Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 29/05/2017 07:00 WIB

Ramadhan: Sangkakala Kematian Posmodernisme

Postmodern culture identity
Postmodern culture identity
Oleh: Andika Saputra, Pimred Komunitas Kultura
 
Manusia-Hasrat Posmodernisme
 
Sebagai sistem budaya yang sedang mendominasi, kerusakan demi kerusakan yang diakibatkan Posmodernisme hampir tidak dapat dihindari oleh manusia di berbagai belahan dunia. Di antaranya ialah umat Islam yang tidak dapat menghindar dari dampak buruk Posmodernisme sebab sifatnya yang hegemonik dan bertentangan dengan asas-asas keyakinan Islam di satu sisi dan ketidak-mampuan umat Islam merumuskan dan mempraktikkan sistem budaya alternatif yang memungkinkannya dapat keluar dari alam budaya Posmodernisme di sisi yang lain. 
 
Kerusakan terbesar yang diakibatkan sistem budaya Posmodernisme, dengan demikian turut dirasakan umat Islam, ialah krisis kemanusiaan akibat menggeser hakikat manusia dari manusia-religius menjadi manusia-hasrat. Inilah akar dari berbagai kerusakan lain yang diakibatkan Posmodernisme. 
 
Gilles Deleuze dan Felix Guattari, sepasang filosof asal Prancis mengandaikan sistem budaya Posmodernisme bagaikan mesin hasrat. Sebuah mesin yang terus memompa hasrat manusia untuk mencapai kenikmatan yang bersifat permukaan. 
 
Posmodernisme hanya mampu menawarkan kenikmatan-permukaan karena perhatiannya pada tubuh yang merupakan muara bagi aliran hasrat. Agar tubuh menjadi pusat bagi manusia, maka jiwa yang merupakan hakikat manusia terus menerus disibukkan untuk memenuhi kebutuhan tubuh hingga terjerat pada tubuh dan tunduk pada kendali hasrat untuk mengurusi tubuh. Jiwa kehilangan kendalinya terhadap tubuh dan beralih pada hasrat sebagai pemegang kendali penuh bagi tubuh dan jiwa manusia.
 
Dengan mesin hasratnya, Posmodernisme bertujuan membebaskan seluruh saluran hasrat manusia. Untuk mencapainya segala penghambat saluran hasrat harus disingkirkan. Penghambat paling tangguh bagi hasrat tentu saja Tuhan, sehingga tidak ada cara selain pengakuan terhadap-Nya dibungkam dan otoritas-Nya digugat. Otoritas Tuhan dialihkan kepada hasrat. 
 
Pengalihan otoritas Tuhan kepada hasrat memuluskan Posmodernisme untuk meneguhkan kedudukan hasrat sebagai penentu benar dan salah, baik dan buruk, indah dan tidak indah. Singkatnya dalam sistem budaya Posmodernisme, hasrat adalah timbangan bagi segala sesuatu. 
 
Menyingkirkan Tuhan berarti menyingkirkan batas-batas yang seharusnya tidak boleh dilalui manusia. Peringatan dari Tuhan agar manusia tidak melebihi batas dan tidak berlebih-lebihan telah dikosongkan dari makna, sehingga hanya tersisa teks yang bebas dipermainkan apalagi ditolak lalu ditinggalkan untuk merayakan kebebasan. 
 
Posmodernisme memang tidak menghendaki batas karena batas adalah hambatan bagi kebebasan dan tentu saja bagi aliran-bebas hasrat. Pelepasan hasrat secara berterusan mensyaratkan sebuah kondisi kebebasan-mutlak yang dicapai dengan cara peluruhan seluruh dinding-dinding batas. Dengan begitu, ciri khas wajah budaya yang diproduksi mesin hasrat Posmodernisme adalah budaya nir-batas di mana segala sesuatunya diperbolehkan dan disahkan untuk tujuan mencapai kenikmatan-permukaan. 
 
