Bekasi /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 19/05/2020 09:49 WIB

Internasionalisasi Dakwah Muhammadiyah

Hamluddin Dosen Istitut Bisnis Muhammadiyah Bekasi
Hamluddin Dosen Istitut Bisnis Muhammadiyah Bekasi

DAKTA.COM - Oleh: Hamluddin, Dosen Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi

 

Saya terkesan ketika menyapa Ustadz Muhammed Edward. Ia orang Sumatera Barat, hijrah ke Melbourne Australia sejak 1996. Bekerja sebagai guru sekolah. Ustadz Edward hadir via daring (online) dalam sesi diskusi Baitul Arqam dengan tema Puasa sebagai Sarana Peningkatan Iman dan Momentum Peneguhan Ideologi Muhammadiyah bagi Dosen dan Karyawan IBM Bekasi, pada 24 Ramadhan 1441 H/ Ahad 17 Mei 2020. Saya, bertugas sebagai moderator acara yang berlangsung dua hari itu.

 

Internasionalisasi dakwah Muhammadiyah berkembang dengan baik di Australia. Tonggak dakwa ini dimulai tahun 2018, ditandai dengan berdirinya Muhammadiyah Australia College (MAC) di atas lahan seluas 10 hektar di kawasan 585 Belgrave-Hallam Road, Narre Warren East, Victoria, Australia.

 

Ustadz Edward salah satu inisiator MAC dan menjabat Ketua Pimpinan Cabang Istimewah (PCMI) Muhammadiyah di sana. Ia mengisahkan kelumit dakwah di Negara minoritas muslim. Saya menangkap pesan menyemangati. Pesan yang menyingkirkan sebab sebab munculnya skeptisme.

 

Tantangan dakwah Muhammadiyah di dalam dan di luar negeri tentu saja berbeda. Di dalam Negeri, Muhammadiyah kerap dijadikan tolak ukur organisasi yang tidak setuju terhadap Pancasila sebagai dasar bernegara. Di luar Negeri, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1912 silam itu, setidaknya dapat kita sebut organisasi asing.

 

Sebagaimana filosofi Muhammadiyah yang berarti pengikut Nabi Muhammad, seolah merefleksikan jalan dakwa Muhammadiyah di luar Negeri. Organisasi ini sebagaimana cerminan Islam ketika pertama kali hadir melalui risalah kenabian Muhammad SAW, terasing hingga Rasulullah bersabda “Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu”. Para Sahabat bertanya, siapa orang terasing itu wahai Rasul? “Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunnaku (Sunnah Rasulullah) sesudah dirusak oleh manusia” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

 

Muhammadiyah tidak pernah skeptis terhadap respons dakwah di dalam maupun di luar Negeri. Para pengemban amanah organisasi ini telah menyadari bahwa jalan dakwah penuh rintangan, namun hasilnya bisa melampaui pikiran manusia itu sendiri. Sosok Amr bin Ash, adalah contoh konkrit dakwah yang melampaui nalar manusia. Ia menerima Islam setelah sebelumnya menjadi musuh Allah dalam perang Badr.

 

Amr bin Ash juga dikenal sebagai utusan Quraisy yang menjemput kaum Muslimin yang hijrah ke Habasyah untuk dibawa pulang dan disiksa di Mekkah. Ia merayu Raja Najasyi untuk melepaskan perlindungannya terhadap Ja’far bin Abi Thalib bersama para sahabat Nabi lainnya, namun di sinilah titik balik keislaman Amr.

 

Tiga bulan setelah Amr bin Ash masuk Islam, Ia menerima tugas dari Rasulullah untuk memimpin pasukan menyerang satu suku besar Arab yang hendak menaklukkan Madinah. Suku tersebut memiliki kekuatan militer tangguh dengan jumlah tantara yang banyak.

 

Amr memimpin para sahabat di antaranya, Abu Bakar RA, Umar ibnu Khattab, Utsman bin Afwan, Ali RA dan lainnya. Dengan kemampuan strategi perang yang dimiliki, Amr bin Ash berhasil memenangkan peperangan meski jumlah pasukannya hanya kisaran 300 orang.

 

Jalan panjang dakwah Amr bin Ash berlangsung hingga masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dengan penaklukkan Mesir oleh pasukannya. Hasil dakwah yang melampaui nalar manusia ini dikisahkan M. Muchlas Rowi, Bendahara Badan Pembina Harian (BPH) Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi, pada sesi pembahasan Ideologi Muhammadiyah, hari kedua Baitul Arqam.

 

Kembali ke kiprah Muhammadiyah di Australia. Pendirian MAC telah menunjukkan keberhasilan dakwah. Melalui pusat pendidikan tersebut, aktivis Muhammadiyah telah memfasilitasi masuknya Islam sekitar 300 orang dari berbagai latar belakang agama. “Hebatnya, 90 persen di antara mereka konsisten dengan keislamannya dan menjadi aktivis inti Muhammadiyah di sini (Australia),” terang Ustads Edward.

