Mutiara Hikmah /
Follow daktacom Like Like
Jum'at, 13/03/2020 16:27 WIB

Beda Peruntukan Untuk Pengucapan Subhanallah dan Masya Allah

Kaligrafi yang bertuliskan Masya Allah (pinterest.com)
Kaligrafi yang bertuliskan Masya Allah (pinterest.com)
DAKTA.COM - Seringkali kita salah penempatan pada  pengucapan Subhanallah dan Masya Allah. Walaupun, sebenarnya Masya Allah dan Subhanallah memiliki makna untuk memuji atau mengagumi sesuatu yang baik.
 
Lalu bagaimana penempatan yang tepat pada Subhanallah dan Masya Allah?
 
Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, "Disyariatkan bagi orang mukmin ketika melihat sesuatu yang membuatnya takjub maka hendaknya ia mengucapkan 'Masya Allah' atau 'Baarakallahu Fiik' atau juga 'Allahumma Baarik Fiihi' sebagaimana firman Allah Ta'ala:
 
“Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu "Masya Allah, Laa Quwwata Illaa Billah" (QS. Al Kahfi: 39)" (Fatawa Nurun 'alad Darbi, no.39905).
 
Makna dari ucapan Masya Allah dalam bahasa Indonesia adalah "Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi".
 
Secara ringkasnya, Masya Allah bisa diterjemahkan dengan dua terjemahan, yakni "Inilah yang diinginkan oleh Allah" atau "Apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi". 
 
Oleh karenanya, ketika melihat sesuatu hal yang menakjubkan, maka dianjurkan untuk mengucapkan "Masya Allah", yang artinya kita menyadari dan menetapkan bahwa hal yang menakjubkan tersebut semata-mata terjadi karena kuasa Allah SWT.
 
Kapan Dianjurkan Mengucapkan Subhanallah?
 
Sedangkan, untuk ungkapan “Subhanallah” Nabi dan para sahabatnya menggunakannya untuk hal-hal yang mengherankan dan mengagumkan. Misalnya dalam riwayat al-Bukhari Rasulullah saw, heran dengan kesalahpahaman sahabatnya, kemudian beliau berujar, subhanallah.
 
Terdapat beberapa keadaan, dimana kita dianjurkan mengucapkan subhanallah. Diantaranya, pertama, ketika kita keheranan terdapat sikap. 
 
Misalnya, terlalu bodoh, terlalu kaku, terlalu aneh, dan lainnya. Dalam beberapa kasus berikut ;
 
Abu Hurairah pernah bertemu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi junub. Lalu Abu Hurairah pergi mandi tanpa pamit. Setelah balik, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, mengapa tadi dia pergi. Kata Abu Hurairah, “Aku junub, dan aku tidak suka duduk bersama anda dalam keadaan tidak suci.” Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Subhanallah, sesungguhnya muslim itu tidak najis. (HR. Bukhari 279).
 
kisah lainnya, ada seorang wanita yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan bagaimana cara membersihkan bekas haid setelah suci. Beliau menyarankan, “Ambillah kapas yang diberi minyak wangi dan bersihkan.” Wanita ini tetap bertanya, “Lalu bagaimana cara membersihkannya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa malu untuk menjawab dengan detail, sehingga beliau hanya mengatakan, “Subhanallah.., ya kamu bersihkan pakai kapas itu.” Aisyah paham maksud Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaupun langsung menarik wanita ini dan mengajarinya cara membersihkan darah ketika haid.” (HR. Bukhari 314 & Muslim 774). 
 
Kasus selanjutnya, Aisyah pernah ditanya seseorang, “Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Allah?” Aisyah langsung mengatakan, Subhanallah, merinding bulu romaku mendengar yang kamu ucapkan. (HR. Muslim 459). 
 
An-Nawawi mengatakan, “Bahwa ucapan subhanallah dalam kondisi semacam ini maksudnya adalah keheranan. Demikian pula kalimat laa ilaaha illallah.
 
“Makna keheranan di sini, bagaimana mungkin sesuatu yang sangat jelas semacam ini tidak diketahui. Padahal seseorang bisa memahaminya tanpa harus serius memikirkannya. Dan dalam hadis ini terdapat dalil bolehnya membaca tasbih ketika keheranan terhadap sesuatu atau menganggap penting kasus tertentu.” (Syarh Shahih Muslim, 4/14).
 
Selain itu, pengucapan Subhanallah digunakan saat merasa keheranan ketika ada sesuatu peristiwa yang besar terjadi. Misalnya melihat kejadian yang luar biasa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang tersentak bangun di malam hari, karena keheranan melihat sesuatu yang turun dari langit. 
 
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha, bahwa pernah suatu malam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun dari tidurnya.
 
“Subhanallah, betapa banyak fitnah yang turun di malam ini.” (HR. Bukhari 115). 
 
Dalam kasus lain, Rasulullah SAW juga pernah merasa terheran ketika melihat ancaman besar dari langit. Terutama bagi orang yang memiliki utang.
 
Dari Muhammad bin Jahsy radhiallahu ‘anhu, “Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ke arah langit, kemudian beliau bersabda, “Subhanallah, betapa berat ancaman yang diturunkan ….”. Kemudian, keesokan harinya, hal itu saya tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, ancaman berat apakah yang diturunkan?’
Beliau menjawab, “Demi Allah, yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya ada seseorang yang terbunuh di jalan Allah, lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), lalu dia dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi (di jalan Allah), sementara dia masih memiliki utang, dia tidak masuk surga sampai utangnya dilunasi.” (HR. Nasa’i 4701 dan Ahmad 22493; dihasankan al-Albani).
 
Kata Ali Qori, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan Subhanallah karena takjub (keheranan) melihat peristiwa besar yang turun dari langit.  (Mirqah al-Mafatih, 5/1964). Wallahu a'lam bissowab.
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 6756 Kali
Berita Terkait

0 Comments