Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 26/12/2019 13:23 WIB

Andai Perisai Umat Masih Ada, Uighur Tak Akan Nestapa

Ilustrasi muslim Uighur (BBC World)
Ilustrasi muslim Uighur (BBC World)
DAKTA.COM - Oleh: Irma Sari Rahayu, S.Pi
 
Berita tentang muslim Uighur kembali memanas. Setelah lama tak terdengar, mata dunia kembali dibuka melalui cuitan yang ditulis oleh pesepakbola Arsenal Mesut Ozil. Ozil menuliskan kesedihannya yang mendalam akan muslim Uighur dan diamnya umat muslim dunia. Aksi Ozil pun diikuti oleh beberapa atlet lain yang menyatakan keprihatinan mereka pada Uighur.
 
Berita Uighur tak kalah panas di Tanah Air. Sebuah artikel yang ditulis oleh media asing Wall Street Journal (WSJ) yang berjudul "How China Persuaded One Moslem Nation to Keep Silent on Xinjiang Camps." Dalam artikel tersebut WSJ menyebutkan bahwa China menggelontorkan sejumlah donasi dan program beasiswa kepada ormas Islam Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah ketika isu Uighur mencuat akhir tahun 2018 lalu (CNNIndonesia.com/19/12/2019).  
 
Isu Uighur juga kembali terdengar setelah adanya laporan dari kelompok HAM internasional yang menuding China menahan satu juta muslim Uighur dalam sejumlah penampungan layaknya kamp konsentrasi di Xinjiang.
 
Pemerintah China tidak lantas berdiam diri terhadap isu ini. Dilaporkan,  pemerintah Provinsi Otonomi Xinjiang menghancurkan sejumlah dokumen dan mengendalikan arus informasi terutama terkait etnis Uighur. Sikap ini diambil selepas surat kabar New York Times menurunkan laporan investigasi yang memaparkan dokumen berisi panduan menjalankan kamp penahanan khusus Uighur dan penggunaan perangkat teknologi untuk memburu seseorang (CNNIndonesia.com/16/12/2019).
 
Terkait dengan pemberitaan di Indonesia, Dubes China untuk Indonesia Xiao Qian menegaskan bahwa permasalahan Uighur bukan masalah agama,  tetapi masalah separatisme dan upaya pemerintah China dalam mengangani radikalisme dan terorisme.  Xiao Qian juga meyakinkan jika kondisi Xinjiang aman untuk dikunjungi (CNBCIndonesia.com/16/12/2019)
 
Duka Uighur Nestapa Umat Islam Dunia
 
Penderitaan muslim Uighur pernah mencuat akhir tahun 2018 silam.  Namun yang menarik, di akhir tahun 2019 ini penderitaan muslim Uighur menjadi isu panas yang melibatkan dua raksasa perdagangan dunia, yaitu China dan Amerika Serikat (AS). 
 
China dan beberapa pihak menilai, AS sengaja menggunakan isu kekejaman China terhadap muslim Uighur sebagai upaya menjegal dominasi China dalam perdagangan dunia. Sebagaimana yang diketahui, China ikut berperan dalam perang perdagangan internasional menyaingi AS.  
 
Tak hanya itu, upaya China dalam mengokohkan dominasinya terhadap negara lain diwujudkan juga dalam bentuk investasi asing, kerjasama bilateral hingga pinjaman luar negeri. Upaya-upaya inilah yang saat ini tengah dijalani antara Indonesia dan China. 
 
Sehingga wajar, AS melemparkan berita penderitaan muslim Uighur dan upaya pembungkaman terhadap ormas Islam di Indonesia, dengan harapan Indonesia melepaskan hubungan diplomatik dengan China.
 
Sesungguhnya, di luar permasalahan persaingan China dan AS, penderitaan muslim Uighur adalah penderitaan kaum muslim di seluruh dunia. Kekejaman yang dilakukan pemerintah China terhadap muslim Uighur dalam mempertahankan akidah mereka, sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dalih China bahwa apa yang mereka lakukan terhadap muslim Uighur adalah upaya menanggulangi radikalisme dan terorisme adalah sebuah kebohongan besar.
 
Mirisnya lagi, suara dunia atas nama HAM mendadak sunyi. Dunia pun bungkam atas tumpahnya darah kaum muslimin Uighur. Begitu pula para pemimpin negeri-negeri muslim, tak ada kata kecaman yang keluar dari lisan mereka. Bahkan ada negeri Islam yang mendukung aksi kekerasan terhadap saudaranya sendiri. Sungguh keji.
 
Sekat nasionalisme telah membekukan gerak negeri-negeri Islam dan membuat kelu lisan para pemimpinnya dari upaya menolong saudara seakidah mereka.
 
Bukankah Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
 
Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: "Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi).
 
Maka jelaslah, penderitaan muslim Uighur adalah penderitaan seluruh kaum muslimin di dunia dan wajib menolong mereka. Penderitaan muslim Uighur dan umat Islam lainnya terjadi karena hilangnya "junnah" atau perisai yang mampu melindungi kaum muslimin dari penderitaan.  
 
Menyerahkan urusan Uighur kepada PBB atau OKI hanyalah sia-sia saja. Penyelesaian Uighur harus diserahkan kepada institusi yang akan menjadi perisai tempat berlindung umat di belakangnya. Institusi ini pula yang akan membuat musuh-musuh Islam gemetar ketakutan. Kelak kehadirannya yang saat ini dirindu, akan membebaskan kaum muslimin di seluruh dunia dari nestapa. Insyaa Allah. **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Irma Sari Rahayu, S.Pi
- Dilihat 1912 Kali
Berita Terkait

0 Comments