Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 18/04/2017 09:00 WIB

Video Iklan Ahok-Djarot Dalam Tinjauan Falsafah Seni

scene iklan kampanye ahok djarot
scene iklan kampanye ahok djarot
Oleh : Yogi T. Rinaldi, Mahasiwa Pasca Sarjana CASIS-UTM
 
Beberapa hari lalu netizen sempat digemparkan dengan beredarnya video kampanye terakhir Paslon nomor urut 2 Pilkada DKI. Video yang sempat viral ini mendapat respon yang luas dan bahkan berbagai kecaman. Video ini dianggap provokatif dan memecah-belah kesatuan, sekalipun tema yang diangkat adalah kebhinekaan. 
 
Sebagian netizen juga menganggap video ini menyerang kelompok tertentu, menyudutkan, dan menebar kebencian. Dalam tulisan ini saya tidak akan membedah setiap cuplikan dan memverifikasi adakah sesuai fakta atau tidak, tetapi akan meninjau video ini berdasarkan tilikan falsafah seni. 
 
Saya melihat hal ini sangat penting karena tidak semua orang sadar dan mengetahui falsafah yang mewarnai video ini dan dampak yang ditimbulkan darinya bagi suatu masyrakat.
 
Drama Tregedi Menurut Plato dan Aristoteles
 
Di dalam Estetika (falsafah keindahan dan seni) terdapat pembahasan mengenai imitation. Plato dan Aristoteles bersetuju bahwa karya seni merupakan satu bentuk imitation (tiruan) dan representation (perlambangan) dunia luar. 
 
Tetapi mereka berbeda pendapat mengenai status ontologi dan epistemologi karya seni. Sama secara imitation, masing-masing karya seni berbeda dalam hal cara (manner) pengungkapan, objek (objects) tiruan, dan alat atau medianya (means). Persoalan ini banyak dibahas oleh Plato di dalam karyanya Republic dan Aristoteles di dalam Poetics.
 
Seni pertunjukan tergolong dalam bentuk imitation. Salah satu seni pertunjukan yang berkembang di masa Yunani Kuno dan paling terkenal adalah seni teater atau drama. 
 
Menurut Aristoteles, final cause atau tujuan dari drama ini adalah munculnya perasaan tertentu dari para penonton (the arousal of the specific emotions of spectators) sebagai akibat yang ditimbulkan dari lakonan drama. Perasaan yang hendak dimunculkan adalah kesedihan meratapi kesengsaraan hidup. 
 
Drama itu sendiri haruslah mengisahkan suatu tragedi yang mencerminkan keadaan masyarakat semasa itu. Oleh karena itu protagonis terbaik adalah seorang pahlawan yang bernasib tragis sebagai bentuk tiruan terbaik (a tragic hero as a well-made imitation) dalam “drama” kehidupan nyata, yang sengsara (baca: dikhianati) setelah berjasa. 
 
Kemudian unsur lain yang penting dalam drama adalah alur (plot) yang mengaliri kisahnya. Hal ini karena kejelasan cerita dan kesan perasaan yang ditimbulkan amat bergantung pada alur. Ia bermula dari penggambaran masalah yang sederhana sampai pada klimaksnya dan akhir sekali alur ini haruslah menjadi katarsis, penawar perasaan sedih-haru itu.
 
Drama menjadi salah satu karya seni terbaik dalam menyampaikan makna. Sebab salah satu media yang digunakannya adalah bahasa. Bahasa dapat menyampaikan pesan atau maksud secara jelas dibandingkan dengan simbol, gambar, atau bunyi. 
 
Seniman dan ahli falsafah seni kontemporer mengakui bahwa seni lebih cenderung kepada perasaan dibandingkan pemikiran; bahwa karya seni (terutama seni rupa dan musik) haruslah dinilai dan diapresiasi berdasarkan rasa, bukan pemikiran rasional. 
 
Oleh karena itu mereka meragukan karya seni jenis ini dapat menyampaikan makna secara baik dan jelas seperti halnya bahasa. Akhirnya mereka menerima faham seni untuk seni. Seni bukan untuk menyampaikan makna, oleh karena itu tidak perlu membuatnya bermakna atau mampu menyampaikan makna. Kemampuan menyampaikan makna dan kesediaan menerimanya adalah milik jiwa. Ketiadaan makna dalam karya seni ini menandakan seni masa kini adalah seni yang tak berjiwa (soulless). Pemahaman ini juga memunculkan kenisbian di dalam seni, baik secara epistemologis maupun etika. Sebaliknya seni teater, sebagai bentuk seni yang menggunakan media bahasa, masih mungkin untuk ditafsirkan.
 