Manusia yang memiliki fitrah sebagai makhluk-religius, makhluk yang menyandarkan dirinya kepada Tuhan semesta alam, bahkan dirinya adalah milik Tuhan, oleh Posmodernisme diturunkan derajatnya menjadi manusia-hasrat; makhluk yang dikuasai dan dibimbing oleh hasrat. Untuk mewujudkan manusia-hasrat, Posmodernisme melakukan dua strategi. 
 
Pertama, Posmodernisme menggeser ketergantungan manusia kepada Tuhan untuk dialihkan kepada hasrat yang diposisikan sebagai sumber daya kehendak dan gerak manusia. Kedua, Posmodernisme memutuskan ikatan dan hubungan manusia dengan Tuhan yang menyebabkan berubahnya status manusia menjadi sepenuhnya profan. Kedua strategi tersebut direalisasikan dengan cara mengeluarkan manusia dari kedalaman dirinya agar berkutat pada permukaan tubuh dan memunculkan keterpesonaan pada tubuh. 
 
Pada akhirnya tubuh menjadi pusat perhatian manusia sebagaimana dikehendaki Posmodernisme. Dengan demikian, makhluk-hasrat adalah manusia yang telah dihilangkan dimensi metafisika yang melekat pada dirinya hingga hanya tersisa tubuh yang menjadi pusat bagi diri kemanusiaannya. 
 
Perkara konsumsi menjadi tidak terhindarkan karena tubuh memang identik dengan persoalan konsumsi. Konsumsi adalah cara yang ditawarkan Posmodernisme untuk mencapai kenikmatan-permukaan. Manusia-hasrat tidak lagi dapat mengakses kenikmatan-spiritual karena dari dirinya hanya bersisa tubuh yang hanya mampu memberikan kenikmatan-permukaan. 
 
Kenikmatan didapatkan dari hasrat yang dipompa dan disalurkan melalui kegiatan konsumsi, persis sebagaimana kalangan pecandu olahraga ekstrim merasakan kenikmatan saat andrenalinnya terpompa maksimal. Semakin konsumtif menandakan semakin tinggi tingkatan hasrat yang berarti semakin tinggi kadar kenikmatan didapat. 
 
Jika dibalik, untuk mendapatkan kenikmatan yang semakin meluap maka kadar hasrat harus terus ditingkatkan yang disalurkan dalam bentuk kegiatan konsumsi yang semakin intens. Inilah kait hubungan antara hasrat-kenikmatan-konsumsi yang berupaya diajegkan Posmodernisme.
 
Membuka seluruh saluran hasrat mengharuskan Posmodernisme membuka seluruh saluran konsumsi agar aliran hasrat dapat optimal tersalurkan dan tidak tertahan karena terbatasnya saluran keluaran. Posmodernisme melakukan perluasan wilayah konsumsi dari konsumsi yang bersifat utilitarian menghabiskan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan tubuh sampai konsumsi yang bersifat simbolik untuk mendapatkan kenikmatan nilai-tanda yang disematkan pada produk. 
 
Perluasan wilayah konsumsi dimungkinkan setelah Posmodernisme meniadakan batas-batas, sehingga dicapai suatu keadaan nir-batas yang membolehkan segala sesuatu dikonsumsi tanpa batasan objek, waktu dan kadar kecukupannya.
 
Agama tidak lepas menjadi objek konsumsi dalam sistem budaya Posmodernisme setelah dikosongkan dari otoritas Tuhan dan disingkirkan dimensi kedalamannya hingga hanya tersisa simbol-simbol. Simbol-simbol inilah yang dibajak oleh Posmodernisme untuk dikonsumsi. 
 
Konsumsi simbol-simbol agama tidak serta merta dapat dilakukan sebelum menyingkirkan maknanya semula yang bermuatan nilai-nilai transendental dan memproduksi makna baru yang bersifat profan. Jadilah simbol suatu agama bebas digunakan oleh siapa pun, kapan pun, di mana pun dengan makna apa pun. 
 
