Harokah Islamiyah /
Follow daktacom Like Like
Senin, 04/05/2020 13:48 WIB

Puasa dan Suami-Istri (2)

Ilustrasi suami dan istri
Ilustrasi suami dan istri
DAKTA.COM - Oleh: Abdullah Mahmud
 
Pada Bulan Ramadhan yang penuh kemuliaan ini, segala amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Begitu juga dalam hubungan suami dan istri yang bisa mengantarkan ke surga.
 
Lalu, bagaimana caranya Ramadhan bisa menghantar suami dan istri ke surga?
 
Pasangan harus punya kesadaran dan niat menikah karena Allah dan berumahtangga secara islami. Rasulullah SAW bersabda: “Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
 
Bagus teori Al-Khawarizmi, penemu angka 0, Aljabar, dan Algoritma. Bahwa harta itu nilainya nol karena bakal habis. Kecantikan nilainya nol karena bakal pudar. Keturunan nilainya nol karena sampai di dunia saja. Tapi agama nilainya 1. Bila si lelaki dapat empatnya berati dia cuma dapat satu (0001). Tapi bila agama yang pertama, dia dapat seribu (1000). Subhanallah.
 
Menarik disimak kejadian di masa khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Seorang bapak membawa putranya menghadap amirul mukminin Umar. Dia mengadukan anaknya, "Wahai amirul mukminin, tolong nasihati anakku ini, dia bandel enggak nurut sama bapaknya." Umar radhiyallahu ‘anhu melihat anak itu, tiba-tiba anak itu bertanya: "Wahai amirul mukminin!! Apa hak seorang anak dari bapaknya?"
 
Pertanyaan yang sangat logis. Khalifah yang adil itu menjawab, "Ada 3 hak anak dari bapaknya: Pertama, memperoleh seorang ibu yang shalihah. Kedua, diberikan nama yang mulia. Ketiga, diajarkan Al Qur'an".
 
Mendengar hal itu, anak itu menimpali; "Demi Allah wahai khalifah, tiga-tiganya saya tidak dapatkan dari bapakku ini. Aku dipilihkan ibu seorang budak, ketika aku lahir diberi nama Ju'ul (artinya binatang kumbang yang makan kotoran), dan selama hidup saya enggak pernah diajari Al Qur'an oleh ayahku ini."
 
Mendengar penjelasan anak itu, Umar langsung melihat bapaknya sambil mengatakan secara tegas. "Jangan kamu salahkan anakmu karena kamu telah menanamkan kedurhakaan padanya."
 
Begitu menentukannya keshalihan ibu bagi putra-putrinya. Bagi suami yang shalih, jangan sampai tidak mendapat istri yang shalihah, begitu pula sebaliknya. Masalah lelaki dengan mudah diketahui keshalihannya; dia shalat berjamaah terutama Subuh dan Isya, bekerja di sektor yang halal, berbakti pada kedua orang tuanya, berada di lingkungan yang baik, apalagi kalau berilmu. 
 
Tetapi bagaimana cara melihat istri yang shalihah?
 
Nabi SAW memberikan resepnya: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Istri shalihah; yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud. Shahih di atas syarat Muslim).
 
Betapa beruntungnya seorang suami yang dikaruniai Allah istri yang shalihah. Karena seisi dunia ini yang paling berharga itu istri yang shalihah:
 
“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
 
Imam Asy-Sya'bi, ulama tabiin, berjumpa dengan kawannya Syuraih Al-Qadhi, hakim yang terkenal adil pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, "Wahai Syuraih!! Anda terkenal hakim yang adil, bagaimana dengan rumah tanggamu? Tanya Sya'bi. "Aku sudah menikah 20 tahun sampai sekarang tidak pernah ribut sekalipun dengan istriku," kata Syuraih. Luar biasa, kok bisa? Kejar Sya'bi. Begini, setelah akad nikah saya masuk kamar pengantinku itu, lalu aku shalat 2 rakaat sebagai rasa syukur kepada Allah dikaruniai seorang istri. Saat salam, aku lihat istriku juga shalat di belakangku. Kemudian aku dekati dia mau pegang ubun-ubunnya guna aku doakan sesuai dengan sunnah. Tapi tiba-tiba dia mengatakan: sebentar. Lalu dia seperti orang yang mau ceramah; 
 
innal hamda lillah dst. amma ba'du: 
 
"Aku bersyukur telah dikaruniai Allah seorang suami sepertimu, tapi aku tidak tau latar belakangmu, tabiatmu, kebiasaanmu dan lingkunganmu, tolong beritahukan kepadaku apa saja yang kamu sukai, akan aku kerjakan, dan apa saja yang kamu benci agar aku tinggalkan, wassalam.”
 
Maka aku jawab setelah memuji Allah dan berselawat kepada Rasulullah SAW, “bahwa aku suka ini dan itu dan aku benci ini dan itu, wassalam.”
 
“Sejak itu dia mempraktikkan semua ucapannya, yang dilakukannya semua aku sukai dan tidak pernah sampai hari ini dia melakukan yang aku benci, jadi tidak ada alasan untuk bergaduh." MasyaAllah indah sekali, rasanya kepingin dapat yang seperti itu. Sabar. Itu idealnya.
 
Ayo kita benahi pasangan kita agar rumah tangga kita indah seperti Rasulullah SAW bersama dengan Khadijah selama 24 tahun beberapa bulan rumah tangganya aman sentosa. Prinsipnya kata Nabi SAW: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku.” (HR. At Tirmidzi. Shahih).
 
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, diceritakan oleh sahabat Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi SAW untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi SAW pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab, “Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:
 
“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad. Shahih) 
 
Rumah tangga kita itu dimotivasi oleh Allah agar sampai kakek-nenek banyak anak dan cucu,
 
"Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah? (QS. An-Nahl, 16: 72)
 
Apalagi sampai didoakan oleh para malaikat agar masuk surga sekeluarga, Subhanallah.
 
"Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana." (QS. Ghafir, 40: 8)
 
Aamiin.
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Abdullah Mahmud
- Dilihat 1111 Kali
Berita Terkait

0 Comments