Plato pada umumnya menolak segala bentuk karya seni, selain karena ia merupakan bentuk imitasi dunia luar, dan dunia luar itu sendiri adalah bentuk imitasi dari dunia idea (the imitation of imitation of the Original). Oleh karena imitasi bersifat palsu, secara epistemologis ia diragukan dapat menyampaikan pengetahuan dan kebenaran. Selain itu, Plato juga tidak menyukai karya seni terutama drama yang berdasarkan faham kesengsaraan hidup (tragedy). Plato juga menganggap karya seni lebih cenderung kepada perasaan semata-mata yang sering kali menindas rasionalitas. Dan demikian itu dapat membawa kepada lahirnya keruntuhan moral dan kebiasaan buruk di tengah-tengah masyarakat. Contoh nyata, beberapa bulan lalu, beredar satu video yang menayangkan seorang anak dan ibunya baper (menangis tersedu-sedu) setelah mengetahui Si Boy dalam sinetron Anak Jalanan diceritakan meninggal. Seperti inilah tujuan yang hendak dicapai di dalam drama. Ini adalah contoh apresiasi yang berlebihan yang mencampakkan akal sehat. Keadaan masyarakat seperti ini, menurut Plato, tidak layak memikul amanah sebagai pemerintah dan tidak mungkin dapat mendirikan cita-cita Negara Sempurna atau Republic menurutnya.
 
Meninjau Video Kampanye Ahok-Djarot
Video ini pada intinya ingin menyampaikan dua pesan utama; tentang tragedi terancamnya kebhinekaan dan sang pahlawan. Video ini dimulai dengan cuplikan beberapa detik yang mengambarkan persoalan-persoalan kebhinekaan. Persoalan yang merintangi kebhinekaan serta oknum/kelompok yang anti keberagaman akan dianggap sebagai ancaman dan musuh yang hendak ditumpas oleh sang pahlawan. Di akhir sekali, Ahok-Djarot muncul sebagai citraan pahlawan itu, perlambang kebhinekaan dan pembawa harapan bagi mengentaskan tragedi ini.
 
Sekalipun seni perfilman belum muncul di masa Yunani Kuno, tetapi ia dapat dikategorikan sebagai bentuk advanced dari seni teater atau drama. Sehingga membandingkan video ini dengan gambaran mengenai drama di masa lalu menjadi apple to apple. Berdasarkan penjelasan mengenai seni dan drama di atas, kita mendapati bahwa video ini sesungguhnya bernafaskan tragedi dari Yunani Kuno. Video ini menayangkan “drama” kehidupan masyarakat Jakarta yang dianggap, oleh kelompok tertentu, telah mengalami krisis toleransi dan kebhinekaan yang manakala tidak menemukan penawarnya akan terakumulasi menjadi tragedi atau kesengsaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Ahok-Djarot akan dianggap sebagai pahlawan yang tragis, yang di-SARA-i, meski mengklaim telah banyak berjasa bagi Ibu Kota Jakarta.
 
Jika ditimbang berdasarkan pandangan Plato, video ini merupakan bentuk tiruan (imitation) yang palsu, bukan saja karena ditinjau dari konsep idea-nya Plato, tetapi juga karena tiruan ini tidak berlandaskan pada kenyataan sebenarnya di dalam dunia nyata, ia hanyalah bentuk keadaan yang dikarang-karang supaya dianggap sebagai sesuatu yang nyata berlaku.
 
Kemudian secara epistemologis, penonton tidak seharunsya mengambilnya sebagai suatu sumber pengetahuan atau informasi yang sah (valid) dan sebagai suatu kebenaran. Selain itu, drama tragedi yang dimainkan dalam video ini—yang didukung dengan narasi si orator, visualisasi, dan musik yang direka sedemikian rupa bagi menambah kesan perasaan bagi jiwa si penonton— tentu saja tidak baik bagi pendidikan masyarakat. Perasaan yang timbul itu, bila tidak ditimbang dengan akal rasional, akan mengarah kepada penilaian (judgment) dan penghargaan (appreciation) yang salah dan pengakuan akan kedudukan seseorang yang tak layak menerima amanah.
 
Masyarakat dengan kondisi jiwa seperti ini (terlalu baper “bawa-bawa perasaan”) juga tidak akan mampu menjadi suatu masyarakat yang baik dan membina suatu negara yang ideal bahkan kelak akan menjadi ancaman bagi kemanusiaan, ilmu, keadilan dan kebenaran itu sendiri.
 
Sekurang-kurangnya Ahok-Djarot dapat menjadi katarsis, obat penawar sementara yang semu, yakni yang tidak merendahkan kesengsaraan hidup kecuali hanya sementara saja, bahkan memiliki potensi bagi menambah tragis “drama” kehidupan di kemudian hari. 
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Wartapilihan.com
- Dilihat 370 Kali
Berita Terkait

0 Comments