Sebagai contoh sederhana, simbol salib yang disakralkan umat Katolik digunakan oleh seorang penyanyi dan kemudian diikuti olah banyak fansnya atas dasar mengikuti gaya si penyanyi tanpa meyakini nilai-nilai religius yang melekat pada simbol tersebut. 
 
Di kalangan umat Islam sendiri, jilbab sebagai simbol keshalihan dibajak untuk kepentingan kontes musik tanpa mengurangi intensitas goyang pinggul dan pemilihan lagu yang lepas dari nilai agama. Termasuk pula penyematan simbol agama pada karyawan Mall saat hari besar perayaan agama dengan tujuan menarik pengunjung untuk datang dan berbelanja.
 
Konsumsi yang nir-batas memunculkan kontradiksi dalam wajah kebudayaan Posmodernisme, sebagaimana contoh sederhana di atas. Hanya hasrat yang memungkinkan dipelihara dan dirayakannya kontradiksi, sementara akal berupaya mengeliminasi kontradisksi dengan menggolongkannya sebagai kecacatan penalaran. 
 
Hasrat tidak membutuhkan akal, sebab akal sebagaimana Tuhan dan sebagai salah satu fakulti kebenaran yang diberikan Tuhan kepada manusia justru membatasi hasrat untuk tampil dan mengalir bebas. Kontradiksi hanya muncul dalam kondisi di mana akal tidak hadir untuk menegaskan batas-batas. 
 
Karena itu kegiatan konsumsi dalam alam budaya Posmodernisme yang berdasar hasrat adalah konsumsi tanpa berdasar akal sehat.
 
Krisis kemanusiaan dengan efek-domino yang diakibatkan sistem budaya Posmodernisme memunculkan gelombang pemberontakan. Di Barat sendiri berbagai upaya telah dilakukan untuk keluar dari jerat alam budaya Posmodernisme, di antaranya dengan cara menyibak kembali jalan spiritualitas. 
 
Pun tidak sedikit para ahli Barat berupaya mencari celah dan mendobrak mesin hasrat agar berhenti. Nyatanya Posmodernisme terus bergulir mencapai titik ekstrimnya hingga memunculkan Nihilisme dan Fatalisme sebagaimana dialami Jean Baudrillard, seorang sosiolog dan ahli Posmodernisme asal Prancis yang berucap, “Hanya kematian yang dapat mengeluarkan kita dari Posmodernisme”. 
 
Pernyataan Baudrillard tersebut menandakan ketidak-mampuan kalangan Barat menemukan jalan keluar dan menyelamatkan manusia dari kehancuran yang diakibatkan Posmodernisme.
 
Lalu bagaimana dengan Islam? Mampukah Islam menghadapi dan mengakhiri Posmodernisme? Dapatkan Islam menyelamatkan manusia dengan mengembalikannya kepada fitrah sebagai makhluk-religius? Islamkah solusi yang dicari kalangan Barat untuk mengeluarkan mereka dari jerat Posmodernisme? Inilah yang menjadi inti pembahasan tulisan saya.
 
Kematian Posmodernisme
 
Islam mengambil posisi yang berseberangan dengan Posmodernisme. Dengan kata lain, Posmodernisme bertentangan dengan Islam. Konsep manusia-hasrat yang diusung dan berupaya diwujudkan Posmodernisme tidak mendapatkan ruang di dalam Islam, bahkan Allah mengecam manusia yang memperturutkan hasratnya apalagi menuhankan hasratnya. Di dalam al-Qur’an, Allah menyandingkan pengikut hasrat (hawa nafsu) dengan kesesatan, kedzaliman, mengingkari kebenaran, ketiadaan ilmu. 
 
Perbedaan pandangan antara Islam dan Posmodernisme mengenai kedudukan dan nilai hasrat menjadikan keduanya tidak memiliki titik-temu, sehingga tidak mungkin dicapai rumusan damai apalagi sinergi antara keduanya.
 
