Wawancara /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 21/04/2015 13:32 WIB

Perang Yaman Makin Liar dan Tak Terkendali

Hasibullah Satrawi, Pengamat Timur Tengah
Hasibullah Satrawi, Pengamat Timur Tengah
Perang di Yaman semakin liar dan tak terkendali. Banyak kalangan mencemaskan perang Yaman. Tak hanya negara-negara Islam yang berbatasan dengan Yaman, tapi juga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut mengkhawatirkan situasi perang tersebut. Untuk mendapatkan informasi yang lebih dalam, Risda Aulia, dari Radio Dakta, mewawancarai Hasibullah Satrawi, pengamat Timur Tengah, Selasa (21/4/15), berikut hasil wawancaranya. 
 
Risda Aulia: Apa yang terjadi di Yaman saat ini pak?
 
Hasibullah Satrawi: Yang terjadi di Yaman sampai sekarang ini kecenderungannya semakin liar, semakin tidak terkendali dan semakin banyak mengorbankan pihak-pihak yang tidak bersalah. 
 
Dalam kasus terakhir tentu saja kita menyayangkan terkenanya atau terimbasnya KBRI kita terhadap serangan yang dilakukan oleh pasukan koalisi, yang sebenarnya serangan tersebut ditujukan kepada gudang persenjataan dari kelompok putih, tapi kemudian menyerempet atau berimbas terhadap kedutaan besar kita di Yaman. 
 
Ini bisa dijadikan salah satu bukti, bahwa konflik yang terjadi di Yaman sampai sekarang semakin tidak terkendali.
 
Risda Aulia: Lalu dengan demikian ke depannya apakah konflik ini akan terus berkepanjangan atau terus belanjut dan bagaimana kemudian dunia Islam harus menyikapi konflik ini pak ? 
 
Hasibullah Satrawi: Pertama yang dilihat dari kekuatan-kekuatan politik baik di regional Timur Tengah ataupun global, secara umum dalam melihat konflik ini, maka sebenarnya sangat besar kemungkinan perang ini akan terus berlangsung. Seperti yang kita ketahui dalam sepekan terakhir, dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang pada intinya menekan pihak putih, untuk segera meninggalkan lokasi-lokasi strategis pemerintahan Yaman yang dikuasai.
 
Tentu ini akan dianggap sebagai keberpihakan oleh kelompok-kelompok yang bertikai, kita tahu bahwa dari sisi negara Arab terutama di bawah pemandu Arab Saudi, justru menyambut baik adanya resolusi ini, karena ini berpihak ataupun menekankan agar putih meninggalkan lokasi-lokasi yang dikuasai. Dan secara politik tentu akan menguntungkan kelompok-kelompok Arab, tapi di sisi lain kita melihat justru resolusi ini mendapatkan kecaman ataupun tanggapan negatif terutama dari negara-negara ataupun pihak-pihak, yang selama ini mendukung putih terutama Iran.
 
Ini yang saya bilang tadi secara kekuatan politik regional maupun global, sangat besar kemungkinan konflik yang terjadi di Yaman akan terus berlangsung.
 
Pertanyaannya memang bagaimana dunia Islam menyikapi persoalan seperti ini. Pertama dilihat dari segi keorganisasian atau kelembagaan yang menaungi negara-negara Islam, karena seperti OKI organisasi-organisasi negara-negara Islam, maka sebenarnya peristiwa seperti ini tentu bukan yang pertama terjadi, sehingga sering sekali terjadi krisis antara di negara-negara yang sama-sama berpenduduk prioritas muslim.
 
Dan yang terakhir perang di Yaman ini, menunjukkan bahwa OKI secara kelembagaan belum menempatkan posisinya yang ideal, dalam pengertian memang ada lembaga ini, tapi di negara-negara anggota seakan-akan tidak menghendaki OKI ini, untuk betul-betul menjadi lembaga yang punya otoritas mutlak terhadap negara-negara anggotanyanya. Bahkan ada kecenderungan OKI ini hanya dalam tanda kutip, dimanfaatkan oleh negara-negara yang berkuasa di situ, yang berkuasa dijajaran kepengurusan OKI.
 
