Oase Iman /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 19/06/2020 09:34 WIB

Doa Sebagai Ikhtiar Terhebat

Ilustrasi berdoa
Ilustrasi berdoa
DAKTA.COM - Oleh: KH. Bachtiar Nasir
 
Jika suatu hari kita memiliki uang banyak di bank kemudian ATM terkunci sehingga tak bisa diakses, kiri-kira apa yang akan dilakukan? Pergi ke Bank memberitahukan problem ini atau diam saja sembari menunggu ATM terbuka kembali?
 
Pertanyaan gampang ini tidak perlu dijawab. Yang hendak penulis katakan dari analogi  ini adalah kalau kita tidak berdoa, sama saja seperti anak yang sedang lapar, ketika dia tidak minta, maka tidak bisa makan.
 
Perhatikan firman Allah Ta’ala berikut ini: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
 
Allah Subhanahu wata’ala  itu dekat. Semua yang kita kejar, sudah lama milik Allah Ta’ala.  Dia akan kabulkan, jika kita berdoa. Tapi kalau tidak berdoa, Allah Subhanahu Wa Ta'ala bahkan marah. Ini sebuah  feel (rasa) yang harus kita pegang dan harus kita imani. Jangan memakai selera keduniaan, seperti halnya saat meminta kepada bos. Sekali dua kali minta masih oke, tapi tidak untuk yang ketiga kalinya.
 
Dari surah Al-Baqarah ayat 186 tadi, ada banyak yang bisa ditadabburi, penulis akan ambil misalnya dari satu angle. Allah Subhanahu wata’ala akan memperkenankan doa orang yang berdoa, karena “dia adalah hamba-Ku,” sebagaimana potongan ayat tersebut. Karena itu, semakin banyak doa kepada Allah, maka dia akan semakin banyak beribadah kepada-Nya.
 
Dengan demikian, yang masuk kategori ini hanya orang pilihan yang konsentrasi dalam berdoa dan memantaskan diri dalam berdoa; memantapkan diri sebelum berdoa dengan semua tata cara, adab, ilmu, redaksi meminta.
 
Bahkan sampai pada feel, Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu dekat serta mengimani dekatnya Allah, mengimani bahwa kita hamba-Nya kita harus berdoa. Ini tentu tidak mudah. Hanya orang level tinggi kesadarannya untuk terus memperbaiki diri berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
 
Suatu hari, Saya pernah ditegur guru saya. Ketika itu, dengan tawaduknya, beliau minta saya berdoa untuk beliau. Saya berdoa dengan segala kebodohan saya. Saya memohon ampun, memuji Allah Subhanahu Wa Ta'ala, bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam. Kemudian, saya berdoa untuk diri saya dan guru ini.
 
Kemudian beliau tersenyum pada saya, sebetulnya mengoreksi saya. “Bachtiar, kok berdoanya ga pakai bismillah dulu?” Benar juga ya. Lalu beliau membaca hadits, “Barang siapa yang mengerjakan pekerjaan yang penting (hebat), tapi tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus dari rahmat Alloh Subhanahu Wa Ta'ala.”
 
Waktu itu, belum terpikir dalam benak saya mengawali doa dengan basmalah. Kemudian saya mulai istighfar, memanjatkan pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, demikian juga menghaturkan pujian kepada Nabi Muhammad Sholallahu Alaihi Wasallam. Guru saya yang sudah al-marhum ini mengajarkan saya pentingnya adab bismillahir-rahmanir-rahim.
 
Mengapa perlu menjaga adab sebelum berdoa dengan membaca basmalah? Berdoa bagi seorang guru adalah pekerjaan hebat. Tapi bagi sebagian orang ada yang terbiasa atau menganggap doa biasa-biasa saja. Menganggap kalauo sudah kerja fisik, sudah mengeluarkan biaya, itulah ikhtiar.
 
Kisah lain yang mau saya bagikan adalah saat saya masih kuliah di Madinah. Saya kalau jelang ujian, suka belajar di Masjid Nabawi, apalagi kalau hari Ahad, suasananya  tenang dan bebas dari jama'ah haji.
 
Waktu itu, di Raudhah. Tempatnya adem dan saya duduk bersilang sembari kaki berselonjor. Rupanya kebiasaan saya terbawa. Saya duduk di bawah atap payung pertama dan payung kedua. Pagi itu saya sedang menunggu.
 
Setelah shalat isyraq saya bersandar lalu berselonjor. Tiba, orang di samping saya colek paha saya seraya bertanya, “Maaf sahabat, kaki kamu berselonjor di depan sana makam Nabi?” Waktu itu saya sedang tidak berdoa, sementara dia sedang berdoa di samping saya. Saya pikir tidak salah saya bercerita ini, untuk mengingatkan kembali.
 
Memang benar soal adab etika setiap negara berbeda. Niat saya berselonjor juga bukan tidak menghormati Nabi, karena lapang, tempatnya nyaman. Mungkin saat itu feel dia sedang bershalawat kepada Nabi. Ini tentu sebuah feel atau rasa.
 
Orang-orang yang menjadikan doanya sebagai ikhtiar hebat, dia akan memilih waktu yang paling tepat dan redaksi yang paling hebat.
 
Sebab doa adalah ikhtiar terhebat. Hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya pasti diijabahi. Sebagaimana firman-Nya tadi, “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” Wallahu a'lam bish-shawabi
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : KH. Bachtiar Nasir
- Dilihat 1125 Kali
Berita Terkait

0 Comments