Islam memiliki Ramadhan untuk membebaskan manusia dari hegemoni sistem budaya Posmodernisme. Masuknya waktu bulan Ramadhan adalah petanda tabuhan genderang perang melawan Posmodernisme. Ramadhan selama sebulan penuh merupakan masa peperangan yang dahsyat, jihadul akbar umat Islam melawan hasrat yang dipuja dalam alam budaya Posmodernisme. 
 
Bagi para pemenangnya; para pemenang Ramadhan, yakni orang-orang yang telah berhasil merebut kembali hakikat kediriannya sebagai manusia-religus, yang berarti berhasil menghentikan kerja mesin hasrat Posmodernisme, berhak memasuki pintu kemenangan dan merayakannya dalam suasana Idhul Fithri.
 
Selama sebulan penuh Ramadhan mendidik tubuh dan jiwa manusia dalam tiga tingkatan pendidikan. Pendidikan pertama, Ramadhan menghendaki berpuasanya tubuh dari kegiatan konsumsi berupa makan, minum dan hubungan suami-istri. 
 
Berpuasanya tubuh dari kegiatan konsumsi merupakan jalan bagi manusia untuk melepaskan jerat tubuh dan keterpesonaannya kepada tubuh dengan cara menutup saluran hasrat. Inilah tahap pertama pendidikan Ramadhan di mana manusia mengalami perlawanan sengit untuk merebut kembali kendali terhadap tubuhnya yang dikuasai hasrat.
 
Memenangkan pertempuran melawan hasrat memampukan manusia menjaga jarak dari tubuhnya. Hasrat tidak lagi menguasai dirinya, justru kini dirinya yang menguasai hasrat. Pertanda dari orang-orang yang lulus dari pendidikan pertama Ramadhan adalah dapat mengontrol kegiatan konsumsi sekedar untuk memenuhi hak tubuh, tidak berlebih-lebihan dan menaati batas-batas konsumsi yang telah ditetapkan Allah. 
 
Contoh saja, saat berbuka puasa ia mampu mengendalikan konsumsi sebatas mengisi perut dan membasahi tenggorokan sekedar untuk menegakkan tubuhnya agar dapat beribadah.
 
Bagi yang kalah dalam pertempuran, bisa jadi ia tetap berpuasa dan merasa telah menundukkan hasrat, tapi yang terjadi justru hasrat meneguhkan kendali terhadap tubuhnya. Hasrat memiliki mekanisme untuk membuat saluran baru jika saluran yang telah ada ditutup. 
 
Puasa menutup saluran konsumsi makan, minum dan hubungan suami istri yang mendorong hasrat membuat saluran baru yang berujung pada kegiatan konsumsi yang lain, seperti berbelanja baju atau pergi ke salon untuk mengalihkan perhatiannya dari menahan lapar dan haus. 
 
Hasrat semakin menggedor keras ketika waktu berbuka telah dekat dengan mengendalikan lidah untuk mencicipi berbagai jajanan dan mengendalikan perut untuk memakan seluruh yang dilihatnya. Begitu berbuka, hasrat dipompa mengalir deras yang mendorong munculkan kegiatan konsumsi nir-batas hingga tubuhnya terasa berat untuk sekedar tegak beribadah.
 
Pendidikan kedua, setelah keluar sebagai pemenang dari pertempuran melawan hasrat dan memegang kembali kendali terhadap tubuhnya, Ramadhan mengajak manusia menemukan kembali hakikat kediriannya dengan menyelami kedalaman jiwa. 
 
Tubuh yang absen dari perkara konsumsi memungkinkan manusia mengalihkan perhatiannya dari tubuh kepada jiwa. Menyelami kedalaman jiwa bertujuan untuk menyambung kembali tali ikatan dirinya dengan Allah yang telah mengendor bahkan terputus sebagai akibat dari terhanyut dan tenggelam dalam persoalan tubuh dan kesenangan-permukaan. 
 
