Opini /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 26/12/2019 08:46 WIB

Untaian Iba Untuk Uighur

Muslim Uighur menjerit
Muslim Uighur menjerit
DAKTA.COM - Oleh: Salahudin Gaffar, Kordinator Tim Advokasi Masjid dan Mushalla Bekasi Raya, 
 
Dengan nama Allah Yang Maha Menggenggam Kematian dan Kehidupan. Assalamualaikum wr wb, wahai Kawan Kawan dan Tuan Tuan.
 
Saya menuliskan untaian kata ini menyapamu di tengah lelapnya kota Seribu Masjid, tanah kelahiran Para Tuan Guru.
 
Aku menyapamu, mungkin engkau yang sedang duduk disinggasana kekuasaan, atau yang sedang berada di dalam kamar istana yang mewah.
 
Atau, yang sedang menikmati transaksi dunia yang menjanjikan diri dan keturunanmu. Atau yang sedang menikmati kemewahan dunia 
 
Teruntuk kalian yang masih sanggup bernapas karena Karunia-Nya.
 
Kawan dan Tuan Tuan, Saya tahu berita itu sudah sampai di telingamu. 
 
Kabar dan berita mengatakan pemusnahan etnis suku dan agama, di Uighur.
 
Tetapi ... engkau tak peduli.
 
Mengapa hatimu tidak tergugah, apakah engkau telah bersekutu dengan syaitan? Atau karena makanan haram yang masuk ke dalam rongga perutmu dari pemberian syaitan? Saya bertanya.
 
Kenapa rasamu mati, apakah malumu telah engkau jual demi seonggokan pekerjaan? Tidakkah engkau bayangkan rasa nyeri dan pilu jika terjadi pada dirimu dan keluargamu?
 
Kenapa matamu tiba-tiba buta, apakah telah tertusuk oleh duri-duri kenikmatan harta yang kalian raih? Tidaklah kalian melihat darah dan mayat bergelimpangan disana?
 
Kenapa telingamu tiba-tiba tuli? Apakah karena bisikan kekuasaan dan rayuan jabatan? Tidakkah kalian dengar jeritan dan rintihan mereka atas kejahatan yang mereka alami.
 
Kenapa nuranimu tumpul, apakah karena harta haram hasil selingkuhmu dengan para pendukung Firaun?
 
Kenapa lidahmu kelu, apakah karena kalian telah dikutuk oleh sumpah jabatanmu?
 
Kawan dan Tuan Tuan, Saya bertanya tidak ada urusan dengan agamaku dan juga agamamu tapi ini soal hak makhluk di bumi ini memilih tentang jalan hidupnya yang diyakininya.
 
Tentang mahluk yang memiliki hak yang sama menjalankan takdirnya bernama hidup di setiap jengkal tanah milik Tuhannya.
 
Kawan dan Tuan Tuan, Saya bertanya soal kemanusian, dimanakah empatimu sebagai mahluk hidup.
 
Mengapa engkau tidak lihat semut semut itu menolong temannya yang talinya patah untuk dijadikan pembelajaran tentang makna kasih sayang.
 
Kawan dan Tuan Tuan, seharusnya bukan Saya yang bertanya, tapi mereka yang duduk di sana di gedung mewah itu, yang suaranya tak terdengar tapi fisiknya ada.
 
Kawan dan Tuan Tuan, jika engkau terus diam maka hakikat dirimu hanyalah mayat bahkan bangkai berjalan karena rasa dan nuranimu melayang.
 
Jika engkau diam dalam kepasrahan tak berdaya aku tak akan bertanya. Jika diammu di dalam doa maka itu cukup buat dirimu dan mereka.
 
Kawan dan Tuan Tuan, percuma pangkat dan jabatanmu, tidak berguna harta bendamu, tidak ada manfaat atribut gelar tokoh agamamu, tak ada arti gelar dari ummatmu (tuan guru, kiyai, pendeta, pastur), jika kalian tak peduli pada penderitaan mereka.
 
Kawan dan Tuan Tuan, Saya titip pertanyaan kepadamu tentang bangsaku, tolong tanyakan Apakah diaada? Tunjukan dan kabarkan padaku jika dia ada apa yang dia telah perbuat, karena saat aku mulai diajarkan sejarah, Saya mengetahui dari guru sejarahku bahwa bangsaku membenci dan melawan apapun bentuk penindasan dan penjajahan di atas muka bumi.
 
Akhirnya aku bertanya pada Saudara Seimanku, tahukan kalian ajaran ini?
 
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)
 
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Wahai Rabb Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami. Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10). 
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Salahudin Gaffar
- Dilihat 564 Kali
Berita Terkait

0 Comments