Daktatorial /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 11/08/2020 12:10 WIB

Geliat Ekonomi Bekasi di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi produk UMKM
Ilustrasi produk UMKM
BEKASI, DAKTA.COM - Semenjak kasus Covid-19 melanda Indonesia, berbagai permasalahan sosial dan ekonomi muncul di tengah masyarakat. Tak dapat dipungkiri imbas Covid-19 telah meluluhlantakkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia khususnya di beberapa daerah dengan tingkat penyebaran tertinggi seperti di Jabodetabek.
 
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi sektor usaha yang merasakan dampak yang cukup dalam dari pandemi Covid-19. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bantuan nyata dari pemerintah sebagai regulator untuk membangkitkan kembali ekonomi di masyarakat di mulai dari para pelaku UMKM.
 
Dampak Pandemi Bagi UMKM
 
Ketua Kelompok UMKM Kota Bekasi Klaster Makanan dan Minuman, Afif Ridwan mengungkapkan kondisi bisnis UMKM khususnya di bidang makanan dan minuman cukup terpuruk, apalagi ketika pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
 
Hal itu karena, restoran maupun rumah makan dibatasi jam operasionalnya dan pengunjung dilarang makan di tempat, sehingga menyebabkan jumlah omzet penjualan menurun drastis.
 
"Tapi ada beberapa yang bertahan seperti makanan frozen karena selama di rumah, masyarakat lebih memilih menyimpan makanan siap saji seperti itu," tuturnya dalam Dialog Publik Radio Dakta yang digelar secara online melalui Zoom, Selasa (11/8).
 
 
Ia mengaku, meski daya beli masyarakat menurun di tengah pandemi ini, pelaku UMKM berusaha agar tetap survive di masa sulit seperti ini dengan memaksimalkan daya dan upaya yang ada.
 
"Pelaku UKM bermanuver dengan memanfaatkan jualan online semaksimal mungkin untuk bertahan di masa pandemi ini," ujarnya.
 
Pihaknya menyarankan kepada pelaku UKM untuk bertahan di masa pandemi Covid-19 dengan melakukan inovasi dan kreativitas secara maksimal hal itu juga agar mendorong daya beli masyarakat lagi.
 
Hal senada juga diungkapkan oleh Pegiat UMKM Kabupaten Bekasi, Sri Sugiharti. Menurutnya, secara menyeluruh pendapatan UMKM di Kabupaten Bekasi pasti menurun akibat Covid-19, apalagi di bidang jasa seperti salon, wedding organizer, fashion, dan sebagainya.
 
Lebih lanjut ia menyampaikan, banyak pelaku UMKM di Kabupaten Bekasi yang sudah mampu memproduksi barang sendiri, tetapi terkendala dengan pemasarannya.
 
"Kami berharap Pemerintah Kabupaten Bekasi bisa memfasilitasi produk UKMK agar bisa membantu pemasarannya dan bagaimana pemerintah bisa menjangkau seluruh wilayah hingga ke Muara Gembong," katanya.
 
Pihaknya meminta kepada Pemkab Bekasi untuk memberikan perhatian lebih ke UMKM dalam menyalurkan produk yang hendak dijual. Ia menyarankan, untuk membentuk Sentral UKM sebagai wadah bagi pelaku UMKM dalam menjual produknya.
 
"Jadi nanti kalau ada kunjungan dewan atau tamu ASN bisa membeli oleh-oleh di sana. Itu baru bentuk bantuan pemerintah secara nyata," tegasnya.
 
Bukan hanya makanan dan jasa, di bidang perhotelan juga merasakan keterpurukan imbas Covid-19. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bekasi, Roan Sukraeni mengatakan pandemi ini berdampak pada persoalan okupansi hotel di Kabupaten Bekasi anjlok. Sejumlah hotel terpaksa tutup karena tidak mampu bertahan, hingga ada hotel yang merumahkan karyawannya.
 
Pada masa menuju adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini, lanjutnya, para pengusaha hotel mulai bangkit kembali meski dengan tertatih-tatih.
 
"Kami berharap semoga pandemi ini segera berakhir dan perekonomian kita bisa bangkit lagi, karena ini kan berpengaruh ke karyawan," tuturnya.
 
Langkah Pemda Dorong UMKM di Tengah Covid-19
 
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bekasi, Abdillah Hamta menyebut pihaknya sudah mengeluarkan kebijakan dan memberikan stimulus kepada penggiat UMKM di Kota Bekasi dalam menghadapi pandemi Covid-19.
 
"Kebijakan Wali Kota dan Wakil Wali Kota memberikan stimulus sebesar Rp4,3 miliar dan memberikan pinjaman kepada pelaku UKM ke BPRS dengan bunga kecil hingga tanpa bunga," ucapnya.
 
Ia mengaku, Pemerintah Kota Bekasi juga membeli produk yang dihasilkan oleh UMKM seperti masker, makanan dan minuman kesehatan agar mendorong pertumbuhan ekonomi mereka, sehingga diharapkan terjadi perputaran ekonomi di lingkungan menengah ke bawah.
 
"Kami juga memberikan sosialisasi dan pelatihan berjualan secara online bagi penggiat koperasi dan UMKM, hingga stimulus tadi sehingga Alhamdulillah mereka bertahap bisa bangkit," ucapnya.
 
Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari STEBI Cikarang, Teguh Wibowo mengapresiasi langkah pemerintah daerah maupun pusat untuk menyelamatkan UMKM di masa pandemi.
 
Namun, ia menekankan bahwa perlunya regulasi yang mampu membangkitkan daya beli masyarakat yang berdampak pada perputaran ekonomi. 
 
Sekarang ini, katanya, ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh perputaran ekonomi dari rumah ke rumah masyarakat, sehingga perlu didorong daya belinya agar meningkat.
 
"Kita ketahui ekonomi Indonesia minus, kalau tidak diatasi terutama dengan regulator, maka daya beli masyarakat menurun drastis. Perlu satu langkah regulasi yang komprehensif, untuk menjadi jaring pengaman kehidupan sosial masyarakat," paparnya.
 
Dialog Publik Radio Dakta dengan tema "Geliat Ekonomi Bekasi di Tengah Pandemi Covid-19" menghadirkan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bekasi, Abdillah Hamta; Pengamat Ekonomi dari STEBI Cikarang, Teguh Wibowo; Ketua Kelompok UMKM Kota Bekasi Klaster Makanan dan Minuman, Afif Ridwan; Pegiat UMKM Kabupaten Bekasi, Sri Sugiharti; Wakil Ketua PHRI Kabupaten Bekasi, Roan Sukraeni melalui aplikasi Zoom pada Selasa (21/7). **
 
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 16084 Kali
Berita Terkait

0 Comments