Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 26/12/2019 18:13 WIB

Menyapu Tangis Penderitaan Muslim Uighur

Ilustrasi Uyghur
Ilustrasi Uyghur
Oleh: Alin FM, Praktisi Multimedia dan Penulis
 
Begitu menyayat hati ketika pemerintah China dalam berbagai kesempatan selalu membantah telah terjadi pelanggaran HAM terhadap warga Muslim Uighur. Fakta penerapan Otoritas China telah mengimplementasikan kebijakan represif terhadap muslim Uighur dan melanggar hak-hak mereka tak terbantahkan lagi.
 
Dengan adanya unggahan Pesepak bola Mesut Ozil menuding umat Muslim tak berbuat apa-apa mengenai penganiayaan China terhadap komunitas Uighur di Xinjiang. Ozil menyatakan "Al-Quran sedang dibakar. Masjid ditutup. Madrasah dilarang. Ulama tewas satu per satu. Meskipun demikian, umat Islam tetap diam," tulis pemain klub Arsenal itu di akun Instagram-nya. "Tidakkah mereka tahu bahwa menutup mata terhadap penganiayaan adalah salah satu bentuk penganiayaan itu sendiri?", ungkapnya.
 
Di tambah lagi, PBB dan kelompok-kelompok hak asasi manusia dunia memperkirakan ada sekitar 1 juta sampai 2 juta orang yang ditahan dalam kamp yang diduga sebagai tempat penganiayaan tersebut. Sebagian besar dari mereka yang ditahan adalah etnik Uighur Muslim.
 
Tetapi yang lebih memilukan adalah Pemerintah China membungkam pemeritahan Indonesia yang merupakan negara muslim terbesar dunia dengan menjadi mitra dagang China dan ormas Islamnya dimanjakan dengan berbagai bantuan donasi. Maka tak heran sikap ormas-ormas Islam dan pemerintah Indonesia yang cenderung "bungkam" atas kondisi muslim uighur.
 
Di Laporankan the Wall Street Journal (WSJ) berjudul "How China Persuaded One Muslim Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps" yang dipublis Rabu (11/12/2019) telah menggemparkan publik tanah air. Pasalnya, WSJ dengan sengaja memaparkan China menggelontorkan sejumlah bantuan dan donasi terhadap ormas-ormas Islam untuk membungkam isu Uighur. China juga membiayai perwakilan-perwakilan ormas-ormas itu.
 
Tidak ketinggalan, hasil penelitian lembaga kajian Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Explaining Indonesia's Silence on The Uighur Issue yang dirilis Juni silam bahwa dua ormas Islam terbesar Indonesia dibungkam dengan gelontoran dana dari pemerintah China agar tidak menyuarakan penderitaan Muslim Uighur di Xinjiang, China. Kedua ormas telah menandatangani kerjasama dengan pemerintah China dalam hal bantuan pendidikan, kesehatan dan pemberantasan kemiskinan.
 
IPAC menemukan bahwa pada bulan Ramadhan 2015, Kedutaan Besar China di Jakarta mendonasikan Rp 100 juta untuk anak-anak yatim piatu di Nahdlatul Ulama. Pada 2018, Kedutaan Besar China mendonasikan fasilitas instalasi sanitasi di beberapa desa yang dihuni anggota NU di Cirebon, Indramayu dan Karawang. Pada saat yang sama, Duta Besar China pula mengumumkan beasiswa bagi mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama. Pada Juni silam, NU mendirikan kantor cabang di China dan hingga Juni 2019, telah ada sekitar 246 mahasiswa Indonesia yang menjalankan studi di sana. Sementara itu, pada pertengahan tahun ini, universitas dan rumah sakit yang dikelola Muhammadiyah menjalin kerjasama dengan sejawatnya di China (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-50835364)
 
Begitupun dengan sikap pemerintahan Presiden Joko Widodo yang hingga kini masih 'bungkam' atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis minoritas Uighur di Xinjiang adalah berkaitan dengan urusan ekonomi menurut pernyataan Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC). Menurut analisis mereka, salah satu faktor utama adalah dugaan ketergantungan Indonesia terhadap modal dari China yang cukup besar. "China adalah mitra dagang terbesar dan juga investor kedua terbesar Indonesia" (https://m.cnnindonesia.com/internasional/20190621163906-106-405340/riset-indonesia-
 
Kekuatan Negara Komunis China sangat luar biasa pengaruhnya sebab mampu membungkam Ormas Islam yang ada dan penguasa di negeri muslim melalui investasi atau peminjaman dana dengan dalil membangunan sebuah Negara, penguasa muslim rela membiarkan saudaranya menderita bahkan media dilarang untuk memberitakan kondisi yang dialami muslim Uighur. Sungguh sangat miris melihat ironi penguasa muslim terbesar di dunia yang lebih setia kepada pemerintah Komunis China dibandingkan membela saudara seakidahnya, mereka memilih berkompromi untuk mengendalikan kekuasannya demi harta dan jabatan semata. Akidah Islam sebagai benteng pribadi manusia telah hilang dan diganti dengan akidah sekuler yang tak memerlukan agama untuk mengatur kehidupan dunia dengan penerapan Sistem Demokrasi. Di tengah genosida dan upaya penghapusan identitas muslim dihadapi muslim Uighur agar mengingkari keberadaan Pencipta, Allah SWT. Pemerintah Komunis China sedang memainkan manufer politiknya atas negara muslim terbesar di dunia agar negara muslim wilayah lain tidak mengecam tindakan penganiayaan Pemerintah China atas muslim Uighur. Lantas pertanyaannya, Mengapa pemerintahan Komunis China terus menganiaya muslim Uighur?
 
