Opini /
Follow daktacom Like Like
Senin, 23/12/2019 09:23 WIB

Ketika Kapitalisme Merenggut Habitat Ular

Ilustrasi ular kobra. (Istockphoto/ Cherrybeans)
Ilustrasi ular kobra. (Istockphoto/ Cherrybeans)

DAKTA.COM - Oleh: Nur Purnama Indah Puspasari

 

Beberapa waktu belakangan ini hewan melata bernama ilmiah Naja alias ular kobra, agaknya sedang hits di kalangan warga. Di beberapa daerah muncul banyak laporan tentang ditemukannya sekumpulan telur maupun anak-anak ular kobra, bahkan ditemukan juga induk kobra dengan ukuran besar.

 

Tak pelak, fenomena ini membuat banyak warga resah. Tak main-main, bisa kobra ketika mengenai kita, bisa mematikan hanya dalam waktu beberapa detik saja, ketika tidak segera dilakukan penanganan yang tepat.

 

Selanjutnya terdapat beberapa daerah yang dilaporkan kedapatan ular kobra dengan jumlah yang tak bisa dibilang sedikit. Di Kembangan, Jakarta Barat misalnya, ditemukan 18 ekor anak kobra di kamar mandi seorang warga. Di mana kamar mandi tersebut terdapat pipa yang tersambung dengan sebuah gudang bekas kolam. (cnnindonesia, 15/12/2019)

 

Sejak 8 Desember 2019 di kecamatan Duren Sawit pun, kedapatan beberapa ekor ular kobra di rumah warga. Juga di beberapa daerah lainnya seperti di Depok, Jember, Surakarta sampai dengan Klaten pun dilaporkan hal yang sama tentang temuan hewan melata ini. (kompas.com, 13/12/2019, 14/12/2019).

 

Banyaknya laporan tentang kemunculan ular kobra di pemukiman warga ini tentu perlu mendapat perhatian serius dan penanganan segera oleh pihak yang berwenang. Tak kalah penting juga harus dicari penyebab mendasar mengapa ular-ular kobra tersebut seakan 'meneror' manusia, dengan muncul di lingkungan pemukiman warga.

 

Penanganan Dari Pemerintah

 

Sampai dengan saat ini, warga masih menantikan upaya signifikan dari pemerintah terkait fenomena banyaknya temuan ular kobra di pemukiman warga. Berdasarkan keterangan dari pakar penanganan gigitan hewan berbisa (toksinolog) sekaligus penasihat temporer WHO untuk gigitan ular, dr Tri Maharani, sampai saat ini kita belum memiliki antivenom king kobra.

 

Indonesia saat ini hanya memiliki serum Bio SAVE atau SABU (Serum Anti Bisa Ular) I produksi PT Bio Farma (Persero). Antivenom ini bisa menetralisir bisa ular tanah (agkistrodon rhodostoma), ular welang (bungarus fasciatus), dan ular kobra jawa (naja sputatrix). Kobra Jawa bukanlah king kobra (ophiophagus hannah), karena memang beda spesies.

 

Antivenom Bio SAVE itu tak bisa digunakan untuk menangkal bisa ular king kobra. Gigitan king kobra mengandung bisa neurotoksin (racun pelumpuh saraf) yang kuat. Tak hanya itu, bisa king kobra juga mengandung sitotoksin (merusak sel), kardiotoksin (menyerang jantung), dan hemotoksin (melumpuhkan sirkulasi darah).

 

Selain itu dr. Maharani pun menyatakan sudah berusaha menemui pemangku kepentingan terkait penanganan bisa ular ini, namun perhatian yang diharapkan belum didapat. (detiknews.com, 10/12/2019)

 

Dilansir dari republika.co.id, Kepala Dinkes Kota Bogor Rubaeah pun menyatakan bahwa Dinas Kesehatan (Dinkes) saat ini belum tanggap terhadap kondisi ini, karena belum menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).

 

Status KLB sendiri diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 949/MENKES/SK/VII/2004. KLB dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu. (republika.co.id, 17/12/2019).

