Opini /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 18/05/2016 13:30 WIB

Kekeliruan Maarif Institute Soal Indikator Kota Islami di Indonesia

Ilustrasi suasana kota
Ilustrasi suasana kota
Oleh: A. Kholili Hasib, Peneliti InPAS Surabaya
 
Baru-baru ini Maarif Institute merilis hasil riset tentang Indeks Kota Islami (IKI). Hasilnya mengungkap tiga kota paling Islami adalah; Yogyakarta, Bandung dan Denpasar. Yang sangat ganjil, menempatkan kota Denpasar -- kota yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, bukan Islam, sebagai salah satu kota Islami.
 
Bagamaina logikanya, Hindu tapi Islami? Ternyata indikator yang digunakan belum betul-betul disebut ‘Islami’. Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais menerangkan, ada tiga tolak ukur yang digunakan dalam penelitian ini. Yaitu aman, sejahtera, dan bahagia.
 
Kota aman diukur dari indikator kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan, pemenuhan hak politik perempuan, hak anak, dan hak difabel. Selanjutnya indikator sejahtera diukur dari pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan kesehatan. Semantara tolok ukur bahagia diukur dari indikator berbagi dan kesetiakawanan serta harmoni dengan alam.
 
Kategori aman, sejahtera dan bahagia adalah kategori umum, padahal riset tersebut tentang IKI (Indeks Kota Islami) yang harusnya spesifik dengan tolak ukur ISLAM.
 
Pertama-tama, yang harus diperjelas adalah indikator. Masalah riset model seperti ini bukan pertama kali Maarif Institute yang melakukan. Sudah banyak riset dengan indikator yang sama baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Rata-rata kategori yang digunakan LSM tentang indikator Islami cukup ngawur.
 
Atas dasar apa sesuatu itu disebut Islami? Apa syaratnya sesuatu itu Islami dan non-Islami? Jika indikator itu kategori “Islami”, maka grand theory riset itu tentu saja harus merujuk kepada diktum-diktrum pokok Islam.
 
Apa saja diktum-diktum pokok yang menjadi syarat sesuatu itu Islami? Aman, sejahtera dan bahagia sudah banyak dimaklumi merupakan bagian dari ajaran Islam. Cukup banyak dalil dari sumber-sumber Islam tentang pentingnya hidup aman, toleransi, dan bahagia (sa’adah).
 
Namun, harap dipahami dengan betul, bahwa dalam agama Islam ada bagian pondasi dan ada bagian ranting. Hidup aman, sejahtera dan bahagia merupakan ranting dari pondasi Islami yang dibangun kokoh. Seperti rumah. Jendela, pintu, kamar dan lain-lain adalah ranting. Pondasinya adalah tiang dan batu-batu besar yang ditanam di tanah.
 
Semua ranting berdiri di atas pondasi yang kuat. Ada ranting tapi tidak ada pondasi, pasti rontok. Ada pintu, ada jendela, tetapi tidak punya tiang. Pasti rumah itu roboh. Dan tidak akan terbentuk rumah lagi. Sebuah mobil yang ada roda bagus, pintu mobil, kaca mengkilap, dan rangka tetapi tidak ada mesin. Pasti mobil itu tidak bisa jalan. Orang akan menyebutnya ‘mobil-mobilan’.
 
Indikator Islam sudah diterangkan Nabi Saw. Pondasinya disebut Rukun Islam. Nabi Saw bersabda: Islam dibangun atas lima pekara. (1) Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. [HR Bukhari dan Muslim].
 
Apa saja jika ingin dinisbatkan Islami, maka harus berdasarkan pondasi ini. Seseorang yang disebut beperilaku Islami, maka asasnya harus dengan pondasi rukun Islam tersebut.
 
Dalam hadis nabi Saw di atas, Islam digambarkan sebagai sebuah bangunan. Adapun tiang-tiang bangunan tersebut berupa kelima hal tersebut. Jadi, bangunan tidak akan kuat tanpa tiang-tiangnya. Sedangkan ajaran-ajaran Islam lainnya berfungsi sebagai penyempurna bangunan.
 
Jika salah satu dari ajaran-ajaran tersebut hilang dari bangunan Islam, maka bangunan itu berkurang, namun tetap bisa berdiri dan tidak ambruk, meskipun berkurangnya salah satu dari penyempurnanya. Ini berbeda jika kelima tiang tersebut ambruk, maka Islam akan runtuh disebabkan tidak adanya kelima tiang penyangga tersebut.
 
Islam akan runtuh dengan hilangnya dua kalimat syahadat. Yang dimaksud dengan dua kalimat syahadat ialah, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
 
Semua etika, akhlak atau adab Islam ‘digantung’kan dengan lima pondasi tersebut. Dalam beberapa pernyataan Nabi Saw, akhlak sosial dihubung-erat dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir.
 
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia memulyakan tetangganya” (HR. Bukhari-Muslim). Allah Swt berfirman: Allah SWT berfirman: "Dan sembahlah Allah serta jangan menyekutukan sesuatu denganNya. Juga berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman seperjalanan, sepekerjaan, sesekolah dan lain-lain - orang yang dalam perjalanan dan - lalu kehabisan bekal -hamba sahaya yang menjadi milik tangan kananmu." (QS. al-Nisa':36).
 
Dalam ayat itu, setelah larangan untuk menyekutukan-Nya, Allah Swt memerintahkan berbuat baik kepada tetangga, orang tua, kerabat dan kepada manusia lainnya. Pengaitan ini bukan tanpa maksud atau tujuan.
Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : InPAS Online
- Dilihat 1079 Kali
Berita Terkait

0 Comments