Nasional / Kesehatan /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 25/11/2016 10:30 WIB

Pesantren Tebuireng Ajak Masyarakat Lawan Kebiasaan Merokok

Pondok tebuireng
Pondok tebuireng
JOMBANG_DAKTACOM: Rancangan Undang-Undang (RUU) Pertembakauan dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia dalam upaya meraih bonus demografi. RUU ini juga dinilai hanya menguntungkan segelintir pemilik industri rokok dan merugikan kesehatan masyarakat.
 
"Salah satu indikasinya, daftar 10 orang terkaya di Indonesia ternyata didominasi oleh pengusaha rokok," kata pegiat Social Movement Institute (SMI) Eko Prasetyo dalam diskusi dan konferensi pers Menolak RUU Pertembakauan di Pesantren Tebuireng, Kamis (24/11) sore.
 
Ketua Komisi Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) Prijo Sidipratomo yang turut hadir dalam diskusi ini mengaku prihatin melihat fakta bahwa lebih dari 50 persen penduduk miskin ternyata terjebak candu rokok. "Uang yang dibelanjakan masyarakat untuk membeli rokok jauh melebihi belanja untuk kesehatan dan pendidikan," ujarnya.
 
Mengutip data Lembaga Demografi Universitas Indonesia, Prijo menyebut rokok menempati peringkat kedua konsumsi rumah tangga termiskin setelah padi-padian. "Belanja rokok juga senilai 14 kali lipat belanja daging, 11 kali biaya kesehatan dan 7 kali lipat biaya pendidikan," tegas Prijo.
 
Karena itu, Prijo mengajak kalangan pesantren dan tokoh masyarakat untuk mendesak agar RUU Pertembakauan dihapus dari Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2016-2019. "RUU ini hanya akan melindungi kepentingan perusahaan rokok dan mengancam masa depan bangsa, baik dari sisi kesehatan maupun ekonomi," tandasnya.
 
Menanggapi hal itu, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) menyatakan kesiapan pesantren yang dipimpinnya untuk secara proaktif mengampanyekan bahaya rokok. "Sejak saya masuk ke Tebuireng pada 2006, larangan merokok itu sudah ada. Saat ini, larangan tersebut juga telah berlaku bagi kalangan guru," ujar Gus Sholah.
 
Meski demikian, Gus Sholah mengakui, masih banyak kalangan kiai dan pesantren (di luar Tebuireng) yang merokok. "Karena itu, kita ingin memberi informasi kepada kalangan santri kenapa  mereka dilarang merokok. Agar mereka sadar (terhadap bahaya rokok). Mungkin saja mereka merokok karena orang tuanya merokok, atau mungkin kawan dan tetangganya merokok," tutur adik kandung Gus Dur ini.
 
Gus Sholah mengaku miris menyaksikan data konsumsi rokok yang jauh melebihi belanja kesehatan dan pendidikan. "Tugas kita bersama untuk menyiapkan generasi masa depan, yang kita sebut generasi emas. Jangan sampai bonus demografi malah menjadi bencana demografi," harapnya.
 
Di akhir acara, Gus Sholah dan para tokoh masyarakat yang hadir dalam kesempatan ini menandatangani pernyataan bersama berjudul Tolak RUU Pertembakauan. Pernyataan yang berisi sepuluh poin tuntutan tersebut antara lain mendorong pemerintah dan DPR RI untuk menarik dan membatalkan RUU Pertembakauan dari Prolegnas 2016-2019 demi melindungi bangsa dari keterpurukan multisektor akibat konsumsi rokok.
 
Selain Gus Sholah, Prijo Sidipratomo dan Eko Prasetyo, pernyataan bersama itu juga ditandatangani oleh budayawan D Zawawi Imron dan guru besar antropologi hukum dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta Djawahir Tantowi. Mudir Pesantren Tebuireng Luqman Hakim dan beberapa anggota Komnas PT juga turut menandatangani pernyataan tersebut.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : nu.or.id
- Dilihat 702 Kali
Berita Terkait

0 Comments