Yang kedua, tentu secara kelembagaan kalau kita ingin peran dari OKI ini maksimal, maka meskinya OKI diberikan otoritas ataupun wilayah yang jauh lebih mengikat pada negara-negara anggota. Ini penting agar pertama, hal-hal yang bersifat perselihan internal dikalangan negara-negara berpenduduk muslim itu tidak terjadi kembali, dan yang kedua itu sekaligus untuk menghindari, membentengi negara-negara berpenduduk mayoritas muslim dari intervensi pihak-pihak lain. Karena kepentingan politik negara-negara lain, seperti Amerika Serikat atau bahkan Rusia yang kita tahu mereka mempunyai wadah ataupun kelembagaannya tersendiri ditingkat regional maupun global.
 
Risda Aulia: Pak, kita tahu bahwa ada sebagaian WNI yang berada di Yaman sana dan juga tidak sedikit yang menjadi korban dari aksi bom yang kemarin terjadi, kemudian sikap politik dari pemerintahan Indonesia untuk bisa menyelamatkan muslim di sana bagaimana? 
 
Hasibullah Satrawi: Pertama yang selalu saya tegaskan semenjak perang ini terjadi, agar pemerintah Indoensia melakukan penyikapan yang akurat dan cepat. Akurat dan cepat itu maksud, saya harus diambil kebijakan-kebijakan yang sifatnya penyelamatan, dan itu sudah dilakukan adanya evakuasi terhadap WNI yang ada di sana, baik yang berkapasitas sebagai pelajar ataupun sebagai profesional ataupun unsur-unsur lain. 
 
Tapi yang saya lihat, dari yang dilakukan oleh pemerintah sekarang ini kurang intensif atau terkesan kurang cepat mengambil kebijakan yang dibutuhkan. Katakan saja peristiwa penyerangan terakhir ini, itukan masih ada Diplomat kita yang ada di sana, ini apakah tidak dikaji oleh Kemenlu bahwa negara ini, Yaman ini berada di situasi perang yang hampir tidak bisa dikendalikan oleh kelompok manapun. 
Dalam konteks itu pertanyaannya masih adakah tugas-tugas Diplomasi yang dibutuhkan oleh orang Dubes atau bahkan Diplomat kita yang berada di sana. 
 
Kita harus memikirkan kepentingan bangsa ini secara lebih strategis dalam pengertian, kalau kita membacanya dalam konteks Diplomasi maka sebenarnya duta besar kita terutama itu adalah simbol, itu adalah presiden mini bagi segenap warga yang ada dinegara itu, oleh karena itu segala macam pengamanan terhadap dunia kita, meskinya harus dilakukan dengan cepat, jangan sampai Dubes kita ataupun para Diplomat kita, karena kita lambat mengambil kebijakan maka kemudian menjadi korban dari sebuah peperangan yang terjadi di Yaman.
 
Ini tentu merupakan sebuah kerugian bagi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat seperti Indonesia, jadi sekali lagi yang mendorong agar langkah-langkah cepat dan akurat ini harus segera dilakukan secara intensif kajiannya, kemudian dieksekusi oleh pemerintah. Kalau memang situasinya makin tidak terkendali seperti sekarang, mungkin lebih baik kalau untuk sementara waktu kedutaan kita atau bahkan para Diplomat kita dan Dubes kita ditarik ke Jakarta, untuk sekaligus memberikan pesan yang kuat kepada warga kita yang ada di sana, bahwa Yaman belum kondusif. 
 
Seperti semacam pesan ganda, di satu sisi pemerintah melalui tim khusus yang dikirim ke Yaman itu melakukan evakuasi meminta teman-teman WNI untuk meninggalkan Yaman, tadi di sisi lain para Diplomat kita masih berada di Yaman. Tentu ini seakan-akan pesannya mendua, dia ingin menarik WNI tapi seakan-akan adanya para Diplomasi kita di sana, ya mungkin situasi dianggap tidak serius.
 
Jadi menurut saya pesannya harus menjadi satu kalau memang ini adalah peperangan yang semakin membesar seperti sekarang, kebijakan pemerintahnya harus satu, penilaiannya harus satu bahwa apapun yang terjadi untuk sementara kita harus mengosongkan WNI kita di sana, untuk sementara waktu kita tarik ke Indonesia, termasuk para Diplomat. 
 
Tentu saja mungkin ada beberapa yang kita tinggalkan hanya khusus untuk misi evakuasi, atau penyelamatan terhadap para WNI kita yang ada di sana, di luar itu tidak ada tugas lain dari para Diplomat kita di Yaman untuk masa-masa seperti sekarang.
 
Menurut saya ini harus kuat dilakukan oleh pemerintah, secara cepat diambil kebijakannya oleh pemerintah.                  
Editor :
Sumber : Ulil Albab
- Dilihat 1672 Kali
Berita Terkait

0 Comments