Internasional / Asia /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 25/11/2016 12:00 WIB

Rilis SEAHUM Terkait Kasus Genosida Rohingya

Warga Rohingya
Warga Rohingya
JAKARTA_DAKTACOM: Konflik sosial di Myanmar harus dipandang sebagai bencana kemanusiaan, yang tentu akan mempengaruhi negara sekitarnya. Masih hangat di ingatan kita ketika tak kurang dari ratusan ribu pengungsi etnis Rohingya terusir dari tanah airnya akibat konflik horizontal di satu dekade terakhir
 
Kali ini eskalasi tersebut meningkat, matra bersenjata Myanmar secara demonstratif telah memasuki kampung-kampung etnis Rohingya, dan melakukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Tak heran, gelombang pengungsi akan melanda regional Asia Tenggara dan Asia Selatan akan sangat mungkin terjadi.
 
Rilis yang dikeluarkan Human Rights Watch pada 21 November 2016 , menyatakan dengan gamblang kondisi di Myanmar yang mencekam. Tak kurang dari 1,250 rumah penduduk hancur semenjak konflik ini meledak pada 10 November 2016 lalu. Foto citra satelit dengan jelas menunjukkan 255 rumah hancur di desa Yae Khat Chaung Gwa Son, 265 rumah di Dar Gyi Zar, 220 rumah di Wa Peik, dan lain sebagainya. 
 
“Perempuan dan anak-anak sangat rentan menjadi korban. Misi kemanusiaan untuk Rohingya perlu segera dilakukan oleh lembaga-lembaga kemanusiaan di Asia Tenggara”, tegas drg.Imam Rullyawan selaku Presiden SEAHUM dan Direktur Utama Dompet Dhuafa Filantropi.
 
SEAHUM (South East Asia Humanitarian Forum) yang merupakan kumpulan organisasi kemanusiaan di Malaysia, Singapura, Indonesia, Kamboja, Thailand, bersama dengan Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia untuk Rohingya dengan ini  menyatakan sikap sebagai berikut:
 
1. Menyatakan keprihatinan atas bencana kemanusiaan yang melanda  etnis minoritas Rohingya yang dianiaya, dimusnahkan dan didiskriminasikan di tanah airnya sendiri.
 
2. Mendesak setiap pihak yang berkonflik untuk menahan diri dari ruang konflik yang lebih besar dan menghentikan kekerasan agar tidak ada korban jiwa rakyat sipil yang lebih besar.
 
3. Meminta pemerintah Indonesia untuk segera melakukan langkah taktis diplomasi, dengan mendesak Pemerintah Myanmar untuk: 
 
a. Menghentikan kekerasan struktural dan terorisme negara Myanmar  berupa teror dari i matra bersenjata Myanmar dalam melakukan tindakan destruktif di titik-titik lokasi etnis Rohingya
 
b. Membuka blokade kawasan Etnis Rohingya kepada lembaga-lembaga  kemanusiaan dari Indonesia, dan Asia Tenggara lainnya dalam rangka  pengiriman bantuan logistik makanan, pakaian, obat-obatan,  serta tim kesehatan agar dapat melakukan respon kemanusiaan secepatnya
 
4. Mendesak pemerintah Myanmar untuk dapat melakukan upaya dialogis dengan pelbagai pihak yang berkepentingan agar dapat segera menemukan solusi konstruktif yang berbasis kemanusiaan.
 
SEAHUM bersama Aliansi Lembaga Kemanusiaan dalam merespon perkembangan di Myanmar akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
 
1. SEAHUM bersama Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia Untuk Rohingya akan melakukan penyampaian pendapat massal di depan kantor Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta pada hari Jumat, 25 November 2016
 
2. SEAHUM bersama Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia Untuk Rohingya akan melakukan misi Humanitarian Flotilla for Rohingya untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan dan kesehatan ke titik-titik konflik di negara Myanmar
 
3. SEAHUM bersama Aliansi Lembaga Kemanusiaan Indonesia Untuk Rohingya akan melakukan langkah-langkah advokasi dan aliansi dengan pelbagai pihak seperti pemerintah Indonesia, Sekretariat ASEAN, AICHR (Asean Intergovernmental Committee for Human Rights), UNHCR, IOM, ICRC,  WFP, dan lain sebagainya
 
Demikian pernyataan sikap ini disampaikan sebagai bahan informasi. Atas perhatian dan dimuatnya siaran pers ini kamu ucapkan terima kasih
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Rilis SEAHUM
- Dilihat 474 Kali
Berita Terkait

0 Comments