Nasional / Kesehatan /
Follow daktacom Like Like
Sabtu, 11/04/2020 13:22 WIB

Bahaya Sering Konsumsi Makanan Cepat Saji Saat Karantina

Ilustrasi Photo by Alla Hetman on Unsplash
Ilustrasi Photo by Alla Hetman on Unsplash
JAKARTA, DAKTA.COM – Pandemi COVID-19 membuat kamu dan keluarga harus melakukan karantina di rumah dan membatasi aktivitas di luar. Salah satu yang harus dipersiapkan selama karantina adalah menyediakan berbagai macam makanan di rumah. Mie instan, kornet, sarden, frozen food dan makanan instan lainnya menjadi pilihan yang dapat disimpan dalam waktu lama.
 
Selain tahan lama, makanan-makanan ini terbilang praktis dan tidak mudah busuk. Tapi, bukan rahasia lagi kalau makanan cepat saji ini rendah kandungan nutrisinya dan kerap dicampur dengan pengawet agar lebih tahan lama. Namun, sulitnya mendapatkan bahan makanan yang masih segar selama pandemi, apakah masih aman bila mengonsumsi makanan cepat saji terlalu sering? 
 
Bahaya Sering Mengonsumsi Makanan Cepat Saji
Terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji dapat memberikan dampak berbahaya bagi kesehatan kamu, di antaranya:
 
Kekurangan Nutrisi
Makanan olahan sangat rendah nutrisi dibandingkan dengan makanan yang segar. Pada beberapa kasus, vitamin dan mineral sintetis ditambahkan ke makanan cepat saji untuk mengimbangi nutrisi yang hilang selama pemrosesan. Meskipun begitu, nutrisi sintetis ini tentunya tidak sehat seperti nutrisi alami yang kita peroleh dari makanan yang segar. 
 
Semakin sering kamu mengonsumsi makanan olahan, maka semakin sedikit pula vitamin yang yang kamu dapatkan. Jika dibiarkan terus-menerus, tentunya kamu bisa kekurangan nutrisi dan gampang jatuh sakit. 
 
Bikin Sembelit
Selain rendah nutrisi, makanan cepat saji juga tidak mengandung serat dan rata-rata hanya mengandung lemak. Lagi-lagi, serat yang terkandung dalam makanan cepat saji biasanya hilang selama pemrosesan. Padahal, serat penting agar pencernaan tetap lancar. Tanpa jumlah serat yang memadai, tentunya kamu sangat rentan mengalami sembelit. 
 
Bikin Obesitas
Apakah kamu mengalami kenaikan berat badan yang sangat signifikan selama karantina? Hmm... bisa jadi akibat keseringan mengonsumsi makanan cepat saji. Makanan olahan seringkali tinggi lemak tidak sehat, seperti minyak biji dan minyak nabati yang mudah terhidrogenasi menjadi lemak trans.
 
Minyak nabati sangat tidak sehat, apalagi jika ini ditambahkan ke dalam daging-dagingan yang sudah cukup tinggi kadar lemaknya. Minyak nabati mengandung asam lemak omega-6 yang jika dikonsumsi berlebih dapat mendorong oksidasi dan peradangan dalam tubuh. Bukan cuma kelebihan berat badan, konsumsi makanan cepat saji yang tinggi lemak ini juga menempatkan kamu pada risiko penyakit serius. 
 
Berisiko Terkena Penyakit Serius
Makanan olahan biasanya sarat dengan gula tambahan. Padahal mengonsumsi gula berlebihan bisa berbahaya karena bisa mengganggu proses metabolisme. Konsumsi gula berlebih dapat menyebabkan resistensi insulin, trigliserida tinggi, peningkatan kadar kolesterol berbahaya dan peningkatan akumulasi lemak di hati dan rongga perut. Akibatnya, seseorang yang mengonsumsi gula dalam jumlah berlebih berisiko tinggi terkena penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan kanker.
 
Kecanduan
Sadar atau tidak, sering mengonsumsi junk food atau makanan cepat saji lainnya bisa bikin kecanduan. Melansir dari Medical News Today, pengawet yang terkandung dalam makanan cepat saji memicu pelepasan dopamin pada otak seseorang yang mengonsumsinya. Itu sebabnya, seseorang yang sering mengonsumsi makanan cepat saji bisa mengalami kecanduan untuk terus memakannya. 
 
Mendapatkan makanan yang segar memang cukup sulit akhir-akhir ini, tapi bukan berarti kamu harus mengonsumsi makanan instan terus-menerus ya. Sebisa mungkin imbangi dengan sayuran dan buah-buahan setiap hari. Terlebih di saat pandemi seperti ini, kamu harus menjaga daya tahan tubuh agar lebih kuat. 
 
Nah, untuk meningkatkan daya tahan tubuh, kamu juga bisa mengonsumsi suplemen dan vitamin yang bisa dibeli di Halodoc. Tidak perlu repot keluar rumah, tinggal order lalu pesanan akan diantar dalam waktu satu jam. 
Editor : Dakta Administrator
Sumber : Halodoc
- Dilihat 687 Kali
Berita Terkait

0 Comments