Nasional / Ekonomi /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 07/08/2020 15:29 WIB

Dahlan Iskan Beri Saran Agar RI Tak Masuk Jurang Resesi

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan
JAKARTA, DAKTA.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) dua hari lalu baru saja mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia atau PDB kuartal II-2020. Seperti sudah prediksi banyak kalangan, ekonomi Indonesia di kuartal II-2020 terkontraksi, dan itu menjadi kenyataan.
 
BPS mencatat, ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan II-2019 terkontraksi pertumbuhan 5,32% (y-on-y), ekonomi Indonesia triwulan II-2020 terhadap triwulan sebelumnya terkontraksi pertumbuhan 4,19% (q-to-q), dan ekonomi Indonesia semester I-2020 terhadap semester I-2019 terkontraksi 1,26% (c-to-c).
 
Publik pun heboh. Muncul banyak suara tentang masa suram ekonomi Indonesia. Seolah-olah dunia akan kiamat karena semua orang mulai bicara Indonesia akan masuk ke jurang resesi.
 
Pro dan kontra muncul ke permukaan dengan nada kritis, pesimis hingga sinis keluar dari para oposan rezim. Namun banyak pula yang maklum dengan fakta ini. 
 
Tak satu pun negara di dunia yang terhindar dari dampak pandemi virus corona (Covid-19). Hampir semua negara mengalami kontraksi. 
 
Ada yang sudah dua kuartal berturut mengalami kontraksi sehingga sah masuk ke periode resesi. Nah, Indonesia baru sekali ini mengalami kontraksi ekonomi, bila di kuartal III-2020 kontraksi lagi, maka Indonesia pun masuk ke jurang resesi. 
 
Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dalam tulisannya di blog pribadinya https://www.disway.id/ mengatakan pemerintah perlu punya terobosan untuk mengatasi keterpurukan ekonomi ini. 
 
Menurut Dahlan meski ekonomi kontraksi 5,3%, sebenarnya banyak sektor yang masih bisa tumbuh di atas 8%. Sebaliknya banyak juga yang minus lebih dalam dari 5%. 
 
"Pertanian adalah sektor yang masih tumbuh di atas 5%. Berarti sektor inilah yang bisa diandalkan. Dengan cara biasa-biasa saja masih bisa tumbuh di atas 5 persen.
 Sejak lama saya ingin agar sektor pertanian terus digenjot. Sektor ini masih punya ruang untuk tumbuh," tulis Dahlan dalam blog-nya tersebut.
 
Indonesia, menurut Dahlan masih beruntung hanya terkontraksi 5,32%. Amerika Serikat (AS) lebih parah, pada kuartal II mengalami kontraksi 30% lebih, padahal stimulus sudah digelontorkan habis-habisan.
 
Demikian pulan dengan ekonomi Singapura yang minus 42% pada periode yang sama.
 
Namun kontraksi ekonomi tidak membuat AS dan Singapura sulit. Singapura sudah terlalu kaya untuk dianggap sulit. Demikian juga Amerika.

 
Sementara Indonesia, minus 5,3% sangatlah sulit karena posisi awal kita yang masih miskin. Padahal sudah jelas bahwa kesulitan ekonomi tidak hanya terjadi tahun ini. Tahun depan juga masih lebih sulit.
 
Pada 2021 adalah habisnya masa berlaku banyak fasilitas keuangan. Pinjaman kembali harus dicicil. Yang macet-macet harus diputuskan bentuk penyelesaiannya. Tahun depan adalah kesulitan yang sebenarnya.

 
Pun kalau Covid-19 sudah selesai di akhir tahun ini. Apalagi kalau Covid-19 masih bersambung ke tahun depan. Dengan atau tanpa Covid-19 berarti belum ada harapan perbaikan pada 2021.

 
Sedang pada 2022 sudah masuk ke siklus politik lima tahunan berikutnya. Maka sisa enam bulan tahun 2020 adalah pertaruhan untuk lahirnya terobosan-terobosan. Di semua bidang.
 
"Bisakah kita bicara terobosan baru? Kalau selama ini kita sulit menemukan terobosan lama? Terobosan baru sering terbentur soal politik. Yakni politik jatah. Di segala bidang," kata mantan bos PLN ini.
 
Padahal, menurut Dahlan, sekarang ini bicara politik begitu tidak relevannya. Apalagi kalau masih ada partai yang menuntut jatah porsi kekuasaan.
 
Untuk apa kekuasaan? Begitu tidak relevannya memegang kekuasaan sekarang ini. Apalagi kalau tidak memiliki kreativitas yang bisa menerobos kebuntuan. Sampai tiga tahun ke depan kekuasaan hanyalah drum minyak yang kehilangan minyaknya.
 
Jelaslah, kata Dahlan, bahwa pertanian, peternakan, dan perikanan adalah modal yang masih bisa kita andalkan. Tapi adakah kekuasaan bisa dipakai untuk merombak struktur dan anggaran negara demi tiga andalan kita itu?
 
"Katakanlah jawabannya: tidak bisa. Maka kian tidak relevan lagi kekuasaan itu di mata zaman dan di mata rakyatnya," pungkas Dahlan. **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : CNBC Indonesia
- Dilihat 870 Kali
Berita Terkait

0 Comments