Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 04/09/2015 15:14 WIB

As Sisi, Aylan Kurdi dan Indonesia

Karikatur Jasad Anak Suriah yang Terdampar di Pantai Bodrum Turki
Karikatur Jasad Anak Suriah yang Terdampar di Pantai Bodrum Turki

Oleh: Azeza Ibrahim Rizki, Jurnalis

Indonesia sebagai sebuah negara berumur tujuh puluh tahun sudah banyak menelan asam garam penindasan, konflik berdarah, dan pelanggaran. Kita punya sejarah panjang kekejian penjajahan, sakitnya dikhianati PKI, dan perihnya kerusuhan 1998. Namun, tampaknya semua kejadian itu tidak menjadikan kita sebagai bangsa peka terhadap isu-isu kemanusiaan. Hal ini tercermin dari kebijakan bilateral kita yang cenderung "cari aman".

Dalam waktu dekat ini, Indonesia akan kedatangan tamu kenegaraan seorang diktator baru asal Mesir. Dan atas nama menjaga hubungan, orang yang paling bertanggungjawab atas pembantaian di lapangan Rabi'ah Mesir ini disambut dan dihormati lewat protokoler ketat. Tentu hal ini sangatlah ironis bagi sebuah negara yang memiliki sejarah panjang pelanggaran HAM.

Jika kini yang tampak melakukan penolakan atas kehadiran sang Jenderal hanyalah segelintir orang yang berdemo di jalan-jalan, mungkin tanpa kita sadari di alam lain, jutaan nyawa berteriak meneriakkan betapa memalukannya sikap bangsa yang tidak mampu secara pantas menghargai nyawa manusia.

Sementara itu, di sisi lain dunia, seorang anak berumur 3 tahun meregang nyawa di laut lepas, jasadnya terdampar di pinggir pantai Bodrum Turki. Bocah yang diidentifikasi bernama Aylan Kurdi ini adalah salah seorang dari 12 penumpang kapal imigran Suriah yang hendak menyebrang ke Yunani dari lepas pantai Turki.

Di tepi pantai Bodrum itu, Aylan tampak seperti sedang tertidur dengan damai, namun saat ombak menyapu tubuh kecil itu, rasa perih akan segera menjalar dalam hati, bocah tanpa dosa ini harus membayar "kedamaian" dengan nyawa. Karena di negeri asalnya, tiada malam tanpa ledakan Birmil (Bom Barrel) yang dilepaskan oleh pasukan rezim yang berkuasa.

Foto jasad Aylan pun mengguncang dunia, tapi tidak sedikitpun menyentuh hati pemerintahan Indonesia. Bayangkan, setelah 4 tahun krisis kemanusiaan di Suriah sejak 2011 lalu, Joko Widodo selaku Presiden di negara yang mayoritas Muslim Ahlussunnah wal Jamaah malah memberikan salam hangat pada Bashar Asad selaku pimpinan rezim yang sudah terbukti membantai rakyatnya sendiri dengan senjata kimia. Tidak ada sedikitpun desakan, atau minimal "nasihat" agar Bashar setidaknya mengizinkan bantuan kemanusiaan untuk masuk ke Suriah.

Lembaga-lembaga penjunjung HAM Indonesia yang punya jaringan Internasional pun tak tampak dingin menyikapi kondisi ini. Universalitas HAM seolah-olah mati, karena HAM tampaknya hanya dipahami untuk diri dan kepentingan sendiri. Jadi sekiranya yang mati itu bukan sanak atau saudaranya, mereka lebih memilih untuk tutup telinga, mata dan mulut.

Para founding father negeri ini pastinya malu memiliki penerus yang tidak berani untuk menunjukkan sikap tegas membela orang-orang yang tertindas. Kalimat "Bahwa Kemerdekaan itu Ialah Hak Segala Bangsa" yang tertulis di dalam preambule UUD 1945 seolah dianggap dongeng orang-orang terdahulu yang tidak relevan dengan kondisi kekinian. Lagi-lagi, semua dengan alasan menjaga hubungan bilateral.

Empati kita sebagai bangsa telah mati, rasa solidaritas sebagai sesama manusia pupus sudah, karena mereka yang kerap menyuarakan pluralitas dan kebebasan justru bungkam. Sementara itu, relawan-relawan yang bekerja siang malam demi menolong saudara-saudaranya sesama manusia di luar sana justru di stigma sebagai teroris, dan tidak nasionalis.

Kita juga punya sejarah yang menyayat hati, tidak bisakan kita membagi rasa dan bersama meringankan penderitaan mereka? Ataukah diam sudah menjadi pilihan bersama?

Editor : Azeza Ibrahim
Sumber : dakta.com
- Dilihat 2526 Kali
Berita Terkait

0 Comments