Nasional / Ekonomi /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 18/01/2022 09:00 WIB

Ketahanan Pangan ASEAN Butuh Kontribusi Lebih Banyak dari Sektor Swasta

pangan
pangan

JAKARTA.DAKTA.COM – 17 Januari 2022, Ketahanan pangan kawasan ASEAN membutuhkan kontribusi swasta yang lebih besar, termasuk melalui foreign direct investment FDI atau penanaman modal asing, untuk memperkuat rantai pasokan pangan dan pertanian serta posisi kawasan dalam rantai nilai global.

“Kawasan ini membutuhkan lebih banyak investasi, termasuk foreign direct investment – FDI pada sektor pangan untuk memastikan akses dan keterjangkauan masyarakatnya terhadap pangan. Ketahanan pangan di ASEAN masih rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan pasokan. Hal itu memengaruhi keterjangkauan pangan masyarakatnya,” terang Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi.

Realisasi FDI di bidang pertanian di ASEAN hingga 2020 kurang dari 10 persen dari total FDI wilayah. FDI di sektor pertanian ASEAN telah menurun sejak tahun 2015 dan rata-rata realisasi FDI tahunan pertanian ke ASEAN pada tahun 2016 hingga 2019 lebih rendah 26,89 persen dibanding tahun 2015.

Kerentanan antara lain terlihat dari masalah kekurangan gizi yang sudah berlangsung lama. Prevalensi stunting dan wasting pada balita di ASEAN pada tahun 2020 masing-masing sebesar 27,40 persen dan 8,2 persen, lebih tinggi dari rata-rata global, berdasarkan laporan dari Global Nutrition Report.

“Upaya mewujudkan ketahanan pangan dapat dilakukan melalui investasi, yang dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian. Namun hal ini membutuhkan kerangka peraturan yang lebih spesifik,” terangnya.

ASEAN sudah memiliki ASEAN Integrated Framework for Food Security and Strategic Plan (AIFS-SPA FS yang merupakan pedoman dan rekomendasi bersifat sukarela bagi anggota untuk memastikan ketahanan pangan jangka panjang, perbaikan nutrisi dan peningkatan mata pencaharian petani.

Pedoman yang bersifat sukarela ini pada akhirnya membuat implementasinya berbeda antar negara-negara ASEAN.

ASEAN juga perlu mengurangi dominasi BUMN dan lembaga sejenis di sektor pangan seperti BULOG di Indonesia, VINAFOOD I dan II di Vietnam, NFA di Filipina dan BERNAS di Malaysia juga dapat menghambat masuknya FDI dan memunculkan keengganan swasta untuk terlibat dalam pembangunan sektor pangan.

“Kesenjangan tata kelola dan kebijakan seperti lemahnya penegakan hukum, kurangnya transparansi dan kondusivitas lingkungan untuk partisipasi swasta di sektor pangan dan pertanian tetap menjadi tantangan bagi implementasi FDI di beberapa negara anggota, terutama pada yang sedang mengalami transisi ekonomi seperti Kamboja,” jelas Azizah.

Penelitian CIPS berjudul Promoting Constructive Agriculture and Food Investment in ASEAN merekomendasikan, AIFS-SPA FS mendorong keterlibatan swasta dalam pengembangan ranti pasok pangan dan pertanian, mempersiapkan peta jalan untuk rantai pertanian regional dan nilai pangan yang berorientasi pada permintaan, dan mendukung pengembangan rantai pertanian regional pertanian dan pangan melalui kemitraan yang lebih erat.

ASEAN juga perlu menyepakati kriteria investasi bersama atau menunjukkan keterbukaan yang sama terhadap FDI di kawasannya dan implementasi AIFS-SPA FS, ujar Azizah. Tanpa harmonisasi kerangka penyaringan (atau screening) FDI di ASEAN dan harmonisasi komitmen terhadap keterbukaan FDI FDI, maka pendekatan terpadu dibutuhkan untuk mencapai ketahanan pangan regional.

Pemahaman bersama tentang tantangan domestik masing-masing dan juga untuk mendorong perubahan kebijakan ketahanan pangan domestik yang tepat juga harus dipupuk melalui koordinasi dan kerja sama yang lebih erat antara para pemimpin ASEAN, sektor swasta, dan pemangku kepentingan terkait lainnya.

 

 

 

 



 

Reporter : Warso Sunaryo
- Dilihat 395 Kali
Berita Terkait

0 Comments