, tetapi ada banyak data yang menunjukkan tentang keengganan atau kekurangseriusan pemerintah kolonial dalam menjalankan kebijakan ini. Perbaikan ekonomi tersebut pada akhirnya tidak sedikitpun mengangkat kedudukan masyarakat pribumi ke tingkat yang sama dengan orang-orang Eropa, tetapi hanya meningkatkan daya beli mereka yang membuat orang-orang Belanda dan Eropa dapat memasarkan produk-produk mereka dengan lebih baik kepada masyarakat pribumi. 
 
Karena itu Harry J. Benda dalam Continuity & Change in Southeast Asia menyebut kebijakan ini sebagai “setengah hati” (half-hearted). Begitu pula Adrian Vickers dalam A History of Modern Indonesia menggarisbawahi bahwa pada periode Politik Etis “basis bagi negeri koloni tetap keuntungan” (the basis of the colony was still profit) dan “kaum liberal memasukkan ‘kecintaan pada orang-orang Jawa’ di dalam laporan-laporan publikasi mereka, tetapi tidak membiarkan hal itu menyentuh kantong-kantong mereka” (the Liberals entered "Love for the Javanese" in their published accounts, but did no let it touch their pockets). Ini terlepas dari kenyataan bahwa mungkin saja ada beberapa pejabat Belanda yang tulus dalam usahanya membantu kaum pribumi.
 
Priangan pada periode yang diteliti ini mengalami beberapa perubahan yang cukup penting di bidang ekonomi. Laporan-laporan memperlihatkan adanya peningkatan kemakmuran di tengah masyarakat pribumi di Priangan. Masyarakat pribumi yang sebelumnya sangat didominasi oleh pertanian dan perkebunan dalam mata pencaharian mereka, kini juga semakin bergeser ke bidang-bidang non-pertanian, walaupun persentasenya masih sangat kecil dibandingkan bidang pertanian. 
 
Semakin banyak masyarakat pribumi yang bekerja di sektor industri dan keahlian seperti tekstil dan batik, pembuatan genteng dan batu bata, menjadi mandor, juru masak, dan lain sebagainya. Bahkan mulai bermunculan pengusaha-pengusaha pribumi yang mengembangkan usaha di bidang keuangan, koperasi perkebunan, tekstil, bahkan dalam hal impor. Usaha-usaha ini biasanya dijalankan dalam bentuk koperasi yang memang mulai berkembang di Indonesia pada dekade kedua abad ke-20. 
 
Di antara contoh usaha yang diterangkan dalam disertasi ini antara lain koperasi teh Madoe Tawon di Sukabumi, bank koperasi Himpoenan Soedara di Bandung, dan beberapa perusahaan tekstil di Majalaya.
 
Usaha-usaha ini mampu bertahan hingga ke akhir era kolonial Belanda, bahkan mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Koperasi petani teh Madoe Tawon, sebagai contoh, berdiri pada tahun 1911 dengan bantuan pejabat kolonial. Modal awalnya sebesar f 3.000, yang baru terhimpun dari para anggotanya pada tahun 1916, di samping modal berupa lahan senilai kurang lebih f 2.000. 
 
Koperasi ini mampu berkembang sehingga beberapa tahun kemudian dianggap sudah mampu mandiri oleh pemerintah kolonial. Madoe Tawon berhasil mengikat kontrak penjualan daun teh dengan sebuah perusahaan teh Eropa. Pada tahun 1923, koperasi ini memiliki total aset dan dana cadangan senilai total f 20.570, dan dividen yang telah dibagikannya kepada para anggotanya hingga ke tahun tersebut adalah sebesar f. 25.887. 
 
Walaupun sempat terpukul depresi ekonomi pada awal 1930-an, koperasi ini mampu bertahan dan kemudian berkembang kembali, hingga pada akhir era kolonial Belanda bisnisnya melebar ke bidang-bidang perkebunan selain teh.
 
Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat pribumi memiliki kemampuan untuk berkembang secara ekonomi sekiranya mereka diberi peluang dan kesempatan yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.
 
