Bekasi / Kota /
Follow daktacom Like Like
Senin, 23/01/2023 09:18 WIB

Komitmen Bangun Perdamaian, Djajang Buntoro Apreasiasi Kepala Daerah Kota Bekasi

Djajang Buntoro 1
Djajang Buntoro 1

BEKASI, DAKTA.COM - Sosok Djajang Buntoro, Mth dikenal luas sebagai pribadi yang ikut gencar menyuarakan toleransi antar umat beragama.

 

Motivasi Djajang Buntoro untuk menyuarakan kerukunan bukan hanya jargon semata. Hal ini dibuktikan secara langsung dalam pergaulannya sehari-hari dengan seluruh kalangan masyarakat tanpa memandang status sosial atau latarbelakang agama dan suku.

 

Meski dikenal sebagai tokoh umat Nasrani, namun Djajang Buntoro tetap menjalin keakraban dengan tokoh agama lainnya. Bahkan namanya sudah dianggap tak asing lagi bagi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bekasi yang pengurusnya berasal dari kalangan tokoh lintas agama.

 

Bukan hanya dengan tokoh lintas agama, nama Djajang Buntoro juga begitu familiar bagi kalangan pengurus organisasi masyarakat (Ormas) atau organisasi kedaerahan yang eksis di Kota Bekasi. Sikap santun yang ditunjukkan dalam pergaulan, membuatnya merasa memiliki banyak saudara di kota yang dikenal sebagai kota yang heterogen ini.

 

Aktifitasnya menyuarakan kerukunan hidup beragama ini pada akhirnya membuka pintu pergaulan Djajang Buntoro dengan Wali Kota Bekasi, mulai dari Mochtar Mohamad, Rahmat Effendi, hingga Tri Adhianto yang saat ini menjabat Plt Wali Kota Bekasi. Satu kalimat diungkapkannya ketika diajak berbincang terkait figur-figur pemimpin masyarakat Bekasi tersebut: bangga memiliki pemimpin yang memiliki jiwa toleransi tinggi.

 

 

“Semua pergaulan yang saya jalani dalam hidup ini merupakan satu jalan menkalin persaudaraan. Dan saya sangat bersyukur karena memiliki banyak saudara di Kota Bekasi. Bahkan saya merasa bangga dengan pemimpin-pemimpin Kota Bekasi yang memiliki toleransi yang tinggi, mulai dari Pak Mochtar Mohamad, Pak Pepen (panggilan akrab Rahmat Effendi-red), dan Pak Tri Adhianto,” ungkap Djajang saat diajak berbincang santai belum lama ini.

 

“Ketika masa kepemimpinan Pak Ahmad Zurfaih di Kota Bekasi, saya lebih banyak fokus di gereja. Kemudian saat masa kepemimpinan Pak Mochtar Mohamad, saya merasa terpanggil untuk menyuarakan soal kerukunan, dan saya bersyukur karena Pak M2 (panggilan akrab Mochtar Mohamad-red) memberikan supportnya. Inilah yang memberikan semangat bagi saya untuk aktif menggemakan kerukunan hidup beragama sampai saat ini,” kata Djajang.

 

Djajang kemudian memberikan penilaian positifnya terhadap karakter para pemimpin Kota Bekasi tersebut. “Secara sosial atau pertemanan, saya begitu respek dengan Pak M2, Beliau merupakan sosok pemimpin yang begitu merakyat, Beliau akan menerima kedatangan masyarakat yang ingin menemui Beliau tanpa memandang status sosial,” ulasnya.

 

“Kalau bicara soal kinerja, saya merasa terkesan dengan figur Pak Pepen. Bahkan para tokoh agama di Kota Bekasi melakukan Deklarasi Kerukunan Umat Beragama pada tahun 2011 saat kepemimpinan Pak Pepen, makanya saya sepakat jika Pak Pepen mendapat penghargaan sebagai Bapak Toleransi. Saya melihat sosok Pak Pepen sebagai sosok pekerja keras yang selalu berjuang untuk membangun wilayah Kota Bekasi. Satu pemikiran dari Beliau yang sampai saat ini masih tertanam di hati saya, yakni Think Out of The Box,” papar Djajang.

 

“Kalau Pak Tri, orangnya luwes, orangnya baik, supel dalam bergaul, Beliau juga tidak memandang status sosial dalam pergaulan. Beliau memiliki edukasi yang tinggi. Sifat seperti ini memungkinkan Pak Tri terlihat memiliki kharisma yang tinggi di mata masyarakat,” lanjut Djajang.

 

Akur dengan ketiga figur pemimpin tersebut, tak lantas membuat Djajang Buntoro menutup pintu peegaulannya dengan kalangan masyarakat lapisan bawah. Dalam pandangannya, seorang wali kota atau rakyat jelata itu sama-sama seorang manusia yang memiliki derajat yang sama.

 

“Meski akur sama Pak M2, Pak Pepen, atau Pak Tri, saya tidak memiliki kepentingan khusus, saya hanya ingin menambah persaudaraan dan mempererat tali pertemanan. Makanya saya juga akrab sama tukang ojek, pedagamg asongan sampai tukang parkir. Semua manusia sama derajatnya di mata saya,” ujar Djajang.

 

Satu harapan disampaikan Djajang Buntoro saat mengakhiri perbincangan. “Tetaplah hidup rukun sesuai amanat Bhinneka Tunggal Ika, tak ada gunanya berselisih, tak ada gunanya saling bergesekan karena kita semua adalah bersaudara,” pungkasnya.


 

 

Reporter : Warso Sunaryo
Sumber : Jaenuddin Ishaq
- Dilihat 693 Kali
Berita Terkait

0 Comments