Nasional / Pendidikan /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 22/10/2021 19:35 WIB

Digitalisasi Pendidikan di Indonesia, Sudah Siap kah?

CTO adasemua.id Denny Roozano
CTO adasemua.id Denny Roozano

BEKASI, DAKTA.COM : Pemerintah terus menggenjot berbagai upaya demi terwujudnya digitalisasi pendidikan. Paket bantuan peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terus disalurkan ke sekolah-sekolah. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelontorkan anggaran sebesar Rp3,7 triliun untuk pengadaan alat-alat TIK guna mengakselerasi program digitalisasi sekolah atau digitalisasi pendidikan pada 2021.

 

Dana senilai Rp3,7 triliun itu berasal dari dua alokasi. Pertama, berasal dari anggaran Kemendikbudristek (APBN) senilai Rp1,3 triliun. Kedua, sebesar Rp2,4 triliun dari Dana Alokasi Khusus Fisik, yang merupakan anggaran dari pemerintah pusat yang ditransfer ke pemerintah daerah.

 

Anggaran triliunan itu diperuntukkan belanja laptop dan peralatan TIK lainnya untuk kebutuhan sekolah mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SLB yang akan disalurkan hingga Desember 2021.

 

Kepala Biro Perencanaan Kemendikbudristek, M. Samsuri menyebut, Bantuan laptop dan peralatan TIK yang dananya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sudah 90 persen tersalurkan dengan pelaksana alokasinya dari Pemda.

 

"Yang dananya berasal dari DAK, sudah 90 persen. Alokasinya dilaksanakan oleh Pemda," ujar Kepala Biro Perencanaan Kemendikbudristek, M. Samsuri, Rabu, 13 Oktober 2021.

 

Di sisi lain, pemerhati pendidikan dari Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji mengingatkan agar program digitalisasi sekolah ini tidak sebatas pengadaan laptop dan peralatan TIK semata. Ia menagih Kemendikbudristek mematangkan rencana induk program Digitalisasi Sekolah.

 

"Jangan cuma bagi-bagi laptop saja. Digitalisasi pendidikan itu harus ada masterplan-nya," ujar Indra.

 

Indra menyebut, ada tiga hal yang mesti dimuat dalam rencana induk digitalisasi pendidikan, yakni: infrastruktur, infostruktur dan infokultur.

 

Sementara itu, Chief Technical Officer (CTO) adasemua.id, Denny Roozano mengatakan, program impian digitalisasi pendidikan di Indonesia memang terkesan agak dipaksakan, namun bukan tidak mungkin untuk bisa diwujudkan.

 

Meski banyak kendala di sana-sini, sambung Denny, terutama dalam hal infrastruktur digital berupa konektifitas jaringan internet. Menurut Denny, ketersediaan jaringan, termasuk ketersediaan tower base transceiver station (BTS), sambungan jaringan kabel fiber optic (FO) bawah laut, dan tentu saja topografi wilayah sangat berpengaruh dalam hal ini. Padahal, menurutnya, konektifitas internet merupakan kebutuhan paling dasar dan paling penting dalam dunia digital.

 

“Masih banyak wilayah-wilayah di Indonesia, terutama di pelosok dan daerah terpencil yang sulit mengakses internet. Bahkan sinyal seluler pun tak ada. Itu kendala utamanya saat ini. Jika kita berbicara tentang jaringan, ada kebutuhan yang sangat kompleks di sana. Termasuk kebutuhan akan sambungan FO maupun tower BTS. Jadi sangat sulit jika berbicara digitalisasi tanpa ketersediaan itu semua” tutur Denny.

 

Selain itu, sambung Denny, kemampuan para guru melakukan pengajaran kepada peserta didik (siswa) melalui media digital, yang masih sangat terbatas. Dalam hal ini, menurut Denny adalah tentang literasi digital dari para pendidik (guru) serta para peserta didik (siswa).

 

Karena, lanjut Denny, metode pengajaran yang dilakukan oleh para guru yang terbiasa mengajar langsung depan kelas dengan media papan tulis, tentu akan berbeda jika kemudian diimplementasikan ke media digital. Para guru harus bisa memformulasikannya di media digital.

 

“Para guru belum mampu memvisualisasikan apa yang biasa mereka ajarkan di depan kelas ke dalam pengajaran secara digital. Para guru masih kesulitan. Saat ini di Indonesia masih mencari-cari formulasi yang pas untuk metode pembelajaran secara digital. Dan, itu menjadi kendala umum yang tak hanya di terjadi di pelosok daerah, juga di kota-kota besar,” ujar Denny.

 

Denny berharap, semua kendala tersebut bisa segera ditemukan solusinya. Sehingga digitalisasi pendidikan di Indonesia bisa segera terwujud.

 

“Siap tidak siap, memang lebih baik bergerak dulu, meski menemukan banyak kendala. Karena berbicara tentang dunia digital itu adalah sebuah proses. Proses yang harus dijalani disertai dengan pembekalan kemampuan dan literasi (digital) untuk mendapatkan keberhasilan. Termasuk untuk program digitalisasi pendidikan,” pungkas Denny.

 

 

Reporter : Warso Sunaryo
- Dilihat 1816 Kali
Berita Terkait

0 Comments