Wawancara /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 03/04/2015 07:42 WIB

Pemblokiran Situs Islam Catatan Kelam Bagi Pemerintahan Jokowi

Mustofa B Nahrawardaya
Mustofa B Nahrawardaya

Pemblokiran 22 media online Islam telah mengundang pro kontra. Bahkan ada kesan pemblokiran itu dinilai sebagai bukti ketidaksukaan terhadap Islam. Untuk menguak lebih dalam terhadap kasus pemblokiran media Islam online, Risda Aulia dari Radio Dakta 107 FM, mewawancarai Mustofa B Nahrawardaya.

 

Risda Aulia: Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir 22 media Islam online, seperti apa pendapat bapak?

 

Mustofa B Nahrawardaya: Ini baru terjadi dalam sejarah Indonesia, negara yang mungkin umat Islamnya terbesar di dunia, tapi situs Islam yang sudah mendidik dan memberikan kebaikan di Indonesia malah ditutup oleh pemerintahan Jokowi. Lalu, sesuai apa yang sudah saya sampaikan di beberapa media cetak, media televisi dan online, bahwa ini sebuah langkah yang luar biasa jahatnya yang tidak pernah terjadi sebelumnya, bahkan presiden yang memiliki darah militer pun tidak akan melakukan ini. Tetapi ini malah dilakukan oleh pemerintahan Jokowi yang notabennya tidak memiliki catatan militer sekalipun.

 

Tentu ini fenomena yang menarik menurut saya. Karena tampaknya tim verifikasi yang melakukan penutupan situs ini  tidak memahami betul apa yang sedang dilakukan, karena sebagian besar situs yang mereka tutup ini adalah situs-situs yang selama ini tak setuju dengan ISIS.

 

Kalau mau berkacamata pada ISIS yang sebagian besar tidak setuju, mereka itu justru mendukung pemerintah untuk menjauhkan Indonesia dari kekejaman ISIS, tetapi kalau dilihat dari kacamata teoris memungkin BNPT ini ingin melakukan pukul rata, pokoknya situs-situs yang setiap hari mengkaji yang berkaitan dengan jihad, dengan persatuan umat dan lain -lain mereka pukul rata.

 

Tentu itu adalah musuh-musuh BNPT, bukan musuh negara. Saya tidak tau siapa tim verifikasi atau ketuanya, seperti yang saya  bilang tampaknya orang non muslim yang melakukan pemberhangusan situs islam, karena mereka tidak memikirkan jauh-jauh dampak yang ditimbulkan, contoh saja Hidayatullah, itukan merupakan situs yang sudah luar biasa bermanfaat bagi Indonesia ini, bahkan mereka ini berdiri sebelum ada BNPT, mereka sudah aktif mengkaji ajaran-ajaran islam dan diakui banyak pihak termasuk Muhammadiyah.

 

Jadi tidak mungkin situs ini dengan mudah di tumbangkan, dengan alasan yang tidak jelas dan ini tentu sangat memalukan kita semua, karena tidak pernah melakukan audiensi dengan masyarakat, ormas islam dan dengan para pengelola situs itu sendiri. Untuk membuat situs itukan tidak mudah, tapi untuk menutupnya sangat mudah. Dengan mengeluarkan surat dari BNPT kepada Kominfo, kemudian Kominfo menyebar surat tersebut kepada para pengelola ISP Indonesia, lalu ISP menutup, tapi tidak semua ISP melakukan pemblokiran, sehingga para provider yang memakai Indosat dan lain sebagainya itu tidak bisa membuka situs tersebut, tetapi berhubung saya pake Fastnet masih bisa dibuka, tergantung kepada kebijakan masing-masing.

 

Cuma keinginan BNPT melalui Kominfo ini sangat tidak mendidik bagi bangsa kita, karena dengan demikian kita itu disuruh atau dipaksa untuk menerima informasi-informasi yang sepihak, yang tidak berimbang yang berkaitan dengan isu terorisme.

 

Selama inikan kita hanya dipaksa untuk menerima informasi yang berasal dari aparat, sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk membaca  informasi dari luar aparat.

