Nasional / Sosial /
Follow daktacom Like Like
Senin, 24/08/2015 08:29 WIB
Konsisten Dong Dengan Aturan

Ahok Antara Kampung Pulo dan Pluit

Bentrok di kampung Pulo Jakarta Timur
Bentrok di kampung Pulo Jakarta Timur

JAKARTA_DAKTACOM: Sejarawan Betawi, penulis, dan pendiri penerbitan Komunitas Bambu yang banyak menerbitkan buku-buku dengan tema budaya dan humaniora, JJ. Rizal, menilai Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tajaya Purnama, alis Ahok, menggunakan standart ganda dalam menertibkan jalur hijau di Jakarta.


Dikakatan,  kalo Ahok konsisten gusur kampung pulo karena dianggap tinggal di lahan hijau/resapan gusur juga dong lingkungan rumahnya di pantai mutiara.

 “Kawasan pantai mutiara itu kawasan yang  luasnya 860 ha diperuntukan bagi hutan bakau dan resapan, tapi  koq Ahok belaga ga tahu en berdosa tinggal disana” sindirnya.


 Ahok  menurutnya, ga bakal gusur rumahnya di pantai mutiara meski melanggar peruntukan karena dia anggap itu rumah hoki en dia ga tau sejarah ruang Jakarta.


Mengapa kepada orang kecil Ahok galak sekali, sementara pada developer seperti reklamasi pluit yang jelas-jelas merusak lingkungan hatinya baik sekali, katanya dengan nada bertanya.?
 

Yang tinggal di kawasan yang seharusnya bukan untuk  perumahan tapi  dibuatan jadi  perumahan oleh developer dan diberi sertifikat itu terus dianggap legal?


“Sutiyoso ketika banjir 2002 aja gusur rubuhin vilanya di puncak, masa Ahok kaga mau gusur rubuhin rumahnya di lahan resapan dan  hutan bakau” katanya membandingkan.

 

Ruusunawa  menutu JJ Rizal, selalu jadi  alasan bahwa Ahok manusiawi, tapi  apa manusiawi dari punya tanah dan  rumah sendiri jadi  ngontrak 5 thn doangan dan  perpanjang,  dari 2,8 ha kapung pulo 1,7 punya sertifikat tapi  dicap penghuni liar dan harus pindah ke rusun jadi orang kontrakan, kehilangan tanahdan  kampung  halaman.


Mengapa Ahok tutup mata perusakan lingkungan juga  larangan KLH soal reklamasi pluit yang akn jadi bencana ekologi Jakarta, tapi melotot soal kampung pulo.


Ahok bilang memihak kebenaran demi Jakarta baru, tapi rupanya Jakarta Baru=Orde Baru bilang atas nama hukum tapi untuk  si kaya, si super kaya, kritiknya.


Ahok tau dan  orang kampung  pulo sudah ketemu dia bawa surat legal dan  konsep matang kampung berwawasan manusia dengan air, Ahok sepakat tapi  kemudian berkhianat. Orang kampung  pulo sudah ketemu Ahok didampingi kawan Ciliwung Merdeka bawa konsep hasil kerja bareng arsitek-arssitek  terbaik yang disaluti Ahok, tapi  kemudian.


Kalo  Aok benar bela yang benar kenapa urusan reklamasi pluit keputusan KLH yang dimenangkan MA diabaikan, proyek rusak lingkungan dibiarin jalan.


“Ahok gusur dong rumahnya karena di lahan utan mangrove yang dijadikan hunian mewah dan akibatkan penurunan tanah, banjir rob baru bela yang benar.” Tegasnya.


Apa Ahok sadar dan punya pengetahuan bahwa ia pun sejenis orang kampung  pulo yang dituduh penghuni liar penyebak bencana banjir karena tinggal di pluit.

 

Kalo Ahok betul ngerti Jakarta ya kudunya dia lihat dirinya pun bagian dari  penjahat lingkungan karena tinggal di kawasan 806 ha hutan bakau
 

Ahok dukung reklamasi developer2 gede yang jual kawasan mewah persetan rusak lingkungan, kalo Jakarta rusak banjir parah yang disalain si miskin.


Soal Ahok,  soal lama elite Jakarta yaitu arogansi dan  prasangka kepada si miskin sebagai  biang masalah, dimusuhi bukan digandeng untuk  cari solusi.


Bahkan saat si miskin sudah didampingi intelektual dari  aneka ilmu, Ahok tetap berprasangka ke si miskin, artinya ia anti si miskin anti intelektual.


Apakah Ahok akan buat Jakarta seperti Singapore. Ngga masalah soal reklamasi dan rusak lingkungan yang penting orang miskin menyingkir. Siapakah orang miskin dan siapakah orang kaya? Kalo di Singapore berakhir dengan melayu  tersingkir, bagaimana degan Indonesia, pungkasnya dengan sejuta pertanyaan.

Reporter : Boy Aditya
Editor :
- Dilihat 1325 Kali
Berita Terkait

0 Comments