Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 13/03/2017 07:30 WIB

Terjebak Iklan, Habis-habisan Diperas Pabrik

tempe
tempe
Oleh: Tri Shubhi A, Penggiat Komunitas Nuun
 
Di pelajaran ilmu pengetahuan alam masa sekolah dasar dulu, makan dinyatakan sebagai salah satu dari sembilan ciri makhluk hidup. Makan ialah keperluan dasar manusia. Manusia bekerja untuk memperoleh uang. Dengan uang mereka membeli makan. Makan memberi mereka tenaga dan dengan tenaga itu manusia bekerja.
 
Di televisi makan dan makanan ialah parade panjang. Iklan-iklan berseliweran. Berbagai-bagai masakan, berbagai-bagai makanan bertebaran menjadi pertunjukan. Pabrik-pabrik menjajakan segala produk makanannya, produk minumannya dengan pesohor, kemasan, dan tampilan yang mengesankan. Mewah!
 
Orang-orang kurang beruntung di desa-desa, di kota-kota, terus menengadah menonton pertunjukan mewah itu. Berharap suatu saat mereka beruntung dapat mencecap sesuap saja rasa yang ada. 
Makan telah bukan sekadar mengisi perut. Melainkan juga tentang niaga besar-besaran. Orang tak hanya membayar makanan, tetapi “dipaksa” pula membeli kemasan dan membayar artis. Dalam setiap rupiah yang dikeluarkan bergelantungan biaya untuk iklan, untuk bungkusan plastik, untuk distribusi dan segala macam yang boleh jadi lebih besar dari nilai makanan itu sendiri.
 
Tidak ada yang salah, tentu saja. Mereka tak pernah bisa disalahkan. Uang telah menjadi satu-satunya kebenaran.
 
Dan pula, ragam makanan di negeri kita telah semakin kaya. Makanan-minuman bermerek luasan jagat telah menyerbu Tanah Air sejak lama. Harus ada yang membelinya. Di setiap kota telah berdiri restoran cepat saji, semerek dengan yang ada di Amerika. Kita telah memakan (merek) apa yang orang Amerika makan. Kita telah meminum (merek) apa yang orang Jepang minum. Kita telah setara dengan orang-orang Barat dan Timur sana, telah sama-sama makan-minum merek dan karenanya kita merasa berderajat sama dengan mereka.
 
Tidak ada yang salah, tentu saja. Nasib menjadi bangsa yang ditindas merek dagang bangsa lain memang begitu adanya. Sejak dulu kala.
 
Mulut-mulut bangsa kita ialah giuran yang luar biasa, yang melelehkan liur para pedagang raksasa. Hasrat mereka menaik melihat 250 juta lebih orang Indonesia. Rupiah demi rupiah mereka incar dari setiap makanan yang mereka buat. Iklan habis-habisan, distribusi yang nyaris dimonopoli dan putaran angka di atas sembilan digit banyaknya mengincar lidah bangsa kita.
 
Kita telah lama tersesat di perkeliruan soal rasa. Kita terjebak merek, terperangkap cap, dimangsa iklan, dan habis-habisan diperas pabrik-pabrik. Kita telah lama membeli bungkusan yang rapi, gambar-gambar menarik, dan wajah-wajah cetakan TV. Yang kita perhatikan ialah pesohor mana memakan apa, bukan makanan apa mengandung gizi bagaimana. Yang kita beli sering kali cangkang, bukan isinya.
 
Beribu jenis makanan diproduksi setiap hari. Dibungkus rapi berwarna-warni. Mata kita diperangkap iklan di mana-mana. Beribu jenis makanan mengantre masuk ke mulut-mulut orang Indonesia. Kita adalah pasar paling menggiurkan untuk siapa saja. Dan kita membeli, terus membeli, dan tak berhenti membeli. Setiap hari. Kita telah menjadi kaku dengan mulut terbuka. Rupiah-rupiah kita mengalir tak terkira. Kita diperah luar biasa, nyaris tanpa kesadaran.
 
Perut kita ialah industri besar, lidah kita ialah pasar utama, mulut kita ialah arena niaga raksasa. Kita membengkak, terus bertumbuh bersama bahan pengawet, pelezat kimia, zat pewarna, dan segala jenis bahan tak ramah. Anak-anak telah terbiasa dengan serbakemasan. Telah terbuai dalam bungkusan. Lelap amat sangat, bermimpi bersama iklan. Cita-cita mereka telah diawetkan dan kealamian telah menjadi asing. 
 
Pedagang-pedagang kecil semakin tersingkir jauh ke pinggir. Di kereta dan stasiun tak ada lagi mereka. Hanya yang bermodal memadai yang boleh ikut bertarung. Demi kenyamanan semua pihak, demi keindahan kota, demi berjayanya kemasan-kemasan berwarna-warni, mereka yang kecil seperti daki harus tersingkir, menyingkir, atau disingkirkan.
 
Di teguk terakhir minuman bersoda yang segar luar biasa, mari mengingat wajah-wajah asing papan-papan iklan mereka. Ada rupiah kita yang “dirampas” di luar kesadaran. Di sisa-sisa ayam goreng renyah merek Amerika, mari kita lupakan sejenak (atau selamanya) lagu “Indonesia Raya”.
 
Jayalah bangsa kita!!! 
Kayalah orang Amerika!!! 
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Nuun.id
- Dilihat 479 Kali
Berita Terkait

0 Comments