Mutiara Hikmah /
Follow daktacom Like Like
Selasa, 21/04/2020 13:49 WIB

Menjauhkan Diri dari Sifat Sombong dan Melawan Takdir

KH Bachtiar Nasir
KH Bachtiar Nasir
DAKTA.COM - Oleh: KH. Bachtiar Nasir
 
Suatu hari, 'Amru bin Asy-Syarid pernah mendengar cerita dari bapaknya tentang masalah baiat: “Dalam delegasi Tsaqif (yang akan dibai'at Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) terdapat seorang laki-laki berpenyakit kusta. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim seorang utusan supaya mengatakan kepadanya: "Kami telah menerima bai'at Anda. Karena itu Anda boleh pulang." (HR. Muslim).
 
Dalam hadits ini, Rasulullah menolak seseorang yang hendak berbaiat dalam bentuk jabat tangan karena menderita penyakit kusta. Rasul Shallallaahu Alaihi Wasallam mengatakan kepada orang ini kita sudah berbaiat  dan kamu sudah saya terima tapi kita tidak perlu berjabat tangan maka pulanglah. Ini tentu bukan bentuk kesombongan atau takut karena takdir begitu juga berkumpul bersama-sama.
 
Bagi yang sedang ada acara kumpul-kumpul baik itu keagamaan atau kegiatan sosial, maka jangan kecewa kalau tidak bisa melakukan aktivitasnya untuk sementara waktu selama pandemi karena didisiplinkan pemerintah. Saya yakin, insya Allah kalau pertemuan itu diniatkan karena Allah, maka akan mendapatkan pahala dan perlindungan dari Allah.
 
Meski misalnya kita punya pandangan yang berbeda, kita harus menerima persepsi lain dari saudara-saudara kita apalagi dari ketetapan negara atau pemerintahan setempat, pemerintah daerah setempat  yang menginginkan kita bubar dan Insya Allah ini bagian upaya kita dan Insya Allah akan diberi pahala oleh Allah.
 
Insya Allah, pahala yang diharapkan dari pertemuan sudah sampai pahalanya dari Allah sesuai dengan niatnya. Silaturahim juga mudah-mudahan bisa berlangsung setelah ini karena kita bisa menggunakan media sosial. Demikian juga kepada yang punya hajat kemudia merasa dirugikan karena dibubarkan, barangkali semoga ini bisa menjadi pemberat amal timbangan akhirat kita.  Jika kita kemudian dengan sabar dan ikhlas menerima ini semua. 
 
Dalam kondisi pandemi seperti ini, jangan sampai kita kemudian melawan takdir dengan kesombongan. Harusnya dalam kondisi seperti ini di dalam ayat jangan sampai kita masuk dalam kategori: “maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al-Mu`minun [23]: 76)
 
Supaya tidak menjadi seperti orang yang disebut dalam ayat, maka kita harus tunduk, termasuk dengan kesepakatan-kesepakatan bersama dari pihak-pihak yang berbeda kita harus menerima. Seperti: fatwa Majelis Ulama Indonesia yang menganjurkan untuk salat zuhur di rumah saat hari Jum’at.
 
Adapun bagi yang hendak datang ke masjid dengan ikhtiarnya, jaga diri dan khususnya kepada yang sedang terserang infeksi. Anda tidak diperkenankan datang walaupun Anda punya keinginan kuat untuk mendekatkan diri pada Allah. 
 
 
Sedangkan bagi yang sedang ada gejala demam misalnya batuk-batuk dan juga sesak nafas walaupun itu belum tentu virus corona, akan lebih baik tinggal di rumah agar orang-orang di sekitar Anda tidak mencurigai Anda dan tidak menimbulkan dosa kiri dan kanan. Jadi untuk Salat Jumat ketika kita kemudian harus juga menghindarinya tidak apa-apa. 
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menganjurkan kepada para sahabat dalam kondisi dikepung hujan deras, tidak bisa menjalankan Jum'at. Jadi bukanlah sebuah hal baru jika kita tidak melaksanakan salat Jum`at. Bayangkan kalau gara-gara hujan kita boleh tidak shalat Jumat, kalau gara-gara banjir boleh salat zuhur di rumah bagaimana dengan pandemi yang lebih dahsyat dan berbahaya ini?
 
Jadi, jangan kecewa dan jangan menunggu sesuatu yang berakibat pada hal yang dikatakan dalam ayat ini:  tidak tunduk pada aturan-aturan Allah bukan sekedar syariat secara lahirnya dari Allah dan Rasul-Nya tetapi juga itu dalam bentuk yang disebut ijma’ para ulama misalnya dari para ulama kita memutuskan demikian maka itu bisa menjadi hukum syariat.  Sedangkan iikhtiar kita lemah di hadapan ijma’.  
 
Karena itu, jika memang kita harus tunduk pada aturan-aturan ijma’ (ulama), ya kita tunduk saja. Supaya kita tidak tergolong orang-orang yang tidak tunduk kepada Tuhannya apalagi bermaksiat dalam kondisi pandemi. Ini tentu menantang Allah dan siksanya akan lebih besar terutama ditingkat individu. **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : KH. Bachtiar Nasir
- Dilihat 2188 Kali
Berita Terkait

0 Comments