Opini /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 24/08/2016 11:30 WIB

Persidangan Jessica dan Banjir Bandang Informasi

Jessica Kumala Wongso saat menghadiri persidangan
Jessica Kumala Wongso saat menghadiri persidangan
Oleh: Yahya Wido Aditama – Pegiat Komunitas Kultura
 
Beberapa hari yang lalu sempat kita disuguhi kembali oleh ramainya pemberitaan mengenai persidangan lanjutan kasus pembunuhan Mirna dengan tersangka Jesicca Wongso. 
 
Sidang lanjutan yang diadakan pada hari Senin (15/8) lalu ini menyedot perhatian banyak media pemberitaan nasional yang lalu menjadikannya topik utama. Bahkan, beberapa TV nasional menyiarkan jalannya persidangan tersebut secara live. 
 
Saya dapati, setidaknya terdapat dua TV Nasional yang menyiarkan jalannya sidang lanjutan tersebut secara penuh dan live, sedangkan TV Nasional lainnya menyiarkan pada acara berita selingan yang rutin disiarkan setiap satu jam sekali atau pada acara berita lainnya. Pun begitu yang terjadi pada situs-situs berita yang berbasis di internet yang pada hari itu ramai-ramai menaikkan berita tersebut sebagai topik utama.
 
Kasus pembunuhan Mirna menjadi kasus pebunuhan terheboh dan paling menyita perhatian publik tahun di tahun 2016 ini. Hingga sidangnya yang keduabelas senin kemarin, kasus pembunuhan ini sudah berkali-kali menjadi topik utama di berbagai media pemberitaan. 
 
Tidak hanya berita-berita utama investigasi pembunuhannya, berita-berita turunan yang relevansi dengan investigasi pembunuhan tidak terlalu kuat pun banyak diangkat oleh situs-situs media pemberitaan online.
 
Boomingnya kasus pembunuhan ini, tentu membuat kita bertanya-tanya, ada kepentingan apa masyarakat luas disuguhi dengan pemberitaan kasus tersebut secara terus menerus ? Apakah akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat? Seberapa pentingkah kasus ini hingga bahkan menenggelamkan kontroversi Bom Sarinah atau kasus sindikat narkoba yang dibeberkan oleh  Freddy Budiman yang menyeret institusi/lembaga tinggi negara? 
 
Mengapa ia dijadikan isu publik? Akankah negara kolaps bila dalang di balik kasus ini tidak diketahui oleh publik secara luas? Bisakah Indonesia kembali menjadi ‘macan asia’ bila masyarakatnya telah mengetahui seluk beluk kasus pembunuhan tersebut?
 
Dalam era Informasi seperti saat ini kita disuguhi, yang oleh Al Gore disebut sebagai, jalan raya informasi (Information Superhighway atau Infobahn). Teknologi informasi, yang telah meningkat begitu pesat setelah hadirnya televisi juga internet, memberikan kita kemudahan dalam mendapatkan berbagai informasi sehari-hari. 
 
Mulai dari pemberitaan lahirnya seekor anak Badak Bercula Satu di Taman Safari, hingga kasus korupsi berjumlah miliaran rupiah oleh anggota dewan pun dengan mudah kita dapatkan. Jalan raya informasi menyuguhkan keberlimpahan informasi. 
 
Keberlimpahan informasi di abad 21 ini, yang oleh Yasraf Amir Piliang diasosiasikan dengan kejadian banjir bandang pada zaman Nabi Nuh, yang kemudian ia sebut sebagai banjir bandang informasi.
 
Jalan raya informasi menyuguhkan kita kepada informasi dalam kecepatan tinggi yang terjadi secara simultan. Timbul-tenggelam di jagat raya informasi. Jibunan informasi hadir kepada kita tanpa adanya filtrasi. Ia hadir dari segala arah yang memaksa kita untuk ‘mengkonsumsi’ tanpa tahu kegunaannya. 
Walau telah hadir teknologi cookie yang memungkinkan perangkat pintar kita memilah berita untuk ditampilkan berdasarkan jejak pencarian yang kita lakukan di internet, tapi hal itu tetap saja sebuah bentuk desakkan informasi kepada diri.
 
