Harokah Islamiyah /
Follow daktacom Like Like
Ahad, 30/08/2020 12:14 WIB

Pahala Membaca Surah Al Ikhlas

Ilustrasi mempelajari Al Quran
Ilustrasi mempelajari Al Quran
DAKTA.COM - Oleh Dr KH Syamsul Yakin MA
 
Ada pahala bagi siapa saja yang membaca surah al-Ikhlas. Nabi SAW bersabda, “Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya surah al-Ikhlas sebanding (dengan) sepertiga Alquran.” (HR. Bukhari). Itu artinya bagi yang membacanya akan mendapat ganjaran pahala seperti membaca sepertiga Al Quran.
 
Namun Nabi SAW tidak memberi rekomendasi untuk membaca tiga kali surah al-Ikhlas dan tidak perlu lagi membaca surah-surah lainnya. Dalam konteks ini, Nabi SAW sedang menunjukkan bahwa setiap surat di dalam Al Quran  memiliki kelebihan masing-masing. Informasi ini diharapkan jadi motivasi.
 
Secara sosio-histrois, seperti yang ditulis oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, surah al-Ikhlas turun terkait dengan pertanyaan orang-orang musyrik kepada Nabi SAW, “Gambarkanlah kepada kami bagaimana Tuhanmu itu?”  Lalu Allah SWT menurunkan surah ini, empat ayat sekaligus.
 
Ayat pertama surah al-Ikhlas adalah, “Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa.” (QS. al-Ikhlas/112: 1). Terkait ayat ini, Syaikh Nawawi Banten dalam karya magnum-opus-nya, yakni Tafsir Munir mengutip cerita al-Dahhak tentang orang-orang musyrik yang mengutus Amir Ibnu Tufail untuk membujuk Rasullullah SAW.
 
Ibnu Tufail berkata, “Kamu telah mencaci-maki tuhan-tuhan sembahan kami dan kamu telah menentang agama nenek-moyang kami. Kalau kamu miskin, maka kami dapat membuat kamu kaya. Andaikata kamu gila, maka kami akan mengobatimu. Termasuk kalau kamu mencintai seorang wanita, kami kawinkan  kamu.”
 
Nabi SAW menjawab, “Aku bukanlah orang miskin, bukan pula orang gila, dan bukan juga seorang laki-laki sedang jatuh cinta kepada seorang wanita. Sungguh, aku adalah utusan Allah yang mengajak kamu menyembah Allah dan meninggalkan menyembah berhala.”  Sungguh tegas dan jelas jawaban Nabi SAW ini.
 
Namun justru orang-orang musyrik itu yang tidak puas atas jawaban Nabi SAW. Kembali mereka, tulis Syaikh Nawawi Banten, mengutus  Amir Ibnu Tufail untuk kedua kalinya. Mereka meminta Amir Ibnu Tufail menanyakan bahan dasar sesembahan Nabi SAW, apakah terbuat dari emas ataukah terbuat dari perak? Lalu turunlah surah ini.
 
Diceritakan, ketika mereka mengetahui bahwa Tuhan Nabi Muhammad SAW itu Mahaesa, mereka makin terperangah. Syaikh Nawawi Banten mengutip keheranan mereka, “360 berhala saja tidak cukup untuk memenuhi hajat kami, maka mungkinkah satu Tuhan dapat memenuhi segala kebutuhan seluruh makhluk?”
 
Pertanyaan ini dijawab oleh Allah SWT dengan menurunkan surah al-Shaffat/ :1-4), “Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya. Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat).  Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.”
 
Berdasar informasi di atas, jelaslah bahwa sesuai dengan namanya “Surah al-Ikhlas”, maka seorang muslim harus ikhlas mempertuhankan Allah SWT Yang Mahaesa. Nabi SAW diutus untuk memberi kabar gembira kepada seluruh penduduk bumi bahwa ada Tuhan yang betul-betul pantas disembah untuk dijadikan Tuhan sekalian alam.
 
Ikhlas dalam konteks ini, sistem ketuhanan Allah SWT memenuhi keingin hati manusia dan tidak bertentangan akal sehat. Allah SWT berfirman, “Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. al-Ikhlas/112: 2-4). Sudahkah kita membaca surah al-Ikhlas?
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Republika
- Dilihat 1479 Kali
Berita Terkait

0 Comments