Melalui ibadah, yakni ibadah lahir yang diikuti ibadah bathin, tali yang kendor kembali kencang dan tali yang putus kembali tersambung. Ramadhan memungkinkan percepatan bagi umat Islam untuk mengikat-erat kembali dirinya kepada Allah melalui intensitas ibadah yang lebih tinggi daripada bulan-bulan lainnya.
 
Melalui peningkatan ibadah, Ramadhan mendidik umat Islam untuk menyelaraskan kembali tubuh dan jiwanya. Berpuasanya tubuh untuk membendung hasrat diikuti berpuasanya jiwa untuk membersihkan segala penyakit bathin. 
 
Hasil dari ibadah yang beriringan adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dengan jiwa sebagai hakikat manusia dan tubuh sebagai cermin bagi jiwa, sehingga bersihnya jiwa akan terpancar dari tunduknya tubuh. Lenyap sudah kontradiksi antara tubuh dan jiwa, keduanya berwajah tunggal yang disinari cahaya Allah. 
Tidak ada lagi pemakai jilbab yang jiwanya ingkar kepada Allah dan tidak ada lagi lidah yang fasih mengutip ayat-ayat Ilahi tapi di dalam jiwanya tersimpan niat merusak agama Allah. Para pemenang dari pendidikan kedua mendapatkan kembali statusnya sebagai manusia-religius yang ditandai dengan berkuasanya kembali jiwa terhadap tubuh dan tersambungnya kembali jiwa kepada Allah. 
 
Pada tingkatan pendidikan yang terakhir, yakni pendidikan ketiga, Ramadhan mendidik manusia untuk menjaga jarak dari dirinya sendiri. Ramadhan tidak lagi mengajak manusia melakukan gerak ke dalam jiwa, tapi gerak ke atas mencapai sumber kehendak jiwa hingga jiwanya lebur di dalam kehendak Ilahi. 
 
Bagi orang-orang yang mampu mencapainya, ia melihat jiwa dan tubuhnya sebatas wadah bagi Allah untuk merealisasikan kehendak-Nya di muka bumi. Inilah kondisi ketertundukan total seorang hamba kepada Tuhannya yang ditandai dengan kemampuan menyingkirkan kehendak dirinya yang bersifat personal. 
 
Kehendak Allah menjadi kehendak dirinya. Dalam kondisi ini tidak berarti hasrat hilang, tapi diarahkan semata untuk menuju Allah sebagai satu-satunya Dzat yang patut untuk dihasrati. Kegiatan konsumsi yang dilakukan, begitu juga dengan kegiatan lainnya, memiliki muatan spiritual karena dijadikan sebagai jalan menuju Allah. Dirinya tidak lagi memerlukan kenikmatan-permukaan karena telah digantikan dengan kenikmatan-spiritual sebagai buah kedekatan dirinya dengan Allah. 
 
Luluh lantah sudah Posmodernisme sebab satu persatu pilar penyangganya dirobohkan Ramadhan dengan cara meneguhkan batas, meniadakan kontradiksi, membendung hasrat dan menggali kedalaman. Inilah solusi konkrit yang dimiliki Islam untuk menjaga fitrah manusia sebagai makhluk-religius; makhluk yang senantiasa terhubung dengan Tuhannya. 
 
Perlu dicatat, kemampuan Ramadhan mengakhiri Posmodermisme bersifat potensial. Tinggal dibutuhkan kemampuan dan kesungguhan umat Islam untuk menjadikannya faktual. Kalau saja umat Islam menyambut Ramadhan dengan suka cita, menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan menjaga semangatnya pada sebelas bulan setelah Ramadhan, dipastikan mesin budaya Posmodernisme akan terhenti, alam budayanya akan runtuh dan sistem budayanya akan tercecer tak lagi bermakna.
 
Tidak ada kata penutup yang tepat selain, Ramadhan adalah sangkakala kematian bagi Posmodernisme! Mari kita wujudkan!
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Andikasaputra.net
- Dilihat 307 Kali
Berita Terkait

0 Comments