Muslim Uighur bagian kekuasan Islam di masa lalu
 
Tahukah kita, kebanyakan orang Uighur adalah Muslim dan Islam adalah bagian penting dari kehidupan dan identitas mereka.
 
Sejarah Masuknya Islam ke Uighur tak lepas dari pengaruh dakwah Kekuasaan Islam di masa lalu. Kedatangan Islam ke Turkistan Timur -yang sekarang disebut Xinjiang. “Uighur” secara harfiah berarti “bersatu” atau “sekutu”.
 
Dakwah Islam sudah sampai di China sejak zaman sahabat Nabi. Khalifah Utsman bin Affan pernah mengirim utusan Sa’ad bin Abi Waqash ke negeri Tirai Bambu itu. Waktu itu, yang menerima rombongan tersebut adalah Yung Wei, Maharaja Tang (M. Iksan, 2010:89). Islam begitu gencar dan massif ketika dipeluk oleh penduduk Uighur.
 
Dalam buku “al-Islām wa al-Muslimūn fī Āsiya al-Wusṭa” (2017: 282) karya Muhammad Yusuf Adas, disebutkan bahwa tahun 94 Hijriah, pasca pembebasan negeri Persia dan Khurasan para umat Islam meneruskan pembebasan Tranxosiana, Asia Tengah. Di bawah komandan Abu Umamah al-Bahili, umat Islam melaju ke arah timur hingga sampai ke wilayah Kashgar yang saat itu merupakan Ibu Kota Turkistan Timur. Daerah ini baru bisa ditaklukkan pada tahun berikutnya.
 
Pada masa Dinasti Abbasiyah, tepatnya pada pertengahan abad ke-10 Masehi, Islam dikenalkan di Xinjiang (Turkistan Timur) oleh Satuk Boghra (910-956 M), yang merupakan Khan dari Dinasti Karakitai. Kisah ringkas ini bisa dibaca dalam buku “Islam in China Mengenal Islam di Negeri Leluhur” (2017: 35) karya Mi Shoujiang dan You Jia.
 
Setelah Satuk Boghra masuk Islam, maka keislamannya diikuti oleh anak-anak dan pembesar negerinya. Sejak saat itu, Islam menjadi agama resmi di Turki. Bersamaan dengan itu pula, dimulailah penerjemahan Al Quran, pembangunan 3 masjid di Kota Kashgar. Dalam memperjuangkan dakwah Islam, para penduduknya telah mengalami getir-manis perjuangan. Di antara mereka ada yang jadi dai dan mujahid (pejuang) dalam ekspedisi pembebasan-pembebasan wilayah baru Islam. Tak hanya itu, di sana juga muncul ulama-ulama menonjol yang studi dan karya-karya tulis mereka turut memperkaya khazanah dan budaya umat Islam di berbagai disiplin ilmu.
 
Tak kalah menarik dari semua itu, ada banyak pelajar dari berbagai penjuru dunia Islam menjalankan studi Islam ke Kashgar untuk mempelajari ilmu Islam, humaniora dan ilmu alam. Tak berlebihan jika kemudian Kashgar sampai dikenal dengan “Bukhāra al-Shughrā”. Bukhara sendiri –sekarang Uzbekistan—adalah merupakan wilayah Turkistan Barat yang merupakan kelahiran ilmuan hadits ternama: Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Bardizbah; yang dikenal dengan sebutan Imam Bukhari. 
 
Peninggalan kebudayaan Islam banyak sekali di Uighur, diantaranya bangunan masjid megah, madrasah dan lain sebagainya. Diantara masjid yang megah adalah masjid Azna (dibangun abad ke-12), Idgah (abad ke-15) dan Appak Khoja (abad ke-18). Tetapi Penjajah China atas wilayah yang ditempati oleh penduduk Uighur– sudah berlangsung cukup lama. Pada tahun 1949, sempat ada deklarasi berdirinya sebuah negara Turkistan Timur, tetapi kemerdekaan itu berumur pendek - lalu tak lama kemudian, di tahun itu juga, Xinjiang secara resmi menjadi bagian dari negara Cina.
 
Kondisi yang stabil dan damai itu kemudian menjadi suram ketika Turkistan timur berada dalam kekuasaan  komunis China hingga sekarang. Namanya diubah menjadi Xinjiang. Rakyat Uighur diperlakukan secara diskriminatif. Kebebasan beragama ditekan, ekspresi berbau Islam dilarang dan berbagai tindakan tiran lainnya.
 