Namun, penjajahan yang panjang telah menghilangkan kesempatan ini dan menjadikan masyarakat pribumi tak lebih dari obyek eksploitasi ekonomi. Bahkan ketika pemerintah kolonial bermaksud membayar hutang budinya lewat Politik Etis, hal ini tidak dilakukan dengan sepenuh hati.
 
Dalam kesimpulan penelitiannya Alwi menyebutkan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah kolonial pada periode ini memang secara umum telah membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat pribumi, tetapi tetap tidak ada perubahan pada struktur ekonomi yang ada. 
 
Artinya, masyarakat pribumi tetap berada di level terendah dalam struktur ekonomi di Hindia Belanda, di mana orang-orang Belanda dan Eropa menempati posisi teratas dan orang-orang Cina dan Timur Asing berada di posisi menengah. 
 
Hal ini memperlihatkan secara jelas bahwa pemerintah kolonial tidak membantu dengan sungguh-sungguh upaya perbaikan ekonomi masyarakat jajahan dan bantuan itu tidak diberikan melainkan untuk mengembalikan keuntungan terbesarnya kepada bangsa penjajah sendiri.
 
Presentasi disertasi Alwi Alatas dilanjutkan dengan diskusi singkat dengan para akademisi yang menghadiri sidang disertasi. Para penguji memberikan beberapa saran, baik secara lisan maupun tulisan, terkait sedikit editing bahasa dan beberapa tambahan untuk penyempurnaan disertasi. 
 
Walhasil, Alhamdulillah, Alwi Alatas berhasil meraih gelar doktor dalam Ilmu Sejarah. Kita doakan, semoga ilmu dan gelarnya bermanfaat. 
 
Kehadiran Alwi Alatas, sebagai seorang Doktor Ilmu Sejarah diharapkan akan memperkuat usaha perjuangan ‘meluruskan sejarah’ di Indonesia. Sebelumnya, Dr. Tiar Anwar Bahtiar juga telah lulus doktor ilmu sejarah dari Universitas Indonesia, dengan disertasi tentang sejarah pergulatan pemikiran Islam melawan liberalisme di Indonesia.  
 
Kita berharap, setelah Dr. Tiar dan Dr. Alwi, akan bermunculan para sejarawan muslim yang gigih berjihad dalam bidang ilmu sejarah. 
 
Sebab, ilmu sejarah memegang peranan yang penting bagi kebangkitan suatu bangsa atau peradaban. Seperti ditulis oleh Cendekiawan Muslim, Muhammad Asad dalam bukunya, Islam at the Cross Roads:  “No civilization can prosper – or even exist, after having lost this pride and the connection with its own past…”  Karena itu, bisa dipahami, jika untuk mengebiri kebangkitan peradaban Islam, maka umat Islam diajarkan sejarah yang salah. 
 
Pelajaran sejarah tidak membuat banyak pelajar muslim Indonesia bangga dengan sejarahnya dan bahkan mereka tidak mengenal para ulama dan pejuang Islam Indonesia. 
 
Ketika bicara tentang sejarah pendidikan Indonesia, anak-anak sekolah tidak mengagumi KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, Mohammad Natsir, dan lain-lain, sebagai tokoh pendidikan nasional.  Mungkin banyak anak-anak muslim di Jakarta dan sekitarnya saat ini yang tidak mengenal dan mengagumi Habib Usman, KH Abdullah Syafii, KH Noer Ali, dan sebagainya.  Jika kenal saja tidak, bagaimana mereka akan mengagumi dan menjadikan para ulama itu sebagai panutan? 
 
Karena itulah, untuk mewujudkan kebangkitan umat Islam dan bangsa Indonesia, kita menunggu dan berharap kiprah Dr. Alwi Alatas, Dr. Tiar Anwar Bahtiar, dan para sejarawan muslim lainnya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada para ilmuwan pejuang tersebut. Amin. (Depok, 7 Juni 2017). 
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Adian Husaini
- Dilihat 131 Kali
Berita Terkait

0 Comments