Paul Virilio yang menggagas Dromology menyatakan bahwa segala kecepatan yang sedang kita ‘nikmati’ ini mengubah realitas dan cara kita menanggapinya. Kini, yang terjadi adalah kecepatan informasi tidak sebanding dengan kemampuan manusia dalam menyerapnya.
 
Informasi itu datang begitu cepat dan begitu raksasa, sehingga kadang terlalu cepat dan besar untuk dapat diserap oleh pikiran manusia. Dalam boom informasi seperti itu, tidak semua informasi yang datang tersebut dapat berguna untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita. 
 
Apa gunanya informasi tentang persidangan Jesicca Wongso terhadap seorang petani di Temanggung yang serbuan informasinya menyeruak melalui layar televisi di ruang tamu rumahnya? Apakah dengan terbongkarnya kasus pembunuhan Mirna akan menghindarkan petani itu dari gagal panen akibat kekeringan atau hama wereng ?. Bill McKibben mengatakan kita sedang berada di “sebuah abad informasi yang melenceng”.
 
Dalam gencarnya pemberitaan kasus persidangan Jesicca tersebut, tanpa didampingi usaha mengkritisi diri, yang berlangsung sesungguhnya bukanlah peningkatan informasi melainkan misinformasi dan disinformasi. 
 
Zygmunt Baumen, seorang professor bidang sosiologi di University Of Leeds,  berpendapat bahwa “masalah kondisi kontemporer adalah bahwa masyarakat telah berhenti mempertanyakan dirinya sendiri”. Kita tidak lagi pernah mempertanyakan diri sendiri tentang informasi apa yang dibutuhkan. 
 
Publik cenderung pasif ketika berhadapan dengan serbuan informasi, namun menjadi reaktif ketika telah menerima informasi tersebut sehingga menghasilkan turunan-turunan berita yang dapat dijadikan bahan obrolan ringan (baca: gosip) dengan teman seperkumpulan.
 
Kasus pembunuhan Mirna ini sepertinya memiliki potensi untuk ‘digosipkan’. Sebagaimana yang ditulis oleh Richard Shears, jurnalis di Daily Mail Australia, kasus pembunuhan ini mirip cerita dalam novel detektif karya Agatha Christie. 
 
Ada kecocokan dengan tipikal penonton televisi Indonesia yang menyukai opera sabun dengan bukti begitu menjamur di pertelevisian Indonesia. Maka tak heran bila beritanya dijadikan isu publik, karena kasus tersebut mengandung unsur drama ala sinetron.
 
Tentu saja ada motif bisnis (selain motif politik, tentunya) yang melatarbelakangi naiknya sebuah isu di media-media mainstream. Media pasti berkilah bahwa inilah yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat sehingga perlu untuk diangkat menjadi topik utama/isu publik. 
 
Padahal ada motif mengejar rating dibelakangnya. Sejatinya, sebagaimana Kang Azeza dalam tulisannya “Selera Penonton Televisi: Membentuk atau Dibentuk”, tidak ada yang salah dari konsep bisnis media itu sendiri, tapi masalah muncul ketika televisi sebagai media yang bersentuhan langsung dengan public domain mengabaikkan tanggung jawabnya dan lebih terfokus pada semangat kapitalisme.
 
Dalam banjir bandang informasi seperti saat ini, dan dampaknya yang menghasilkan gejolak-gejolak itu, kemudian timbul pertanyaan ontologis. Apakah informasi itu digunakan manusia, atau malah informasi yang ‘menggunakan manusia’? Apakah informasi dikendalikan manusia, atau malah informasi itu yang ‘mengendalikan’ manusia? Apakah informasi itu ada untuk manusia, atau malah manusia ‘ada’ untuk informasi?
 
“…Djanganlah pada sangkamu akan kahidupan negeri-negeri jang besar lebeh baik deripada perdijaman dinegeri ketjil. Benarlah kehidupan negeri-negeri besar itu ramei, lebih sedap, tetapi djanganlah bersangka kahidupan itu senang, seperti kami dapat merasa dinegeri ketjil, karena dalam negeri besar itu lakunja orang hidup disitu saolah-olah menghambat saorang akan saorang tidak dapat kasenangan dan perhentijan dan tempoh pada pertimbang-menimbang akan perkata fikiran jang ditinggi. “ – Surat Kabar Thahaja Sijang No. 3 Maret 1899
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : Komunitas-kultura.com
- Dilihat 1264 Kali
Berita Terkait

0 Comments