Para aktivis HAM mengatakan kegiatan komersial dan budaya Uighur lambat laun dibatasi oleh pemerintah Cina. Muncul keluhan tentang pembatasan keras terhadap yang berbau Islam, bahwa jumlah masjid sedikit sementara sekolah-sekolah agama diawasi ketat.
 
Pada Juli 2014, beberapa departemen pemerintah Xinjiang memberlakukan larangan berpuasa kepada para pegawai negeri Muslim selama bulan suci Ramadan. Ini bukan pertama kalinya Cina membatasi puasa di Xinjiang, tetapi kali ini terkait sejumlah serangan yang dituduhkan pada para ekstremis Uighur.
 
Cina telah mengintensifkan kebijakan dan tindakan kerasnya terhadap warga Uighur setelah protes jalanan pada 1990-an dan mengulanginya lagi menjelang Olimpiade Beijing pada 2008. Tapi kekerasan benar-benar meningkat pada tahun 2009, ditandai kerusuhan etnis skala besar di ibukota daerah itu, Urumqi. Sekitar 200 orang tewas dalam kerusuhan, sebagian besar dari mereka warga Cina suku Han, menurut para pejabat. (https://www.bbc.com/indonesia/dunia-46601641)
 
Melihat jerit tangis saudara Muslim terhempas badai ketertindasan dan berbagai tindak penganiayan  di berbagai media tv maupun sosial media, hati ini tersentuh, tak mau tidak tinggal diam, dan bertanya apa harus dilakukan untuk menolong saudara-saudara di uighur? Andai bisa menyapu air mata mereka agar tak ada lagi penderitaan muslim uighur dan derita-derita muslim yang lain seperti Rohignya, Khasmir, Afghanistan, Irak, Iran, Suriah, Palestina bahkan Moro dan Patani.
 
Ditengah  tak ada seorang penguasa muslim yang berani mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan mereka. Padahal Allah SWT sudah memerintahkan untuk memberikan pertolongan kepada saudara kita saat mereka tertindas dan meminta pertolongan, sebagaimana tertulis di dalam AlQur'an: "(Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yayang kamu kerjakan". (Q.S Al Anfal ayat 72)
 
Rasulullah SAW pun pernah bersabda :
"Perumpamaan mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim). Sehingga menjadikan kita  sebagai seorang muslim tidak boleh abai atas apa yang dialami saudara muslim yang lainnya.
 
Kasus muslim Uighur sungguh sangat menyayat hati, sebab mereka dipaksa masuk ke dalam camp-camp yang telah disiapkan untuk melakukan pendidikan ulang bahkan melarang aktivitas keagamaan seperti sholat dan menamai anak seperti nama muslim yang ada pun dilarang, Al Qur’an tidak boleh dibaca.
 
Jelaslah bahwa semua penderitaan ini terjadi karena tidak adanya pemimpin kaum muslimin yang menerapkan aturan Allah SWT secara kaffah. Keselamatan kaum muslimin hanya dengan kekuasaan Islam yaitu Khilafah Islam. Sudah terbukti pada masa Khilafah Abbasiyah, Khalifah Muthasim Billah pada saat itu memenuhi permintaan seorang wanita muslimah yang kehormatannya dinodai oleh tentara Romawi. Ia segera mengirimkan pasukan kaum muslimin untuk memerangi pasukan Romawi. Karena Khilafah adalah perisai dan pelindung, penjaga keamanan, kehormatan, darah dan harta kaum muslimin di seluruh dunia. Begitupun Muslim Uighur tenang menjalankan kehidupannya di bawah kekuasaan Islam bahkan banyak karya ditorehkan di sana akibat penerapan Islam.
 
Sejatinya, umat Islam harus segera menyadari bahwa urgensi penerapan Syariat Islam harus segera dilakukan. Sebab, banyaknya negeri muslim tak mampu menjamin keamanan kaum muslim termasuk muslim Uighur, justru menjadi bulan-bulan oleh penjajah kafir. Kondisi yang dialami umat Islam hari ini tidak akan bisa diselesaikan tanpa tegaknya Islam secara Sempurna, yang mampu membebaskan saudara muslim yang mengalami genosida dan ketertindasan. Hanya Menerapkan hukum Allah SWT semata, menjaga akidah dan menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Menyatukan negeri kaum muslim dan menghilangkan batas nasionalisme yang selama ini menjadi penghalang antara negeri kaum muslim.
 
Sudah saatnya umat Islam bersatu kembali dan memperjuangkan syariat-Nya sebagaimana dulu Rasulullah SAW dan para sahabatnya berjuang mendakwahkan Risalah Islam di seluruh penjuru dunia yang hasilnya masih kita rasakan hingga saat ini. Menghapus air mata dan menyapu penderitaan seluruh kaum muslim di dunia adalah keniscayaan jika Islam diterapkan secara sempurna dalam Naungan Khilafah Islamiyyah.
 
Wallahu a’lam.
Editor : Dakta Administrator
Sumber : Alin FM - Praktisi Multimedia dan Penulis
- Dilihat 3662 Kali
Berita Terkait

0 Comments