Nasional / Sosial /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 21/03/2017 09:00 WIB

Forjim: Dewan Pers Berlebihan Sikapi Judul Penista Agama di Okezone

Logo dewan pers
Logo dewan pers
JAKARTA_DAKTACOM: Polemik judul berita 'Ketika Terdakwa Penista Agama Salami Raja Salman di Bandara' yang dimuat situs berita online Okezone terus berlanjut. 
 
Banyak pihak yang menyayangkan langkah Dewan Pers yang melakukan teguran kepada pengelola Okezone. Dewan Pers menilai, judul berita tersebut melanggar Kode Etik Jurnalistik (KEJ) terkait konten SARA. 
 
Tak hanya teguran, Dewan Pers juga meminta pengelola Okezone untuk menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas pemuatan judul berita tersebut.Forum Jurnalis Muslim (Forjim) menilai sikap dan langkah Dewan Pers berlebihan.  
 
Hal ini dikatakan Jaka Setiawan, Ketua Bidang Advokasi Forjim dalam keterangan persnya.
 
"Tindakan Dewan Pers sudah kelewat batas," ujar Jaka di Jakarta, Senin (20/3/2017).
 
Menurut Jaka, judul yang dimuat Okezone sudah sesuai fakta. Karena memang fakta hukumnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat ini berstatus sebagai terdakwa dalam kasus penistaan agama.
 
"Ya faktanya kan Ahok sedang disidang di pengadilan dalam kasus penistaan agama. Dia statusnya terdakwa. Fakta hukumnya demikian. Semua masyarakat tahu fakta itu. Ini bukan fitnah. Justru pelanggaran kode etik jurnalistik jika tidak menampilkan fakta hukum tersebut," ungkap Jaka yang saat ini tengah menempuh program Pascasarjana di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI).
 
Jaka juga menyayangkan alur tindakan Dewan Pers yang tidak melakukan diskusi terlebih dahulu dengan cara memanggil pengelola Okezone ke kantor Dewan Pers.
 
"Setahu saya, pengelola Okezone tidak dipanggil dulu. Tidak diskusi. Dewan Pers langsung melayangkan surat teguran kepada Okezone. Padahal alurnya tidak seperti itu," imbuhnya.
 
Jika cara-cara seperti ini dibiarkan, maka menurut Jaka akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers di Indonesia. Dewan Pers bukan mustahil akan menjadi alat pemerintah untuk membungkam media-media yang kritis atau berseberangan dengan pemerintah.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Rilis Forjim
- Dilihat 268 Kali
Berita Terkait

0 Comments