Galeri Dakta /
Follow daktacom Like Like
Kamis, 19/12/2019 14:03 WIB

Menjadi Content Creator Beretika

Milenial Bicara Radio Dakta dengan tema Ngevlog Beretika.jpg
Milenial Bicara Radio Dakta dengan tema Ngevlog Beretika.jpg
BEKASI, DAKTA.COM - Profesi seorang YouTuber saat ini hampir digemari dan diinginkan oleh banyak orang terutama generasi milenial.
 
Pasalnya, dengan menjadi YouTuber maka seseorang bisa menunjukkan eksistensinya dalam sebuah video yang diunggah di YouTube.
 
Namun, menjadi seorang YouTuber tidak semudah yang dibayangkan hanya sekadar "ngoceh" di kamera, tetapi membutuhkan kreativitas dalam mencari konten yang bermanfaat bagi publik.
 
Vlogger Pitunov mengatakan seorang YouTuber harus mempunyai skill editing, teknik pengambilan gambar, dan ide konten yang menarik.
 
"Konten ini yang sebenarnya susah bagi semua YouTuber. Itulah mengapa YouTube mau membayar mahal hanya karena konten yang menarik untuk ditonton banyak orang," kata Pitunov dalam acara Milenial Bicara Radio Dakta, dengan tema 'Nge-Vlog Beretika' di Mega Bekasi Hypermall, Rabu (18/12).
 
Selain skill di atas, tentunya seorang YouTuber harus mempunyai kamera, microphone, tripod, laptop, dan software editing. Namun, saat ini banyak handphone yang sudah bisa menunjang agar bisa menjadi content creator
 
"Tips menjadi YouTuber itu coba membuat konten menarik, ikuti tranding, memberikan giveaway kepada subscribers, paling penting adalah konsisten dalam membuat video, kemudian perbanyak relasi, dan share video ke semua sosmed dan group WhatsApp," paparnya.
 
Ia menuturkan, mereka yang ingin memulai untuk menjadi content creator harus mementingkan unsur etika dan kebermanfaatannya bagi yang menonton.
 
"Saya cukup prihatin, karena sekarang ini yang sering trending itu sering tidak berfaedah. Makanya kalau buat konten itu yang sewajarnya saja," katanya.
 
 
Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria menambahkan, ketika memulai menjadi content creator jangan hanya karena untuk mendapatkan penghasilan tinggi dan terkenal.
 
"Buat dulu video yang nyaman dan jangan dulu berpikir mencari uang atau ingin mendapatkan subscribers banyak," ujarnya.
 
Menurutnya, media sosial itu tidak selalu penting bagi setiap orang karena sering kali menjadi ajang pamer. Namun, yang terpenting adalah belajar menjadi diri sendiri dan belajar hidup bersama.
 
"Selain itu, kita harus mempunya orientasi dan tujuan hidup, jadi tidak hanya sebatas fans saja kepada orang lain," kata Penulis Buku"Seni Mengelola Tim Media Sosial" itu.
 
Sementara itu, Co-Founder Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Aribowo Sasmito menerangkan, walaupun sekarang zamannya digital dan segala akses informasi dapat mudah didapat, tetapi harus tetap mengedepankan aspek kebenarannya.
 
"Jangan mudah percaya dengan foto, video, dan dokumen yang belum pasti kebenarannya," terangnya.
 
Untuk memastikan bahwa foto atau video yang didapat itu terjamin kebenarannya, maka harus memenuhi aspek 5W+1H. Sebab, tidak semua foto atau video yang dibumbui dengan narasi itu benar.
 
Apalagi, setiap orang mempunyai naluri yang bisa merasakan kalau ada suatu informasi yang datang apakah benar atau tidak benar keberadaannya. 
 
"Intinya, kalau menerima informasi jaga emosi, tahan jari, verifikasi sebelum dibagi," jelasnya. **
Editor : Asiyah Afiifah
Sumber : Radio Dakta
- Dilihat 1645 Kali
Berita Terkait

0 Comments