Oase Iman /
Follow daktacom Like Like
Rabu, 19/08/2020 15:17 WIB

Sejarah Muharram Sebagai Bulan Pertama Hijriah

Ilustrasi Muharram
Ilustrasi Muharram
DAKTA.COM - Setelah bersepakat bahwa awal tahun pada kalender Hijriah itu terhitung sejak tahun Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Perdebatan kembali terjadi tentang bulan apakah yang menjadi awal bulan-bulan Hijriah ini.
 
Ustaz Ahmad Zarkasih Lc dalam buku "Muharram Bukan Bulan Hijrahnya Nabi" terbitan Rumah Fiqih Publishing menjelaskan sejarah dipilihnya bulan Muharram jadi bulan pertama di kalender Hijriah.
 
Ketika sedang bermusyawarah menentukan bulan apa yang menjadi bulan pertama pada Kalender Hijriah. Ada yang menawarkan bulan Rabiul Awal sebagai bulan pertama tahun Hijriah. Karena bulan itu ialah bulan hijrahnya Nabi Muhammad SAW.
 
Akan tetapi Sayidina Umar justru memilih bulan Muharram untuk jadi bulan pertama pada susunan tahun Hijriah. Selain karena rekomendasi Sayidian Utsman, beliau memilih Muharram dengan alasan bahwa hijrah walaupun terjadi di bulan Rabiul Awal, akan tetapi muqadimah (permulaan) hijrah terjadi sejak di bulan Muharram.
 
Beliau mengatakan bahwa wacana hijrah itu muncul setelah beberapa sahabat membaiat Nabi. Baiat itu terjadi di penghujung bulan Dzulhijjah. Semangat baiat itulah yang mengantarkan kaum Muslim untuk berhijrah.
 
Bulan yang muncul setelah Dzulhijjah ialah bulan Muharram. Karena itu Sayidina Umar memilih Muharram sebagai bulan pertama di tahun Hijriah.
 
Sebelumnya terjadi perdebatan dalam menentukan kapan tahun pertama dalam kalander Hjriyah itu dimulai. Ada yang mengusulkan tahun pertama dimulai di tahun Gajah, yakni tahun Nabi Muhammad SAW lahir. Ada juga yang mengusulkan di tahun wafatnya Nabi Muhammad SAW.
 
Ada banyak yang mengusulkan di tahun Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul saat wahyu pertama turun. Selain itu ada yang mengusulkan di tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah.
 
Dari empat opsi ini, akhirnya Sayidina Umar memutuskan untuk memuali tahun di tahun hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah atas usulan dan rekomendasi Sayidina Utsman dan Ali r.a.
 
Beliau tidak memilih tahun kelahiran dan tahun diangkatnya Nabi menjadi Rasul. Karena memang ketika itu juga mereka masih berselisih tentang waktu kapan tepatnya Nabi lahir dan kapan wahyu pertama turun.
 
Sedangkan tahun wafatnya Nabi, Sayidina Umar menolak menjadikannya permulaan tahun karena di tahun tersebut banyak kesedihan. Akhirnya beliau memilih tahun hijrahnya Nabi. Selain karena jelasnya waktu tersebut, hijrah juga dianggap menjadi pembeda antara yang haqq dan yang bathil ketika itu.
 
Hijrah Nabi juga menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam setelah sebelumnya hanya berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Karena itulah kalender ini dinamakan kalender Hijryah. Sebab yang menjadi acuan awalnya ialah hijrahnya Nabi Muhammad SAW.
 
Islam memiliki dua belas bulan dalam hitungan satu tahun menurut hitungan yang telah ditetapkan. Empat bulan di antaranya adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT yang disebut juga dengan bulan haram. 
 
Keempatnya adalah bulan Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Para ahli tafsir menyebutkan, amalan-amalan ibadah yang dilakukan selama empat bulan haram itu bakal dilipatgandakan pahalanya. 
 
Hal ini seperti dijelaskan Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir: "Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada, bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa di samping melipatgandakan perbuatan baik." 
 
Kemuliaan bulan-bulan tersebut juga termaktub dalam al-Quran surat At-Taubah ayat 36 yang artinya: 
 
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.”  Wallahu a’lam.
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Republika
- Dilihat 1549 Kali
Berita Terkait

0 Comments