Wawancara /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 22/04/2015 14:08 WIB

Kemerdekaan Palestina Keinginan Dunia

Pimpinan Redaksi  Majalah Al Waie Farid Wajdi
Pimpinan Redaksi Majalah Al Waie Farid Wajdi
Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Dalam pidato sambutanya pada Pertemuan Puncak Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta, Presiden Jokowi menegaskan komitmennya untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Adakah peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika dapat menjadi momentum bersatunya negara-negara di kawasan Asia Afrika bersatu mendukung pembebasan Palestina dari penjajahan Israel. Dhany Wahab dari Radio Dakta mewawancarai Farid Wajdi, Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa'ei,  Rabu (22/04/15) dalam acara Sorotan Dunia Islam
 
Dhany Wahab: Terkait dengan pembahasan kemerdekan Palestina di Konferensi Asia Afrika, bagaimana Bang Farid memaknai hal ini?
 
Farid Wajdi: Keinginan untuk mendukung kemerdekaan Palestina ini adalah keinginan yang menunjukkan bahwa dunia melihat bagaimana penderitaan Palestina selama ini, dan mereka juga menyaksikan bagaimana rakyat Palestina didzolimi oleh tentara zionis Israel, karena itu dorongan untuk memberikan kemerdekaan kepada Palestina adalah hal yang mencerminkan keinginan dunia untuk memberikan dukungan terhadap rakyat Palestina. 
 
Hanya saja yang harus kita garis bawahi, apa kemerdekaan yang diberikan kepada Palestina yang tampaknya belum kongkret, kalau kemudian kemerdekaan hanya sekedar dukungan tapi pada kenyataannya tanah Palestina masih di duduki oleh pendudukan zionis israel, apakah ini disebut dengan kemerdekaan, sementara saat ini hampir seluruh wilayah di Palestina ditutup oleh Israel, kalaupun Gaza dan Tepi Barat di sana ada pemerintahan Palestina, tapi pemerintahan yang tidak benar-benar bagaimana layaknya sebuah negara, mereka tidak memiliki tentara, mereka juga tidak boleh melakukan hubungan Diplomatik dengan luar negeri dan mereka masih tetap dalam undercontrol zionis Israel itu tampak dari bagaimana tentara-tentara Israel, dengan mudahnya melakukan penyerangan terhadap Gaza, artinya apa? Kemerdekaan Palestina yang diinginkan sesungguhnya adalah kemerdekaan yang sejati, di mana itu artinya zionis Israel harus dihilangkan, dienyahkan dari bumi Palestina.
 
Itulah baru kemudian Palestina benar-benar merdeka, tapi kalau kemerdekaan yang dimaksud bahwa ada dua negara di sana, dan ini merupakan strategi Amerika, ini berarti tetap merupakan pengakuan terhadap negara penjajah zionis Israel. Tentu ini berlawanan dengan keinginan untuk benar-benar menghapuskan penjajahan di muka bumi.
 
Dhany Wahab: Kalau kita cermati perjalanan Konferensi Asia Afrika yang berlangsung 60 Tahun yang lampau, di mana ketika itu Palestina juga sedang berupaya keras untuk membebaskan dirinya dari penjajahan Israel sampai sekarang ini belum juga terwujud. Bentuk dukungan seperti apa yang lebih jelas untuk Palestina?. 
 
Farid Wajdi: Persoalannya adalah bahwa ketika yang dimaksud itu adalah memberikan kemerdekaan yang sejati, artinya zionis Israel itu tidak diakui sebagai sebuah negara di sana, dan ini tentu tidak dikehendaki oleh Amerika.
 
Sementara hampir negeri-negeri Islam sekarang ini di bawah undercontrol Amerika, jadi kalaupun ada pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina itu tetap dalam konteks yang diinginkan oleh Amerika, bahwa di sana ada dua negara yang berdampingan, dan ini tidak akan pernah memberikan kemerdekaan yang sejati, karena artinya Israel akan tetap di sana, dan Israel akan dengan gampang tetap melakukan kedzoliman terhadap rakyat Palestina.
 
Inilah yang akan menjadi catatan kita di KAA, bahwa KAA harus kita akui telah gagal melakukan perlawanan terhadap penjajahan, memang pasca Konferensi Asia Afrika di Bandung, beberapa negeri-negeri dunia ketiga itu diberikan 
mendapakan kemerdekaan, tapi kemerdekaannya itu hampir sebagian besar adalah kemerdekaan semu, karena haknya tetap dikontrol oleh Amerika, dengan apa mereka mengontrolnya? Ya dengan dua cara, pertama dengan mendudukan agen-agen barat di negeri-negeri dunia ketiga termasuk dunia islam, sehingga penjajahan terus berlangsung melalui agen-agen tersebut, kemudian kedua memaksakan dunia Islam termasuk dunia ketiga mengadopsi sistem kapitalisme barat. 
 
Inilah yang kemudian membuat negara-negara dunia ketiga akhirnya tetap di bawah penjajahan barat, dalam hal apa yang disebut dengan Neokolonialisin, kalau awalnya barat secara langsung melakukan pendudukan militer di Indonesia, India dan beberapa tempat, kemudian setelah kemerdekaan yang terjadi itu adalah neokolinialisasi yaitu melalui penguasa-penguasa  di negeri dunia ketiga yang menjadi agen, yang kedua melalui sistem barat yang dipaksakan di negeri-negeri dunia ketiga, di situ kemudian barat tetap mengontrol dunia ke tiga ini, maka tidak heran meskipun sudah 60 tahun KAA, hampir sebagian besar dunia ketiga masih di bawah kendali kapitalisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
 
Dhany Wahab: Adakah peran negara-negara ketiga ini bisa menekan PBB ditengah dominasi Amerika Serikat dan sekutunya yang selama ini berstandar ganda dalam masalah Palestina?
 
Farid Wajdi: Iya itu benar, artinya selama dunia ketiga masih tunduk dengan sistem kapitalisme barat yang global barat, kemudian masih tunduk kepada negara-negara imperialis seperti Amerika, maka penjajahan itu masih tetap berlangsung. 
 
Justru kalau kita lihat negara-negara barat menggunakan institusi-institusi internasional, yang mereka bentuk untuk mengendalikan dunia ketiga di dalam bidang politik mereka dalam membentuk PBB, PBB jelas menjadi alat kepentingan Amerika, dalam kasus Palestina misalnya begitu banyak resolusi yang mengecam zionis Israel, tapi dibatalkan atau diputuskan dan dipatahkan oleh Amerika dengan hak veto yang mereka miliki dibidang perbangkan, mereka menguasai lewat world bank, dibidang moneter mereka menguasai lewat International Monetary System (IMS) jadi, institusi-institusi politik internasional yang dirancang oleh barat inilah yang kemudian mengontrol negara-negara dunia ketiga, sehingga kalau dunia ketiga masih terkait atau ikut dalam institusi global yang dirancang oleh negara-negara barat ini, maka penjajahan sesungguhnya masih berlangsung. 
Editor :
Sumber : Ulil Albab
- Dilihat 1325 Kali
Berita Terkait

0 Comments