 

Akar Masalah

 

Menganalisa dari berbagai laporan mengenai temuan adanya ular-ular kobra yang muncul di pemukiman warga, ahli herpetologi (ilmu tentang binatang reptil dan amfibi) dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy mengatakan, fenomena ular kobra yang ditemukan di pemukiman warga merupakan hal yang wajar. Apalagi hal itu terjadi di awal musim hujan, di mana sedang musim ular kobra menetas. Sebenarnya pun bukan hanya kobra, tapi juga jenis ular lainnya.

 

Namun, lebih lanjut Amir menjelaskan bahwa kobra kerap ditemukan di pemukiman warga lantaran habitatnya mulai terancam dan terkikis habis dengan hunian baru yang kian bermunculan. Kemudian, banyaknya tikus di perumahan juga memicu ular-ular datang untuk memangsanya. Selain itu, salah satu faktor hingga ular merajalela saat ini, disebabkan oleh jumlah predator alaminya yang sudah punah. (liputan6.com, 10/12/2019, 14/12/2019).

 

Maka benang merah yang dapat kita tarik mengenai penyebab mendasar atau akar masalah dari kemunculan ular-ular kobra ini, tak lain adalah akibat kerakusan manusia yang merenggut habitat dari hewan melata ini.

 

Manusia saat ini terus menerus berpikir dengan berbagai macam cara untuk mencari dan meraih keuntungan sebesar-besarnya. Salah satunya, yaitu dengan membangun hunian maupun fasilitas-fasilitas yang bersifat komersil, namun seringkali tanpa memperhatikan akibat yang timbul terhadap keseimbangan lingkungan dan ekosistem di sekitarnya.

 

Hutan dan rawa yang menjadi habitat alami hewan, termasuk hewan melata ini semakin hari berganti menjadi hunian manusia. Maka tak ayal, mereka pun meringsek masuk ke pemukiman warga. Selain mencari tempat perlindungan untuk dirinya dan telur-telurnya yang akan menetas, juga karena mangsa dari rantai makanan hewan melata ini juga berada di sekitar pemukiman warga.

 

Fenomena rakusnya manusia saat ini merupakan buah dari penerapan sistem dan cara pandang kehidupan yang diadopsi tiap individu, bahkan sampai pada level negara. Tak lain adalah cara pandang kapitalis (Kapitalisme), di mana setiap individu dijamin hak pribadinya untuk meraih kebahagiaan maupun keuntungan. Negara bahkan bertindak sebagai fasilitator bagi tiap individu untuk mewujudkannya.

 

Namun di sisi lain, Kapitalisme ini pun terbukti memandulkan kedudukan para intelektual (ilmuwan) untuk melakukan riset demi menghasilkan temuan-temuan, seperti misalnya serum anti bisa king kobra (antivenom) yang saat ini belum tersedia di Indonesia.

 

Karena dalam Kapitalisme, sebuah riset yang tentu saja membutuhkan support dana yang tidak sedikit, kelak haruslah bisa menghasilkan keuntungan. Ketika dianggap tidak menguntungkan, maka tak perlu ada riset. Meski dengan begitu, resiko dari nyawa manusia menjadi taruhannya.

 

Solusi Hakiki

 

Dengan terurainya akar masalah di atas, solusi yang diperlukan tentu bukan hanya selesai pada tindakan mengatasi. Tetapi pencegahan agar tidak terjadi kembali, itupun perlu dilakoni.

 

Ketika Kapitalisme terbukti gagal mengayomi, tentu kita perlu untuk menelisik apakah sistem ini masih layak diadopsi? Padahal ada sistem lain yang sempurna dan mampu memelihara, menjaga dan melindungi segenap penghuni bumi. Tanpa menimbulkan kerusakan ataupun ketakutan. Manusia terjaga, lingkungan terjaga, ekosistem juga terlindungi. Sistem itu tak lain adalah sistem Islam. Bukan yang lain. **

 

Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Nur Purnama Indah Puspasari
- Dilihat 876 Kali
Berita Terkait

0 Comments