Kesimpulannya adalah tujuan dari pemberhangusan dari situs ini adalah melancarkan misi BNPT dan misi Densus untuk membantai umat Islam di Indonesia ini dengan alasan, terorisme kalau selama ini mereka bebas karena media-media mainstream yang memberitakan sisi lain selain dari sisi pemerintah.

 

Itulah yang menjadi kelebihan dari media Islam ini. Media islam memberikan sisi lain, yang selama ini dirambah oleh pemerintah, misalkan media-media mainstream dan media online nasional, itu hanya memberitakan hal yang bersumber dari kepolisian, tetapi media islam berani menyampaikannya dengan sumber-sumber selain dari pada kepolisian, sehingga berita terorisme itu menjadi imbang.

 

Nah sekarang, kalau semua berita terorisme dan berita ISIS itu hanya ada diberita pemerintah, kita semua jadi sesat, karena semua kacamatanya adalah kacamata ketakutan, tak pernah ada berita-berita yang menyegarkan terkait dengan terorisme dan ISIS, semuanya dianggap negatif, padahal tidak semua ISIS itu negatif.

 

Kemudian karena media itu hanya didominasi oleh pemerintah, maka kacamata-kacamata kita adalah kacamata ketakutan. Selama ini media islam yang diberhanguskan adalah  media yang memberitakan sisi lain, yang tidak pernah diberitakan oleh pemerintah,  inilah kelebihan-kelebihan dan kalau dalam bahasa anda adalah cover both side, jadi ada cek and ricek, ada tabayun dalam islam ini yang kita perlukan dalam sistem informasi islam adalah tabayun, jadi kita cek and ricek. Kalau informasi dari sebelah atau dari pemerintah saja kita menjadi sesat, karena semuanya dari misi pemerintah yang ingin memberi pencerahan versi pemerintah, tidak semua informasi pemerintah itu benar, jadi harus ada penyeimbang informasi yaitu media islam kepada media mainstream.

 

Risda Aulia: Lalu untuk ke depannya kita butuh media penyeimbang untuk bisa memfilter pemberitaan-pemberitaan dari media mainstrem pemerintah, seperti itu pak?

 

Mustofa B Nahrawardaya: Ya betul, lalu kalau media penyeimbang ini dimatikan artinya pemerintah ini memberhanguskan sengaja untuk memuluskan misi-misinya, kalau ini dilakukan maka informasi yang diterima oleh masyarakat itu jelas tidak seimbang dan tidak sehat, itu malah membuat media islam tidak berlaku di sini.

 

Risda Aulia: Media islam akan seperti apa untuk menyikapi ditutupnya 22 situs islam, apakah ada langkah ke depannya?

 

Mustofa B Nahrawardaya: Media islam terus bersatu, namun selama ini mereka masih terkotak mohon maaf, terkotak-kotak di sini adalah terkotak-kotak dalam kepentingan masing-masing, maka semoga dengan adanya peristiwa ini seharusnya menjadi hikmah, mereka harus bersatu, menyatukan visi, duduk bersama dan mendatangi Menkoinfo.

 

Saya sudah sms beliau kalau media-media islam tidak tembus kepada Menkominfo, maka mereka mengumpulkan pengelola media islam, untuk bersama-sama kita bersatu, jangan mau dipecah belah oleh kepentingan sesaat dan kekuasaan sesaat ini. Kalau ini terjadi, maka media islam yang sangat besar dan yang sangat kuat ini akan mudah di obok-obok.

 

Tapi inikan hanya soal waktu, kalau media islam ini sudah berhasil dipecah belah, mungkin lain waktu media-media seperti media online islam, media cetak islam bahkan media ormas islam yang besar akan dilibas juga. Tapi lagi-lagi inikan soal waktu, jadi ada percobaan dulu, ini merupakan percobaan dipemerintahan Jokowi dengan melakukan percobaan-percobaan tes-tes semacam ini dan ini berbahaya kalau ini tak dilawan.

Editor :
Sumber : Ayu
- Dilihat 1640 Kali
Berita Terkait

0 Comments