 

Awalnya tidak mudah. Muhammadiyah mendapat penolakan dari masyarakat Australia, dengan menekan pemerintah setempat untuk membatalkan izin MAC. Penolakan datang dari berbagai penjuru hingga ribuan kilometer dari Victoria. Planning permit (izin pendirian bangunan) diperoleh, MAC resmi beroperasi mulai tahun 2019.

 

Ustadz Edward menyebut keberhasilan dakwah Muhammadiyah di Australia karena konsep dakwah yang baik, cara penyampaian yang tepat, dan aplikasi atau contoh yang ditunjukkan para aktivisnya. Tiga konsep dakwah Muhammadiyah ini bersandar pada Q.S. An Nahl ayat 125, yang berbunyi “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik”.

 

Ayat tersebut memiliki tiga nilai mendasar. Pertama, kalimat “seruhlah (manusia) ke jalan Tuhanmu” bermakna perintah. Oleh Muhammadiyah, kalimat ini dimaknai sebagai kewajiban untuk kembali (ruju’ ila) Qur’an dan Sunnah. Kedua, kata “dengan hikmah” yang berarti disampaikan dengan kalimat kalimat baik dan indah, kalimat yang menghadirkan kontak sosial yang kuat antara satu sama lain. “Makanya, communication is very important” kata Ustadz Edward.

 

Ketiga, kalimat “dengan pengajaran yang baik” adalah inti dari dakwa yang berupa contoh nyata dari juru dakwah itu sendiri. Jujur dalam ucapan, baik dalam tindakan adalah modal utama menarik simpatik masyarakat. Karena itulah ratusan warga di Australia dengan kesadaran sendiri memeluk Islam dan menjadi penggiat masjid di Negeri Kanguru itu.

 

Hampir setiap hari rumah ustdaz Edward dikunjungi warga Australia. Ia aktif memberikan konsultasi, sharing tentang Islam, serta memberikan bimbingan kepada mu’alaf. Ustadz Edwar memberikan layanan yang sama kepada mereka yang sungguh sungguh ingin mengenal Islam maupun kepada mereka yang sekadar bertanya. Bersama para pengurus PCMI Australia, ia aktif memberikan konsultasi keislaman via online.

 

Kiprah dakwah Muhammadiyah makin kuat dengan eksistensi MAC. Sekolah Muhammadiyah ini menarapkan kurikulum berbasis kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis, dan fokus pada satu bidang kajian. Model pembelajaran ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Australia.

 

Akselarasi dakwa Muhammadiyah di luar negeri ini merefleksikan latar belakang berdirinya Muhammadiyah lebih 100 tahun silam. Seperti digambarkan Dr. Fetrimen Zubir, Sekretaris BPH IBM Bekasi, berdirinya Muhammadiyah karena dua faktor, yaitu, faktor subyektif dan faktor obyektif. Faktor subyektif merupakan implementasi terhadap Q.S. Al Imran yang berbunyi “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyeru (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang muncar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

 

Adapun faktor objektif meliputi nilai internal dan nilai eksternal. Nilai internal karena pendidikan Islam pada saat itu menyimpang dengan maraknya prakter takhayyul, bid’ah dan khurafat (TBC). Adapaun nilai ekternal, sebagai reaksi terhadap invasi Belanda kepada rakyat Indonesia yang sekaligus melancarkan misi pemurtadan.

 

Dalam bernegara, Muhammadiyah memiliki sikap Darul Ahdi Wasyahadah. Suatu sikap organisasi yang disahkan pada Muktamar ke 47 Muhammadiyah pada 2015 di Makassar. Sikap yang meyakini Pancasila sebagai hasil konsensus nasional termasuk oleh umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas (darul ahdi), sekaligus sebagai wujud kesaksian (darul syahada). Sikap organisasi ini, oleh Rektor IBM Bekasi Dr Jaenudin menyebutkan bahwa sikap ini secara mutlak mematahkan pandangan yang meragukan keberpihakan Muhammadiyah terhadap ideologi Pancasila.

 

Gerakan as siyasah moderat telah mewarnai ideologi Muhammadiyah. Sebuah gerakan yang menempatkan prinsip ketaatan pada seorang imam hanya di dalam sholat berjamaan, namun untuk urusan-urusan sosial Muhammadiyah mengedepankan kebebasan ber’ijtihad (usaha sungguh-sungguh memutuskan suatu perkara). Karena ideologi inilah, Muhammadiyah dengan mudah diterima masyarakat dunia.

 

*tulisan ini merupakan catatan penulis dari mengikuti kegiatan Baitul Arqom sesi daring 2 yang diselenggarakan Institut Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi, Ahad 17 Mei 2020.

 

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Hamluddin
- Dilihat 1550 Kali
Berita Terkait

0 Comments